SUARAMALANG.COM, Kabupaten Pasuruan – Ancaman Diabetes Melitus (DM) kini tidak hanya menjadi persoalan kesehatan kelompok usia dewasa. Perubahan pola hidup dan kebiasaan konsumsi makanan maupun minuman tinggi gula membuat remaja juga perlu memahami risiko penyakit tersebut sejak dini.
Persoalan itu menjadi salah satu perhatian dalam program pengabdian masyarakat CERDAS (Cegah Remaja Diabetes dan Literasi Sejak Dini) yang digelar Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Malang di Desa Kemantren, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Minggu (26/7/2026).
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Malang Dr. Nurul Pujiastuti, S.Kep., Ners., M.Kes., mengatakan edukasi kesehatan sejak usia remaja penting dilakukan sebagai langkah preventif. Menurutnya, upaya pencegahan penyakit tidak menular perlu dibangun melalui kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat sejak usia muda.
Melalui program CERDAS, remaja diberikan pemahaman mengenai faktor risiko Diabetes Melitus tipe 2 yang dapat berkaitan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, kurangnya aktivitas fisik, serta pola hidup yang kurang sehat.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai sebagai tanda diabetes. Gejala utama yang dikenal dengan istilah 3P, yakni poliuria atau sering buang air kecil, polidipsia atau mudah haus, dan polifagia atau mudah lapar. Selain itu, masyarakat diberikan pemahaman mengenai gejala lain seperti tubuh mudah lemas, mengalami penurunan berat badan, hingga luka yang sulit sembuh.
Nurul dan tim juga mendorong peserta untuk melakukan langkah pencegahan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya menerapkan pola makan bergizi seimbang melalui prinsip “Isi Piringku”, rutin melakukan aktivitas fisik, mencukupi kebutuhan air putih, serta melakukan pemeriksaan gula darah sebagai bagian dari deteksi dini.
Selain isu diabetes, program CERDAS turut mengangkat literasi Air Susu Ibu (ASI). Edukasi ini tidak hanya menyasar para ibu, tetapi juga kelompok remaja yang dipandang perlu mendapatkan bekal pengetahuan kesehatan sebagai calon orang tua.
Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Pemberian ASI memiliki manfaat dalam mendukung sistem kekebalan tubuh dan tumbuh kembang bayi. Dalam sesi tersebut, tim pengabdian masyarakat juga meluruskan sejumlah mitos dan informasi yang kurang tepat mengenai ASI yang masih berkembang di masyarakat.
“Melalui program CERDAS, Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Malang berupaya memperluas pemahaman masyarakat bahwa pencegahan penyakit dapat dimulai dari kebiasaan sederhana,” ujar Nurul.
Menurutnya, edukasi kesehatan kepada remaja dan ibu diharapkan mampu membangun kesadaran yang lebih kuat mengenai pentingnya pola hidup sehat, deteksi dini penyakit, serta literasi kesehatan keluarga. Program tersebut sekaligus menegaskan bahwa upaya menjaga kesehatan tidak harus menunggu munculnya penyakit.
“Dengan membangun kesadaran sejak remaja dan memperkuat pengetahuan keluarga, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah preventif untuk menjaga kualitas kesehatan secara berkelanjutan,” tutur Nurul.
Salah satu warga dari Desa Kemantren yakni Badriyah merasa bersyukur dengan digelarnya kegiatan pengabdian dari Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Malang. “Selain bisa cek gula darah dan tensi gratis tanpa harus jauh-jauh ke klinik, kami para ibu juga makin paham pentingnya ASI eksklusif dan jadi tahu mitos-mitos yang selama ini salah di masyarakat,” ungkap Badriyah.
Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan sehingga masyarakat memperoleh akses edukasi dan pemeriksaan kesehatan secara berkala. “Semoga kedepannya kegiatan edukasi dan pemeriksaan kesehatan seperti ini bisa sering diadakan di desa kami,” imbuh Badriyah.
Selain itu, salah satu remaja dari Desa Kemantren yakni Nazilla mengatakan, bahwa edukasi yang disampaikan dari Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Malang membuat dirinya lebih memahami pentingnya menjaga pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik.
“Awalnya tuh saya pikir penyakit gula atau diabetes itu cuma buat orang tua saja. Ternyata dari materi tadi dijelaskan juga kalau misal remaja juga bisa kena kalau sering minum minuman manis dan kurang gerak,” ujar Nazilla.
Ia mengaku, setelah mendapatkan edukasi dari Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Malang saat ini dirinya sudah jauh lebih sadar untuk menjaga pola makan, mengurangi konsumsi boba atau minuman kemasan serta rajin berolahraga.
“Sesi tentang ASI juga menambah wawasan baru buat kami yang remaja sebagai bekal pengetahuan di masa depan,” kata Nazilla.
Tak hanya edukasi, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut juga memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Warga dapat mengikuti penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan indeks massa tubuh (IMT), pemeriksaan tekanan darah, hingga pengecekan kadar gula darah.
Antusiasme warga terlihat saat mereka mengikuti rangkaian pemeriksaan untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing. Layanan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kondisi kesehatan dan melakukan deteksi faktor risiko sejak dini.
Program CERDAS terlaksana melalui kolaborasi Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Malang bersama Puskesmas Purwosari, Pemerintah Kecamatan Purwosari, alumni Poltekkes Kemenkes Malang yang bertugas di RSUD Lawang, serta Yayasan RASA (Rumah Amanah Surga).
Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari Ketua RASA Eko Prastyo dan Djoko Suroso selaku Ketua RT/Kasun setempat. Dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Malang juga terlibat dalam pelaksanaan edukasi serta membantu pelayanan pemeriksaan kesehatan di lapangan.















