UB Beri Penghargaan Tim Tanggap Bencana yang Bertugas di NTT

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Universitas Brawijaya (UB) memberikan piagam penghargaan kepada tim tanggap bencana yang terlibat dalam penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Apresiasi diberikan atas dedikasi dokter spesialis, tenaga kesehatan, akademisi, serta relawan UB, Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), dan Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang selama menjalankan misi kemanusiaan pada Agustus 2026.

Tim tersebut menjalankan tugas dalam dua gelombang dengan fokus penanganan yang berbeda, mulai dari pelayanan medis darurat dan dukungan operasional rumah sakit hingga pemulihan kesehatan jiwa masyarakat terdampak bencana.

Tim Batch 1 Fokus Layanan Medis dan Logistik

Tim batch 1 bertugas pada 19-28 Agustus 2026. Mereka memberikan pelayanan medis darurat, dukungan logistik, membantu pengoperasian RSUD Ruteng dan RSUD Lapangan, serta memperbaiki sistem pelaporan dan komunikasi dalam penanganan bencana.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah kondisi RSUD Ruteng yang tidak dapat beroperasi secara optimal karena bangunannya dinilai tidak layak digunakan. Pelayanan kemudian dilakukan menggunakan fasilitas tenda. Tim juga mendukung operasional RSUD Lapangan yang sempat didirikan di kawasan bukit sebelum dipindahkan ke lokasi dekat Bandara Ruteng.

Selain pelayanan langsung, tim menyusun struktur Health Emergency Operations Center (HEOC) untuk memperjelas koordinasi, pembaruan kebutuhan harian, hingga proses pengambilan keputusan selama masa tanggap darurat.

Baca Juga:  Universitas Brawijaya Tingkatkan Penguatan Kesehatan Mental Mahasiswa Melalui Integrasi Layanan Kampus

Pelayanan kesehatan kemudian dibagi ke sejumlah rumah sakit, puskesmas, tenda pelayanan, hingga wilayah dusun yang berada lebih dekat dengan episentrum gempa. Dukungan obat-obatan dan bahan medis habis pakai juga disalurkan melalui UB, RSUB, dan RSSA.

Batch 2 Tangani Trauma dan Kesehatan Jiwa

Sementara itu, tim batch 2 berfokus pada pemulihan kesehatan jiwa dan dukungan psikososial bagi masyarakat yang mengalami trauma akibat bencana.

Tim tidak hanya memberikan layanan kepada warga, tetapi juga melakukan pelatihan bagi tenaga kesehatan dan guru. Langkah tersebut ditujukan agar kemampuan penanganan dukungan psikososial dapat diteruskan oleh sumber daya lokal setelah tim relawan meninggalkan lokasi.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tim juga menerbitkan empat buku panduan penanganan psikososial pascabencana. Secara keseluruhan, rekap kegiatan mencatat 478 penerima manfaat layanan kesehatan dan psikososial.

Jumlah tersebut terdiri atas 139 layanan kesehatan fisik dan kesehatan ibu serta anak (KIA), 339 layanan kesehatan jiwa melalui skrining dan dukungan sosial, serta 69 peserta edukasi dan pelatihan bagi tenaga kesehatan dan guru setempat.

UB Dorong Penanganan Bencana Berkelanjutan

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., menyampaikan apresiasi atas pengabdian para anggota tim. Menurutnya, kehadiran relawan selama sekitar dua pekan memiliki arti penting bagi masyarakat yang tengah menghadapi situasi bencana.

Baca Juga:  Bupati Malang Kumpulkan SPPG, Minta Tolak Bahan Tak Layak untuk Program MBG

Apresiasi tersebut juga mendapat respons dari dr. Sri Sunarti yang terlibat dalam misi kemanusiaan. Ia mengaku terharu karena penghargaan dari UB menjadi apresiasi pertama yang diterimanya selama hampir 20 tahun terlibat dalam berbagai kegiatan penanganan bencana.

Menurut Sri Sunarti, misi kemanusiaan tidak boleh berhenti setelah fase tanggap darurat berakhir. Penanganan perlu berlanjut hingga tahap rehabilitasi, rekonstruksi, serta penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan.

Ia menilai upaya tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan akademisi, praktisi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, hingga media.

“Menjadi relawan itu menyenangkan, meski ada rasa capek, namun kami yakin bahwa secapek-capeknya relawan, lebih capek menjadi penyintas. Semakin banyak yang kita berikan, semakin bahagia yang kita rasakan,” ujar Sri Sunarti.