SUARAMALANG.COM — Nama Krakatau tidak hanya merujuk pada satu letusan besar pada 1883. Gunung api di Selat Sunda ini memiliki sejarah erupsi panjang yang membentuk lanskap kawasan tersebut.
Catatan Global Volcanism Program Smithsonian mencatat 57 periode erupsi Krakatau yang terkonfirmasi. Catatan itu mencakup aktivitas Krakatau sebelum 1883 hingga rangkaian erupsi Anak Krakatau pada era modern.
Jejak Letusan Krakatau Sebelum 1883
Sejarah geologi Krakatau bahkan jauh lebih tua daripada catatan manusia modern. Peneliti menduga letusan besar sekitar 416 atau 535 Masehi pernah membentuk kaldera besar di kawasan tersebut.
Namun, Badan Geologi menempatkan tanggal letusan purba itu sebagai dugaan karena catatan sejarahnya sangat terbatas. Sejumlah kajian juga mencatat aktivitas Krakatau pada beberapa abad sebelum letusan 1883.
Data Global Volcanism Program mencatat letusan terkonfirmasi pada 1530, kemudian aktivitas Perbuwatan pada 1680 hingga 1681. Krakatau kembali menunjukkan letusan pada 1684 dengan skala VEI 3.
Badan Geologi mencatat letusan 1680 berlangsung pada kerucut Perbuwatan. Setelah periode tersebut, Krakatau relatif tenang selama sekitar dua abad sebelum kembali bergolak pada 1883.
1883, Letusan Paling Mematikan
Krakatau mulai menunjukkan letusan pada 20 Mei 1883. Aktivitas kemudian meningkat hingga mencapai puncaknya pada 26-28 Agustus 1883.
Pada fase klimaks, Krakatau mengalami letusan dengan kekuatan VEI 6. Ledakan dan runtuhan kaldera menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau serta menghasilkan tsunami besar.
USGS mencatat lebih dari 36.000 orang meninggal akibat rangkaian bencana tersebut. Data historis yang digunakan Badan Geologi mencatat angka lebih rinci, yakni 36.417 korban jiwa.
Korban terbanyak bukan akibat lontaran material vulkanik secara langsung. Tsunami menjadi penyebab utama kematian setelah runtuhan dan aktivitas erupsi mengganggu perairan Selat Sunda.
Dahsyatnya erupsi juga terasa jauh dari pusat letusan. Material vulkanik mencapai jumlah sangat besar, sementara gelombang tsunami menyapu pesisir Jawa dan Sumatra.
Anak Krakatau Lahir dan Terus Meletus
Setelah Krakatau 1883 runtuh, gunung api baru tumbuh dari kawasan kaldera tersebut. Anak Krakatau mulai muncul ke permukaan pada 29 Desember 1927.
Sejak kemunculannya, Anak Krakatau tidak hanya mengalami satu atau dua erupsi. Smithsonian mencatat lebih dari 40 episode erupsi sebelum bencana 2018.
Rangkaian aktivitas itu berlangsung sejak 1927 dan muncul dalam berbagai periode. Catatan GVP antara lain merekam erupsi pada 1931-1932, 1932-1934, 1935, 1936, 1937, 1938-1940, dan 1941.
Aktivitas kembali muncul pada berbagai periode setelah itu, termasuk 1972-1973, 1975, dan sejumlah episode berikutnya. Pola tersebut menunjukkan Anak Krakatau memang memiliki karakter gunung api yang aktif dan berulang.
2018, Tragedi Kedua Setelah 1883
Episode paling mematikan setelah 1883 terjadi pada 22 Desember 2018. Erupsi Anak Krakatau memicu longsoran sebagian tubuh gunung yang kemudian menghasilkan tsunami Selat Sunda.
Katalog Tsunami Indonesia mencatat 437 orang meninggal, 14.059 orang terluka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal. Gelombang tsunami juga mencapai sekitar 13 meter di pesisir Banten dan Lampung.
Peristiwa 2018 juga mengubah bentuk Anak Krakatau secara drastis. Smithsonian mencatat longsoran tersebut menghancurkan sebagian besar bangunan gunung yang sebelumnya mencapai sekitar 338 meter.
Erupsi Belum Berakhir
Aktivitas Anak Krakatau kembali berlangsung setelah tragedi tersebut. Smithsonian mencatat periode erupsi baru sejak 25 Mei 2021, kemudian berlanjut melalui sejumlah episode pada 2022 dan 2023.
Badan Geologi juga mencatat aktivitas berenergi rendah setelah 2018 hingga Desember 2023. Aktivitas tersebut kembali muncul pada Juli 2026 melalui dua erupsi pada 2 dan 3 Juli.
Pada 5 September 2026, Badan Geologi kembali melaporkan fenomena erupsi menerus Anak Krakatau. Riwayat tersebut memperlihatkan satu pola penting: Krakatau tidak benar-benar berhenti, melainkan terus membangun siklus aktivitas baru.
Dengan demikian, 1883 tetap menjadi erupsi paling parah dan paling mematikan dalam sejarah Krakatau yang terdokumentasi. Sementara itu, Anak Krakatau telah mengalami puluhan periode erupsi sejak 1927 dan tetap menjadi gunung api aktif hingga sekarang.
Sejarah itu sekaligus menjelaskan mengapa setiap peningkatan aktivitas Anak Krakatau selalu mendapat perhatian besar. Ancaman tidak hanya berasal dari abu dan lava, tetapi juga kemungkinan runtuhan tubuh gunung yang dapat mengganggu perairan Selat Sunda.














