SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Alumni Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB) Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P.,M.P., mengubah lahan marginal di Perumahan Royal Janti Residence, Kecamatan Sukun, Kota Malang menjadi lahan produktif dengan memberdayakan masyarakat sekitar.
Pria yang akrab disapa Riyan itu menginisiasi dan mengajak masyarakat di perumahan tersebut untuk secara gotong royong mengubah lahan marginal seluas 500 meter persegi menjadi lahan yang lebih produktif dan bermanfaat bagi masyarakat melalui konsep pertanian terpadu.
“Program ini digagas untuk mengoptimalkan fasilitas umum yang kurang termanfaatkan sekaligus memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dan memperbaiki pengelolaan sampah organik rumah tangga,” ungkap Riyan kepada Suaramalang.com, Kamis (3/9/2026).
Ia menyebut, sebelum melibatkan masyarakat dalam penggarapan lahan marginal ini, di tahun 2023 ketika masih menjadi Mahasiswa Program Magister Agronomi Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan UB, dirinya bersama tim inti telah menggarap setidaknya 250 meter persegi lahan marginal untuk diubah menjadi lahan produktif.
“Dimulai secara mandiri sejak tahun 2023, gerakan pelestarian lingkungan ini terus berkembang berkat manfaat langsung dan nyata bagi masyarakat,” ujar Riyan.
Menurutnya, program ini digagas untuk mengoptimalkan fasilitas umum yang kurang termanfaatkan sekaligus memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dan memperbaiki pengelolaan sampah organik rumah tangga.
“Pengamatan awal sebelum program dimulai menunjukkan bahwa sebagian besar area tersebut tidak terawat dan sering dijadikan tempat pembuangan sembarangan untuk sisa konstruksi serta sampah rumah tangga,” jelas Riyan.
Pihaknya mengungkapkan, pada saat awal penggarapan lahan marjinal tersebut terdapat tantangan yang kerap kali dihadapi. Mulai dari pemanfaatan lahan, hingga kondisi fisik tanah yang cenderung ekstrem.
“Area fasilitas umum tersebut memiliki kemiringan curam sekitar 30 derajat dan karakteristik tanah liat berpasir dengan tingkat keasaman (pH) yang tinggi. Kondisi ini menuntut perlakuan teknis khusus agar lahan tersebut layak untuk budidaya produktif,” tutur Riyan.

Demi keberlanjutan program dan mengatasi keterbatasan sumber daya, sekitar tahun 2025 tim pelopor menjalin kemitraan dengan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna Royal Janti Residence, dan Komunitas Ecoliving. Kolaborasi lintas sektor ini melibatkan secara aktif 16 ibu rumah tangga dan 30 pemuda dalam kegiatan di lapangan.
Dari total luas lahan, 250 meter persegi dikelola sebagai lahan percontohan oleh tim inti, sementara 250 meter persegi sisanya kini dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat sekitar, yang memberikan bukti nyata mengenai efektivitas dan keberlanjutan program ini.
“Pendekatan utamanya didasarkan pada sistem pertanian terpadu yang menyinergikan produksi tanaman, peternakan dan perikanan,” kata Riyan.
Di lahan marginal yang berterasering, tata letak penanaman dirancang untuk memadukan pengolahan tanah secara langsung dengan penggunaan kembali galon air plastik ukuran lima belas liter sebagai wadah tanam.
Melalui skema sumbangan sukarela, masyarakat telah mengumpulkan lebih dari 25 jenis tanaman. Area penanaman dibagi menjadi tiga zona terstruktur untuk mempermudah dalam pengembangan lahan marginal menjadi lahan produktif berbasis pertanian terpadu.
Untuk zona satu dikhususkan untuk tanaman aromatik dan tanaman pangan, termasuk serai wangi, kemangi, mint, pandan, cabai dan jagung manis. Kemudian untuk zona dua ditanami tanaman produktif dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), termasuk daun kari, kelor, belimbing wuluh dan daun salam. Lalu untuk zona tiga dialokasikan untuk tanaman rimpang, seperti jahe, kunyit, dan kencur, serta tanaman dalam wadah seperti sawi, terong dan bunga telang.
Di sektor peternakan dan perikanan, warga memelihara unggas khususnya ayam dan membudidayakan ikan air tawar, terutama ikan lele, di kolam berlapis terpal yang dialiri air dari sungai terdekat.
Langkah-langkah konservasi tanah dan air meliputi pembuatan terasering mengikuti kontur alami lahan, penanaman tanaman penutup tanah, serta perbaikan struktur tanah menggunakan dolomit, pembenah tanah organik, biochar dan pupuk kandang.
“Masyarakat yang terdiri dalam delapan kelompok kerja, juga telah membuat setidaknya delapan lubang resapan biopori untuk meningkatkan penyerapan air hujan,” imbuh Riyan.
Tak kalah pentingnya, program ini mendorong terciptanya komunitas bebas sampah (zero-waste) melalui pendidikan lingkungan yang dipimpin oleh Zulfikar, Risa, Sifa dan Syamil dari Komunitas Ecoliving. Sampah organik rumah tangga dikumpulkan di titik-titik pengumpulan yang telah ditentukan di setiap blok hunian.
Masyarakat dilatih untuk mengolah sampah makanan menjadi pupuk organik menggunakan wadah air plastik bekas yang dimodifikasi menjadi unit pengomposan sederhana, sehingga secara signifikan mengurangi volume sampah rumah tangga.
Pria yang dulunya mengenyam pendidikan Program S1 Agroteknologi Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan UB ini mengatakan, pelibatan PKK dan para pemuda serta komunitas merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan kolektif di tengah gaya hidup sibuk warga perkotaan.
“Kami menerapkan sistem pembagian tugas yang fleksibel dan model partisipasi berbasis rumah tangga agar setiap warga dapat memberikan kontribusi bermakna bagi lingkungan di sekitar mereka,” jelas Riyan.
Sehingga, lahan kosong yang sebelumnya terbengkalai dan tampak kumuh di salah satu sudut Perumahan Royal Janti Residence kini perlahan berubah menjadi lanskap yang bersih, tertata rapi dan menghasilkan bahan pangan.
Sementara itu, Ketua PKK Perumahan Royal Janti Residence di wilayah RT. 04/RW. 10, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang yakni Emisriani mengapresiasi program mengubah lahan marginal menjadi lahan produktif yang dipelopori oleh Riyan bersama tim. Ia juga menyoroti manfaat langsung dari lahan produktif tersebut dalam meningkatkan gizi keluarga, penanganan stunting dan ketersediaan pangan.
“Kami berharap inisiatif ini tidak hanya mengoptimalkan lahan kosong dan membuat kawasan hunian kami lebih hijau, tetapi juga terus menyediakan pasokan pangan sehat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para ibu rumah tangga di lingkungan kami,” ujar Emisriani.
Lebih lanjut, inisiatif keterlibatan masyarakat secara mandiri di Perumahan Royal Janti Residence ini menunjukkan bahwa hasil nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat dapat berperan penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan lingkungan di tingkat akar rumput.
Program ini diharapkan dapat menjadi proyek percontohan bagi kawasan hunian perkotaan lainnya di Kota Malang yang memperlihatkan bagaimana inovasi pertanian terpadu berbasis komunitas mampu mengatasi keterbatasan lahan serta tantangan gaya hidup perkotaan modern.















