SUARAMALANG.COM, Trenggalek–Universitas Brawijaya (UB) bersama Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terus memperkuat upaya pelestarian ekosistem pesisir melalui konservasi penyu di Pantai Taman Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul. Upaya tersebut ditandai dengan pelepasan sekitar 1.300 tukik ke laut pada Kamis (19/8/2026).
Pelepasan tukik menjadi salah satu rangkaian kegiatan konservasi yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, hingga pihak lain yang memiliki perhatian terhadap kelestarian lingkungan.
Aksi pelepasan tukik ini sekaligus menandai pengembangan riset berbasis sains melalui pembangunan Living Laboratory (Laboratorium Hidup) biodiversitas pesisir di kawasan tersebut.
Rektor UB : Komitmen Melestarikan Ekosistem
Rektor UB Prof. Widodo menyampaikan bahwa keberadaan Living Laboratory menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan alam terbuka guna mendukung masyarakat dan pemerintah daerah dalam menjaga ekosistem.
“Ke depan, kegiatan ini terus ditingkatkan melalui pembentukan Living Laboratory, khususnya yang berfokus pada keanekaragaman hayati pesisir,” kata Prof. Widodo.
Pantai Taman Kili-Kili dipilih karena merupakan lokasi pendaratan penyu yang konsisten bertelur pada periode April hingga September.
Kawasan ini dinilai strategis untuk riset keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Ketua Pelaksana Dr. Fuad menyatakan bahwa pendampingan UB bersama Pemkab Trenggalek dan masyarakat lokal di Taman Kili-Kili telah berlangsung sejak 2010. Keterlibatan akademisi meliputi praktik kerja lapangan, penelitian multidisiplin, hingga penyiapan sarana laboratorium terbuka.
“Tujuan akhirnya melestarikan biodiversitas di sana. Bukan hanya penyu, tetapi juga biodiversitas lainnya,” ujar Fuad.
Konservasi Merubah Pola Pikir Warga
Sementara itu, Perwakilan Pusat Studi Pesisir dan Kelautan FPIK UB Zulkisam Pramudia menjelaskan bahwa seluruh tukik yang dilepas telah melalui pemeriksaan fisik dan pergerakan morfologi untuk memastikan kondisi kesehatan serta kelengkapannya.
Zulkisam menambahkan, program pendampingan konservasi ini berhasil mengubah pola pikir warga lokal, dari yang semula mengonsumsi telur penyu menjadi kelompok masyarakat pelindung satwa.
Berdasarkan keterangan Zulkisam, sebelum adanya pendampingan konservasi, telur dan penyu yang mendarat di kawasan tersebut masih dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk konsumsi.
Kondisi tersebut kemudian perlahan berubah setelah dilakukan edukasi mengenai status penyu sebagai satwa yang perlu dilindungi dan pentingnya menjaga keberlangsungan populasinya.
Menjaga Konservasi, Penyelamatan dan Penetasan
Pendampingan tersebut kemudian mendorong terbentuknya kelompok masyarakat yang terlibat dalam kegiatan konservasi. Masyarakat tidak hanya berperan dalam menjaga kawasan, juga terlibat dalam proses penyelamatan dan penetasan telur penyu.
Konservasi tidak bisa hanya melihat aspek lingkungan tanpa memperhatikan ekonomi.
Zulkisam menambahkan, potensi ke depan dikembangkan melalui ekowisata, edukasi, UMKM, dan produk kreatif pesisir agar masyarakat mendapat manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
“Pengembangan kawasan riset terbuka ini diharapkan terus mendapat dukungan kebijakan dan anggaran dari Pemkab Trenggalek, sehingga Taman Kili-Kili mampu menjadi pusat pembelajaran biodiversitas pesisir yang memadukan kepentingan ekologis, sains, dan kesejahteraan warga lokal,” katanya.
Pewarta: *RST/ MS Alkatiri
















