Tri Sapta Budaya 2026, Merawat Tradisi dan Menguatkan Generasi Terhadap Seni Budaya

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang — Padhepokan Seni Mangun Dharma (PSMD) kembali menghadirkan ruang perjumpaan dan pewarisan seni budaya melalui gelaran Tri Sapta Budaya. Bukan sekadar pertunjukan seni, kegiatan ini menjadi penanda bagaimana proses belajar, berkarya, dan mewariskan seni budaya terus dihidupkan bersama oleh cantrik mentrik, para seniman, budayawan, keluarga, serta masyarakat pendukungnya.

Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pagi hingga menjelang tengah malam, mulai pukul 07.00 WIB hingga sekitar 23.30 WIB. Seluruh rangkaian dirancang sebagai satu kesatuan perjalanan budaya: dari penghormatan kepada leluhur, proses pembelajaran seni, hingga pertunjukan yang mempertemukan generasi muda dengan para pelaku seni tradisi.

Kegiatan pagi diawali dengan kirab menuju Punden Mbah Mangun Darmo, yang dilanjutkan dengan doa bersama, penerbangan balon, dan pemotongan tumpeng. Rangkaian ini menjadi bagian dari ungkapan syukur sekaligus penghormatan terhadap leluhur dan perjalanan Padhepokan Seni Mangun Dharma dalam merawat kesenian tradisi.

Rangkaian Kirab Simbol Penghormatan 

Setelah rangkaian di punden, kegiatan berlanjut dengan pagelaran wayang kulit anak yang melibatkan peserta pembelajaran dari kelas pedhalangan, karawitan, dan sindenan. Para cantrik tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi menjadi pelaku yang menunjukkan hasil proses belajar mereka.

Setelah jeda untuk pelaksanaan salat Jumat, kegiatan kembali berlangsung pada pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, sebelum kemudian dilanjutkan dengan rangkaian pertunjukan pada malam hari.

Memasuki malam, suasana pertunjukan dibuka dengan Tari Remo. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Pimpinan Padhepokan Seni Mangun Dharma, Ki Soleh Adi Pramono, sebagai simbol rasa syukur atas keberlangsungan proses pembelajaran dan perjalanan PSMD.

Tari Kelompok Mewarnai Rangkaian Acara

Panggung kemudian diisi oleh berbagai sajian tari kelompok, di antaranya Monel, Manggala, Pitik Walik, Cundik Ayu, Gambyong, dan sejumlah karya tari lainnya serta penampilan drama pendek Bahasa Inggris dari kelas Bahasa Inggris. Pertunjukan tersebut memperlihatkan keberagaman proses pembelajaran seni yang berlangsung di lingkungan Padhepokan Seni Mangun Dharma.

Baca Juga:  Selain Pulihkan Ekosistem, Ini Agenda di Balik Penutupan Gunung Bromo

Puncak acara ditandai dengan penampilan Wayang Topeng Malang lakon Sri Sedono dengan dhalang Ki Anwarudin. Pertunjukan ini menjadi perjumpaan antara generasi cantrik mentrik dengan salah satu bentuk kesenian tradisi yang menjadi bagian penting dari identitas budaya Malang Raya.

Yang hadir dalam kegiatan ini bukan terutama jajaran pejabat atau tamu-tamu protokoler, melainkan sejawat seniman dan budayawan Malang Raya, Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur Ki Suroso, sanggar-sanggar seni di sekitar PSMD, para wali cantrik mentrik, serta para cantrik mentrik sendiri.

Jejaring Pelaku Budaya Menjaga Tradisi

Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan seni tradisi tidak hanya ditopang oleh panggung dan pertunjukan, tetapi juga oleh jejaring para pelaku budaya yang terus menjaga hubungan, berbagi pengetahuan, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk tumbuh.

Selama hampir 17 jam, para cantrik mentrik mengikuti rangkaian kegiatan yang mempertemukan mereka dengan berbagai bentuk pengalaman kebudayaan: berjalan dalam kirab, mengikuti doa bersama, menyaksikan dan memainkan pertunjukan, belajar di balik panggung, hingga tampil di hadapan publik.

Dalam konteks inilah Tri Sapta Budaya menjadi lebih dari sekadar agenda pertunjukan tahunan. Ia menjadi ruang belajar yang mempertemukan tradisi, pendidikan, pertunjukan, dan komunitas dalam satu ekosistem.

Keberhasilan penyelenggaraan Tri Sapta Budaya 2026 juga tidak terlepas dari dukungan wali cantrik mentrik, yang menjadi sponsor utama dalam pagelaran tahun ini. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa proses pewarisan seni bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga seni atau para seniman, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga dan lingkungan terdekat para generasi penerus.

Baca Juga:  Museum Singhasari Jadi Sasaran Terasaintek Untuk Program Edukasi Budaya

“Yang paling penting dari kegiatan ini bukan hanya bagaimana pertunjukannya berjalan, tetapi bagaimana anak-anak mengalami seluruh prosesnya. Mereka sejak pagi sudah ikut kirab, mengikuti doa, belajar dan tampil, kemudian malam hari kembali berada di panggung. Dari situ mereka belajar bahwa seni dan budaya itu bukan sesuatu yang hanya ditonton, tetapi sesuatu yang harus dijalani,” ujar Ki Soleh Adi Pramono sebagai pimpinan PSMD.

Bagi Padhepokan Seni Mangun Dharma, keberadaan wali cantrik mentrik bukan sekadar sebagai orang tua yang mengantar anak belajar seni. Mereka menjadi bagian dari ekosistem yang ikut menjaga agar proses pendidikan dan pertunjukan seni dapat terus berlangsung.

Merawat Tradisi Bukan Pertahankan Kesenian Masa Lalu

Melalui Tri Sapta Budaya, PSMD kembali menegaskan bahwa merawat tradisi bukan berarti hanya mempertahankan bentuk kesenian masa lalu. Merawat tradisi berarti memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk mengalami, mempelajari, memainkan, dan akhirnya meneruskan kebudayaan tersebut.

Dari punden hingga panggung, dari doa hingga pertunjukan, dari para empu hingga para cantrik—Tri Sapta Budaya 2026 menjadi sebuah perjalanan bersama untuk merawat tradisi dan menguatkan generasi.

Pewarta : *Deni Robi