SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Kota Malang turun menjadi 42,68 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut merosot 5,34 poin dibandingkan capaian Juli 2026 yang menunjukkan aktivitas pariwisata dan mobilitas wisatawan kembali melandai setelah periode liburan.
Kepala BPS Kota Malang Umar Sjaifudin mengatakan, penurunan terjadi pada hotel berbintang maupun nonbintang. TPK hotel bintang pada Agustus tercatat 52,61 persen, turun 7,62 poin dari Juli.
Sementara itu, TPK hotel nonbintang dan akomodasi lainnya berada di angka 32,84 persen. Capaian tersebut turun 2,91 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Kunjungan Wisatawan Ikut Menurun
BPS Kota Malang juga mencatat pergerakan wisatawan Nusantara selama Agustus. Wisatawan Nusantara asal Kota Malang mencapai sekitar 872.000 kunjungan, turun 2,38 persen dibandingkan Juli.
Adapun wisatawan Nusantara yang datang ke Kota Malang tercatat sekitar 932.000 kunjungan. Jumlah itu turun 0,31 persen secara bulanan.
Penurunan okupansi hotel di Kota Malang sejalan dengan kondisi nasional. BPS RI mencatat TPK hotel Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 39,83 persen, turun dari 41,13 persen pada Juli. BPS mengaitkan penurunan bulanan tersebut dengan normalisasi mobilitas setelah berakhirnya periode puncak perjalanan dan libur sekolah pada Juni-Juli.
Di tingkat nasional, TPK hotel bintang juga turun menjadi 52,52 persen dari 54,54 persen pada Juli. Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025 yang berada di 50,51 persen.
Agenda Event Dinilai Bisa Dorong Okupansi
Di Kota Malang, sejumlah agenda sepanjang Agustus berpotensi menjadi penggerak kunjungan. BPS mencatat beberapa kegiatan, mulai dari peringatan Kemerdekaan ke-81 RI dan Maulud Nabi Muhammad hingga Wonder Futsal Series 2026, ANC Regional Malang 2026, Preston Fest Live 2026, Padel Bang 3.0, serta berbagai agenda olahraga dan hiburan lainnya.
Ekonom FEB Universitas Muhammadiyah Malang M. Sri Wahyudi Suliswanto menilai rangkaian agenda tersebut dapat menjadi momentum pengembangan event-based tourism. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah mengemas berbagai kegiatan secara lebih terintegrasi agar kunjungan wisatawan tidak berhenti pada jumlah kedatangan.
Integrasi agenda diharapkan turut memperpanjang lama tinggal wisatawan sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh hotel, UMKM, kuliner, dan sektor pariwisata lainnya.
Data BPS nasional menunjukkan rata-rata lama menginap tamu hotel bintang pada Agustus 2026 mencapai 1,63 malam. Tamu asing memiliki rata-rata lama tinggal 2,48 malam, sedangkan tamu Indonesia 1,48 malam.














