Kenali Jenis Gangguan Katup Jantung, Gejala, dan Penanganannya

Kondisi sesak napas saat menaiki tangga, tubuh cepat lelah, jantung berdebar, nyeri dada, hingga kaki bengkak sering kali menandakan bahwa katup jantung tidak berfungsi dengan baik. Sering kali, penyakit ini berkembang secara perlahan dan disalahartikan sebagai kelelahan biasa atau faktor usia.

Anatomi dan Fungsi Katup Jantung

Organ jantung manusia memiliki empat katup utama, yakni katup mitral, aortal, trikuspid, dan pulmonal. Seluruh katup ini berfungsi layaknya pintu satu arah yang memastikan aliran darah mengalir ke jalur yang benar.

Apabila katup mengalami penyempitan atau gagal menutup secara sempurna, aliran darah berisiko terhambat atau bahkan berbalik arah ke ruang jantung sebelumnya. Situasi abnormal tersebut pada akhirnya memaksa jantung bekerja jauh lebih keras.

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Vera Citra Setiawan Hoei, BMedSci., Sp.B.T.K.V., Subsp.JD(K) memaparkan risiko jangka panjang dari masalah ini.

“Penyakit katup jantung terjadi ketika katup menyempit atau tidak menutup sempurna, sehingga aliran darah terganggu dan jantung bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, bisa terjadi pembesaran jantung, gangguan irama, hingga penurunan fungsi pompa. Karena gejalanya muncul perlahan, pemeriksaan penting untuk menilai kerusakan dan menentukan penanganan yang tepat untuk pasien,” jelas dr. Vera.

3 Jenis Utama Gangguan Katup Jantung

Secara umum, penyakit katup jantung diklasifikasikan ke dalam tiga jenis utama. Berikut adalah pembagian jenisnya:

BACA JUGA  Inginkan Masa Depan Kota Malang Lebih Baik, Relawan Gerak Rindu Pemimpin yang Bersih dan Jujur

Stenosis (Penyempitan): Suatu kondisi saat katup tidak mampu terbuka secara optimal.

Regurgitasi (Kebocoran): Keadaan ketika katup gagal menutup secara rapat.

Kelainan Bawaan: Bentuk katup yang memang sudah tidak normal sejak lahir.

6 Gejala Gangguan Katup Jantung yang Perlu Diwaspadai

Permasalahan katup ini mampu memicu pembesaran rongga jantung sekaligus menaikkan risiko pembentukan bekuan darah. Masyarakat diimbau untuk segera mewaspadai sejumlah keluhan fisik berikut:

Sesak napas saat beraktivitas atau ketika sedang berbaring.

Stamina yang menurun drastis dan tubuh mudah lelah.

Jantung berdebar-debar atau berdetak tidak teratur.

Rasa nyeri atau tertekan di bagian dada.

Sering merasa pusing, hampir pingsan, ataupun pingsan.

Terjadinya pembengkakan pada area kaki, pergelangan kaki, hingga perut.

Pada beberapa pasien dengan kondisi berat, keluhan yang dirasakan terkadang tergolong ringan karena tubuh telah beradaptasi secara bertahap.

Pemeriksaan dan Pilihan Penanganan Medis

Tindakan ekokardiografi atau USG jantung menjadi pemeriksaan utama yang direkomendasikan untuk mendeteksi penyakit ini. Tergantung pada kondisi pasien, tes tersebut dapat didukung dengan EKG, rontgen dada, tes latih jantung, CT Scan, MRI jantung, ataupun kateterisasi.

Kabar baiknya, tidak semua pasien yang terdiagnosis harus langsung menjalani tindakan operasi. Gangguan yang masih ringan umumnya cukup dipantau lewat kontrol medis rutin serta pemberian obat-obatan khusus.

“Penanganan ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan katup, gejala, fungsi pompa jantung, dan kondisi pasien. Pada kasus berat, tindakan dapat berupa pelebaran katup dengan balon, perbaikan atau penggantian katup, bedah minimal invasif, maupun TAVI untuk pasien tertentu,” jelas dr. Vera.

BACA JUGA  Rahasia Lionel Messi Tetap Bugar di Usia 39 Tahun, Pantang Gula dan Rutin Minum Yerba Mate

Fasilitas Heart & Vascular Center di Bethsaida Hospital Gading Serpong hadir menyediakan layanan terintegrasi untuk menjawab masalah ini. Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Margareth Aryani Santoso, MARS menegaskan komitmen Bethsaida Healthcare dalam memberikan penanganan medis yang optimal bagi para pasien.

“Penanganan penyakit katup jantung membutuhkan ketepatan diagnosis, kolaborasi tim multidisiplin, serta kesiapan fasilitas pada setiap tahap perawatan. Melalui Heart & Vascular Center, kami berupaya menghadirkan layanan yang terintegrasi, mulai dari pemeriksaan, penentuan terapi, tindakan intervensi atau bedah, hingga rehabilitasi. Tujuannya bukan hanya menangani kelainan katup, tetapi juga membantu mempertahankan fungsi jantung dan meningkatkan kualitas hidup pasien,” tutur dr. Margareth.

Iklan
Iklan