BRIN: Ganti Plastik dengan Kertas Tak Cukup Atasi Masalah Sampah

Ilustrasi sampah kemasan sekali pakai yang menjadi salah satu persoalan dalam pengelolaan lingkungan. (Foto: Ilustrasi/AI)

SUARAMALANG.COM, JAKARTA – Persoalan sampah dari kemasan sekali pakai tidak cukup diselesaikan dengan mengganti plastik menggunakan kertas. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai akar masalahnya berada pada sistem produksi dan konsumsi yang masih bergantung pada pola sekali pakai.

Kemasan fleksibel seperti sachet kopi, bungkus mi instan, plastik makanan ringan, hingga kemasan sampo sekali pakai menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Namun, setelah digunakan, sebagian kemasan tersebut sulit dikumpulkan dan diproses kembali.

Kemasan Kecil Berakhir di Sungai hingga Laut

Profesor Riset BRIN Muhammad Reza Cordova mengatakan persoalan kemasan tidak berakhir ketika sampah dibuang ke tempat penampungan.

“Masalah kemasan tidak pernah selesai di tempat sampah. Ia hanya berpindah dari ruang yang terlihat ke ruang yang kita abaikan, dan pada akhirnya kembali kepada kita dalam bentuk pencemaran lingkungan,” ujar Reza.

Alur tersebut dapat berlangsung dari rumah menuju tempat penampungan sampah. Sebagian sampah kemudian terbawa angin atau air, masuk ke selokan, mengalir ke sungai, hingga akhirnya mencapai laut.

Persoalan semakin rumit karena kemasan fleksibel memiliki nilai ekonomi yang rendah. Bentuknya yang ringan dan sulit diproses membuat jenis sampah tersebut kurang menarik untuk dikumpulkan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan perilaku individu. Sistem produksi, konsumsi, dan pengelolaan sampah juga menentukan bagaimana sebuah kemasan berakhir setelah digunakan.

Baca Juga:  BI Buka Penukaran Uang Baru Tahap 2 Lebaran 2026 via PINTAR BI

Ganti Plastik dengan Kertas Bukan Solusi Utama

Salah satu respons yang muncul terhadap persoalan sampah plastik adalah menggantinya dengan bahan lain, terutama kertas. Namun, BRIN mengingatkan bahwa perubahan bahan tidak otomatis menghilangkan persoalan sampah.

“Mengganti plastik dengan kertas bukanlah solusi utama. Selama pola kita masih sekali pakai, bahan apa pun akan tetap berakhir sebagai sampah dalam waktu singkat,” jelas Reza.

Kertas memang memiliki potensi untuk digunakan sebagai bagian dari solusi. Namun, penggunaannya tetap perlu mempertimbangkan proses produksi, kebutuhan sumber daya, kemampuan daur ulang, serta sumber bahan yang digunakan.

Menurut Reza, persoalan utama bukan terletak pada pilihan antara plastik atau kertas, melainkan bagaimana sistem kemasan dirancang sejak awal.

“Kunci dari persoalan ini bukan pada bahan, tetapi pada sistem. Selama kita belum mengubah cara produksi dan konsumsi, maka kita hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” tegasnya.

BRIN Dorong Pengurangan dan Penggunaan Ulang

BRIN mendorong pengurangan ketergantungan terhadap kemasan sekali pakai. Produk, menurut materi BRIN, dapat dirancang agar lebih efisien dan tidak menghasilkan limbah secara berlebihan.

Penggunaan ulang juga dinilai penting. Sistem isi ulang yang selama ini belum menjadi arus utama dapat dikembangkan untuk memperpanjang siklus penggunaan produk sekaligus mengurangi jumlah limbah.

Inovasi material tetap diperlukan, termasuk pengembangan kertas yang benar-benar dapat didaur ulang dan berasal dari sumber yang bertanggung jawab. Namun, inovasi tersebut membutuhkan dukungan sistem agar dapat berjalan.

Baca Juga:  Bisnis Hospitality dan F&B Jadi Fokus Utama BMU Dalam Kembangkan Usaha di Tahun 2026

Pemerintah memiliki peran melalui kebijakan, insentif bagi industri, standar yang jelas, serta infrastruktur pengelolaan sampah. Pada saat yang sama, masyarakat turut menentukan arah produksi melalui pilihan konsumsi sehari-hari.

Selama permintaan terhadap kemasan sekali pakai tetap tinggi, produksi kemasan tersebut akan terus berjalan. Sebaliknya, perubahan pola konsumsi dapat mendorong industri menyesuaikan produk dan sistem kemasannya.

Reza menilai perubahan tidak dapat berlangsung secara instan. Namun, penundaan juga berpotensi membuat jumlah kemasan sekali pakai terus bertambah.

Pada akhirnya, persoalan kemasan bukan sekadar memilih plastik atau kertas. Tantangannya adalah membangun sistem yang menggeser pola ambil, pakai, buang menuju penggunaan yang lebih berkelanjutan.

Informasi umum mengenai sampah dapat membantu pembaca memahami persoalan limbah dan pengelolaannya dalam konteks yang lebih luas.