SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Universitas Brawijaya (UB) menggelar International Conference on Tropical Agroforestry in Indonesia (ICTAFI) 2026 di Malang, Jawa Timur, pada 23–25 September 2026. Konferensi internasional edisi kedua ini mempertemukan 169 peserta dari sembilan negara untuk membahas kesehatan tanah, agroforestri, ketahanan lanskap, perubahan iklim, hingga kesejahteraan masyarakat.
Mengangkat tema “Rooted Futures: Bridging Soil Wisdom, Agroforestry, and Regenerative Landscapes for Healthy People and Planet”, ICTAFI 2026 menjadi forum pertukaran pengetahuan antara akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, mahasiswa, serta pemangku kepentingan bidang lingkungan dan pertanian.
Agroforestri Dikaitkan dengan Kesehatan Tanah dan Ekosistem
Dekan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan UB, Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D., mengatakan agroforestri berada pada titik temu antara regenerasi tanah, ketahanan ekosistem, dan kesejahteraan manusia.
Menurutnya, ICTAFI 2026 menjadi ruang untuk membahas pemanfaatan pengetahuan mengenai tanah, keberagaman pohon dan tanaman, serta pengelolaan lahan regeneratif. Indonesia dinilai memiliki posisi penting dalam diskusi tersebut karena memiliki beragam praktik agroforestri tropis.
Konferensi juga mengangkat sejumlah perkembangan, mulai dari pemantauan kesehatan tanah, perancangan agroforestri secara partisipatif, inovasi adaptif terhadap perubahan iklim, hingga pendekatan biokultural dalam pemulihan lanskap.
Ketua Pelaksana ICTAFI 2026, Dr. Rika Ratna Sari, S.P., M.P., menegaskan agroforestri tidak sebatas menggabungkan pohon dan tanaman. Menurutnya, sistem tersebut berkaitan dengan proses ekologis, pengetahuan lokal, kebutuhan penghidupan, kelembagaan, hingga pasar.
169 Peserta dari Sembilan Negara Ikuti ICTAFI
ICTAFI 2026 diikuti peserta dari Indonesia, Malaysia, Jepang, India, Belanda, Belgia, Jerman, Prancis, dan Australia. Mereka berasal dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi nonpemerintah, industri, serta berbagai institusi profesional.
Program ilmiah menghadirkan 10 pembicara utama dari Eropa, Asia, dan Australia serta empat pembicara undangan yang mewakili empat tema konferensi. Sejumlah pemapar juga mengikuti kegiatan secara daring.
Empat tema utama yang dibahas mencakup regenerasi ekosistem; ketahanan terhadap perubahan iklim dan keanekaragaman hayati; masyarakat dan pengetahuan; serta tata kelola dan transformasi pasar.
Partisipasi mahasiswa turut mendapat ruang melalui kompetisi poster ilmiah dan fotografi. Lebih dari 60 mahasiswa dari Indonesia, India, dan Malaysia mengikuti kegiatan tersebut untuk menyampaikan gagasan sekaligus menggambarkan lanskap agroforestri melalui karya visual.
UB Dorong Riset Agroforestri Berdampak ke Masyarakat
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., mengatakan keberlanjutan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari cara manusia mengelola tanah dan lanskap. Ia menyebut UB Forest sebagai salah satu aset universitas yang mendukung penelitian dan pembelajaran terkait agroforestri serta hubungan masyarakat dengan lingkungan.
Menurut Widodo, tantangan perubahan iklim membutuhkan kerja sama lintas disiplin, institusi, dan negara. Karena itu, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan.
“Tanah yang sehat menghasilkan pangan yang sehat. Lanskap yang sehat menopang komunitas yang sehat,” ujar Widodo.
Penyelenggaraan ICTAFI 2026 juga menjadi momentum penghormatan bagi Prof. Kurniatun Hairiah yang memasuki masa purnatugas setelah sekitar empat dekade berkontribusi dalam pengembangan ilmu dan praktik agroforestri di Indonesia.
Melalui konferensi tersebut, UB mendorong pertukaran pengetahuan dan kolaborasi internasional untuk mengembangkan pendekatan agroforestri yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga menjaga keberlanjutan tanah, ekosistem, dan kehidupan masyarakat.
Konsep agroforestri sendiri berkaitan dengan pengelolaan lahan yang mengintegrasikan pepohonan dengan tanaman pertanian dan komponen lain. Pembahasan mengenai praktik tersebut juga berkembang dalam kajian agroforestri di berbagai wilayah tropis.














