Berita  

Badak Putih Utara Hampir Punah, Ilmuwan Cari Jalan Lewat IVF

SUARAMALANG.COM, Mancanegera – Bayangkan sebuah spesies yang masih memiliki tubuh, tetapi hampir kehilangan masa depannya. Kondisi itulah yang kini dihadapi badak putih utara di Afrika.

Di dunia hanya tersisa dua ekor badak putih utara. Keduanya betina dan sudah berada dalam pengawasan ketat di Kenya.

Persoalannya bukan sekadar jumlah yang sangat sedikit. Tidak ada lagi pejantan yang memungkinkan kedua badak tersebut menghasilkan keturunan secara alami.

Situasi itu membuat ilmuwan mencari jalan yang tidak tersedia dalam reproduksi satwa liar biasa. Mereka mencoba memanfaatkan teknologi reproduksi manusia untuk mempertahankan spesies tersebut.

Dari Kepunahan ke Ruang Laboratorium

Tim internasional BioRescue mengembangkan teknik pembuahan berbantu untuk badak. Target akhirnya bukan sekadar menghasilkan satu anak, tetapi membuka kembali peluang keberlangsungan badak putih utara.

Para peneliti tidak langsung mempertaruhkan embrio badak putih utara yang sangat berharga. Mereka lebih dulu menggunakan badak putih selatan sebagai model penelitian.

Pilihan tersebut memiliki alasan kuat. Badak putih selatan masih memiliki populasi jauh lebih besar dan mempunyai hubungan kekerabatan dekat dengan badak putih utara.

Para ilmuwan kemudian menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Mereka harus mengambil sel telur dari hewan berbobot sekitar dua ton dan mengembangkan embrio di luar tubuhnya.

Setelah itu, mereka harus menemukan cara memasukkan embrio ke saluran reproduksi badak. Jarak organ reproduksi tersebut membuat proses transfer embrio menjadi tantangan tersendiri.

Penelitian akhirnya menghasilkan kehamilan melalui teknik in vitro fertilization atau IVF. Keberhasilan itu menjadi bukti penting bahwa teknologi tersebut dapat bekerja pada badak.

Susanne Holtze dari Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research menjadi salah satu ilmuwan dalam proyek tersebut. Ia menilai keberhasilan transfer embrio membuka tahap baru bagi penyelamatan badak putih utara.

“Untuk mencapai keberhasilan transfer embrio pertama pada badak adalah sebuah langkah besar,” kata Holtze.

Keberhasilan yang Berakhir Tragis

Uji coba tersebut tidak berakhir dengan kelahiran. Induk pengganti justru mati akibat infeksi bakteri ketika kehamilannya memasuki hari ke-70.

Baca Juga:  Harga Beras Berbeda di Setiap Daerah, Produksi Melimpah Tak Selalu Membuat Harga Murah

Kematian itu tidak menghapus keberhasilan penelitian. Pemeriksaan menunjukkan janin di dalam rahim berkembang dengan sangat baik.

Janin jantan tersebut memiliki panjang sekitar 6,5 sentimeter. Peneliti memperkirakan peluangnya untuk lahir hidup mencapai 95 persen jika induknya tetap bertahan.

Temuan itu memberikan pelajaran penting bagi tim. Mereka kini memiliki bukti bahwa embrio hasil IVF dapat berkembang menjadi kehamilan pada badak.

Dengan bukti tersebut, teknologi yang awalnya diuji pada badak putih selatan memiliki kemungkinan diterapkan pada kerabatnya yang hampir punah.

Embrio Berharga Menunggu Induk Pengganti

BioRescue sudah memiliki persediaan embrio badak putih utara. Sekitar 30 embrio tersimpan dalam nitrogen cair di fasilitas penelitian di Jerman dan Italia.

Materi tersebut berasal dari Fatu, salah satu dari dua badak putih utara yang masih hidup. Para ilmuwan membuahinya menggunakan sperma pejantan yang dikumpulkan sebelum hewan tersebut mati.

Namun, Fatu dan Najin tidak dapat menjalani kehamilan. Faktor usia dan kondisi kesehatan membuat ilmuwan harus mencari tubuh lain sebagai tempat perkembangan embrio.

Di sinilah badak putih selatan kembali memainkan peran penting. Subspesies tersebut diproyeksikan menjadi induk pengganti untuk embrio badak putih utara.

Strategi itu merupakan eksperimen besar dalam konservasi. Ilmuwan belum pernah sebelumnya melakukan transfer embrio dari satu subspesies ke subspesies kerabatnya.

Prof Thomas Hildebrandt dari BioRescue melihat hubungan kekerabatan tersebut sebagai keuntungan. Struktur biologis kedua subspesies relatif dekat sehingga peluang keberhasilan transfer embrio menjadi lebih terbuka.

“Peta internal mereka hampir sama,” ujar Hildebrandt.

Satu Anak Tidak Cukup

Jika eksperimen berhasil, persoalan badak putih utara belum selesai. Kelahiran beberapa anak tidak otomatis membuat spesies tersebut kembali aman.

Keragaman genetik menjadi persoalan besar. Populasi yang terlalu kecil dapat menghadapi risiko perkawinan sekerabat dan kehilangan kemampuan beradaptasi.

Karena itu, BioRescue tidak berhenti pada embrio yang sudah tersedia. Peneliti juga mengembangkan teknologi berbasis sel induk untuk memperbanyak sumber materi genetik.

Baca Juga:  KPK Ungkap 8 Celah Program MBG, Rawan Korupsi dan Minim Pengawasan

Target penelitian tersebut jauh lebih ambisius. Ilmuwan ingin menghasilkan sel telur dan sperma badak dari sel induk.

Jika berhasil, metode tersebut dapat memperluas pilihan genetik dalam program reproduksi. Teknologi itu juga berpotensi menjadi bagian penting dari upaya membangun kembali populasi badak putih utara.

Namun, semua tahap tersebut masih membutuhkan penelitian panjang. Ilmuwan harus membuktikan keamanan, keberhasilan reproduksi, serta kemampuan menghasilkan keturunan yang sehat.

Ketika Teknologi Menjadi Bentuk Tanggung Jawab

Upaya menyelamatkan badak putih utara juga memunculkan pertanyaan tentang prioritas konservasi. Sebagian ahli menilai sumber daya sebaiknya diarahkan kepada spesies yang peluang pemulihannya lebih besar.

BioRescue mengambil posisi berbeda. Mereka melihat kepunahan badak putih utara bukan semata-mata akibat proses alam.

Perburuan ilegal menjadi salah satu faktor utama yang menghancurkan populasinya. Permintaan terhadap cula badak mendorong tekanan besar terhadap spesies tersebut selama bertahun-tahun.

Jan Stejskal, koordinator BioRescue, menilai manusia memiliki tanggung jawab terhadap kondisi tersebut.

“Kita bertanggung jawab,” kata Stejskal.

Pendekatan itu membuat penyelamatan badak putih utara memiliki makna lebih luas. Ilmu pengetahuan kini berusaha memperbaiki kerusakan yang sebelumnya terjadi akibat aktivitas manusia.

Badak putih utara memang belum kembali dari ambang kepunahan. Namun, keberadaan embrio, teknologi IVF, dan penelitian sel induk memberikan satu hal yang sebelumnya hampir hilang: peluang.

Bagi spesies yang hanya menyisakan dua betina, peluang sekecil apa pun kini memiliki arti besar.