SUARAMALANG.COM, WONOGIRI – Air Waduk Gajah Mungkur kembali surut pada musim kemarau September 2026. Bersamaan dengan itu, sejumlah nisan lama yang selama puluhan tahun berada di bawah permukaan air kembali terlihat.
Fenomena ini bukan sekadar kemunculan makam di dasar waduk. Nisan-nisan tersebut menjadi penanda bahwa kawasan yang kini menjadi perairan Waduk Gajah Mungkur pernah menjadi tempat tinggal warga.
Sejumlah makam lama kembali terlihat di wilayah Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri. Warga menyebut sebagian nisan mulai tampak setelah permukaan air waduk turun dalam beberapa hari terakhir.
“Udah beberapa hari ini kelihatan, karena airnya surut. Tapi ini belum terlihat semua, baru sebagian aja, masih banyak yang di dalam air,” kata warga Wuryantoro, Karni, kepada detikJateng, Rabu (9/9/2026).
Bukan Sekadar Makam yang Muncul
Kemunculan makam tersebut sebenarnya merupakan fenomena tahunan. Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari menjelaskan, makam-makam lama biasanya mulai terlihat ketika debit air waduk turun pada musim kemarau.
Artinya, air yang surut bukan hanya membuka permukaan tanah. Kondisi itu juga memperlihatkan kembali sebagian jejak kehidupan masyarakat sebelum kawasan tersebut berubah menjadi waduk.
Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Wonogiri, Dennys Pradita, pernah menjelaskan bahwa kawasan makam tersebut dahulu merupakan permukiman warga.
Menurut Dennys, warga meninggalkan kawasan itu pada akhir 1970-an melalui proses bedol desa untuk pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Karena itu, istilah “makam kuno” perlu dipahami secara hati-hati.
“Jadi bukan makam kuno banget sebenarnya. Kisaran 1970-an itu,” kata Dennys dalam laporan detikJateng pada September 2023.
Di Bawah Waduk Ada Jejak Permukiman
Sejarah Waduk Gajah Mungkur membuat fenomena tersebut memiliki cerita yang jauh lebih panjang. Pembangunan waduk mengubah kawasan permukiman, lahan pertanian, jalan, sungai, hingga fasilitas umum menjadi kawasan genangan.
Detik mencatat, pembangunan Waduk Gajah Mungkur berkaitan dengan pemindahan sekitar 41.000 warga dari 45 desa di enam kecamatan. Sementara laporan terbaru menyebut kawasan pembangunan menenggelamkan 51 desa di tujuh kecamatan.
Arsip pameran virtual Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Wonogiri juga menyebut bedol desa sebagai peristiwa besar yang memindahkan ribuan penduduk dari kawasan terdampak pembangunan waduk.
Dengan demikian, makam yang muncul ketika air surut dapat dibaca sebagai salah satu bagian dari lanskap lama Wonogiri. Di bawah permukaan waduk, pernah ada ruang hidup masyarakat yang kemudian berubah akibat proyek pembangunan berskala besar.
Makam yang Terlihat Ternyata Sudah Kosong
Menariknya, sebagian makam yang kini kembali terlihat bukan berarti masih menyimpan jenazah. Keterangan tokoh masyarakat Wuryantoro menyebut warga dahulu memindahkan makam ketika proses relokasi berlangsung.
Tokoh masyarakat Wuryantoro, Suparso (77), mengatakan kawasan tersebut dahulu bernama Dukuh Sentono, Desa Ngungkingsari. Salah satu sosok yang dikenal masyarakat ialah Eyang Raden Santri.
“Dulunya itu makam kampung, tapi terkenalnya, sesepuhnya, namanya Eyang Raden Santri. Lalu makam itu juga makam keluarganya, anak cucu, dan juga jadi makam umum,” ujar Suparso kepada detikJateng, Rabu (9/9/2026).
Menurut Suparso, warga kemudian memindahkan makam ke kawasan Balat, dekat Kantor Kelurahan Wuryantoro. Proses tersebut juga mencakup pemindahan makam Eyang Raden Santri.
“Kalau makam yang itu (di WGM) sudah suwung (kosong), sudah dipindah semua,” kata Suparso.
Ketika Air Surut, Sejarah Ikut Muncul
Fenomena makam di Waduk Gajah Mungkur sebenarnya memberi kesempatan untuk melihat kembali sejarah yang jarang terlihat. Saat air memenuhi waduk, jejak itu tertutup genangan dan hanya tersisa dalam ingatan warga.
Ketika kemarau menurunkan permukaan air, sebagian jejak tersebut kembali muncul. Nisan, bekas permukiman, hingga struktur lama menjadi pengingat bahwa waduk menyimpan sejarah masyarakat yang pernah tinggal di sana.
Karena itu, kemunculan makam lama tidak semata-mata menarik karena bentuk nisannya. Fenomena tersebut memperlihatkan hubungan antara perubahan alam, pembangunan waduk, dan sejarah perpindahan masyarakat Wonogiri.
Setiap musim kemarau membuka kemungkinan munculnya kembali jejak lain dari kawasan yang dahulu dihuni warga. Waduk Gajah Mungkur akhirnya tidak hanya menyimpan air, tetapi juga menyimpan cerita tentang kampung-kampung yang pernah ada di tempat itu.














