SUARAMALANG.COM, Kota Malang— Magister Sosiologi, Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menggelar Diskusi Publik Sosiologi Pembangunan dengan tema “Analisa Konflik-Konflik di Perkotaan”, Sabtu lalu (22/8). Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk mempertajam perspektif sosiologi dengan realitas konflik yang berkembang di tengah perubahan dan pembangunan kawasan perkotaan.
Diskusi menghadirkan narasumber Dr. Dhanny S. Sutopo, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya. Diskusi dipandu oleh Rachmad K Dwi Susilo, M.A., Ph.D., Kaprodi Magister Sosiologi UMM, sebagai pemantik diskusi.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta. 30 guru-guru yang tergabung dalam MGMP Sosiologi se-Malang Raya dengan keterwakilan dari Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Selain para guru, diskusi juga diikuti mahasiswa UMM.
Kehadiran guru-guru Sosiologi dalam diskusi publik ini menjadi kontribusi penting dalam ruang dialog antara pendidikan tinggi dan pendidikan menengah.
Berbagai persoalan sosial yang dibahas dalam perspektif akademik perguruan tinggi dapat dikaitkan dengan pembelajaran Sosiologi di sekolah.Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi.
Peserta aktif menyampaikan pertanyaan, memberikan tanggapan, dan mengaitkan isu konflik perkotaan dengan berbagai fenomena sosial yang berkembang di lingkungan masing-masing.
Rachmad K.Dwi Susilo menyatakan bahwa kita bebas dengan pendapat kita masing-masing, tetapi sebagai pengkaji sosiologi kita harus memahami secara kronologis studi-studi yang berkembang dalam sosiologi, apakah yang dinyatakan Georg Simmel, Mahdzab Chicago sampai muncul aliran Neo-Marxist dalam studi Sosiologi Perkotaan.
Dalam pemaparannya, Dr. Dhanny S. Sutopo mengajak peserta untuk melihat konflik perkotaan secara lebih kritis dan sosiologis. Konflik perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika masyarakat yang muncul ketika terdapat perbedaan kepentingan, distribusi sumber daya yang tidak seimbang, maupun perubahan sosial yang mempertemukan berbagai kelompok dengan kepentingan berbeda.
Perspektif tersebut menjadi relevan bagi para guru Sosiologi karena persoalan konflik dan pembangunan merupakan bagian yang dekat dengan kehidupan sosial peserta didik.
Diskusi semacam ini dapat menjadi ruang pengayaan wawasan bagi guru sekaligus memperkuat kemampuan untuk membaca fenomena sosial secara kontekstual.
Rachmad K.Dwi Susilo, MA, Ph.D menyatakan bahwa keterlibatan MGMP Sosiologi se-Malang Raya menunjukkan pentingnya membangun jejaring akademik yang tidak berhenti di lingkungan perguruan tinggi.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas guru menjadi salah satu ruang strategis untuk mempertemukan perkembangan pemikiran sosiologi dengan praktik pendidikan di sekolah. Pada diskusi publik kali ini Sosiologi Perkotaan (Urban Sociology) sebagai ruhnya.
Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa diskusi mengenai pembangunan tidak hanya menjadi ranah akademisi dan mahasiswa. Guru sebagai bagian dari masyarakat pendidikan memiliki posisi penting dalam membangun kemampuan generasi muda untuk memahami perubahan sosial, membaca konflik, serta melihat berbagai persoalan pembangunan secara kritis.
Melalui Diskusi Publik Sosiologi Pembangunan, Magister Sosiologi UMM terus mendorong terbentuknya ruang akademik yang terbuka, dialogis, dan relevan dengan persoalan masyarakat.
Antusiasme MGMP Sosiologi se-Malang Raya dan mahasiswa UMM menjadi gambaran bahwa kebutuhan terhadap ruang dialog sosiologis semakin kuat, terutama untuk memahami perubahan masyarakat perkotaan yang berlangsung semakin kompleks.
Pewarta: *MS Alkatiri
















