SUARAMALANG.COM – Angin kencang yang muncul saat pergantian musim dari kemarau menuju hujan perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko pohon tumbang di kawasan perkotaan. Peneliti Pusat Studi Bencana sekaligus Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Amien Widodo, meminta kondisi pohon diperiksa sebelum memasuki musim hujan.
Peringatan tersebut disampaikan menyusul peningkatan kecepatan angin di Jawa Timur. Berdasarkan pengamatan BMKG Juanda pada Jumat (25/9/2026), kecepatan angin maksimum tercatat dapat mencapai 47 kilometer per jam, lebih tinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya yang umumnya berada pada kisaran 10–20 kilometer per jam.
BMKG sebelumnya juga mengeluarkan peringatan dini peningkatan kecepatan angin untuk periode 25–27 September 2026, terutama pada siang hingga sore hari.
Amien mengatakan angin kencang merupakan salah satu fenomena yang perlu diantisipasi saat pergantian musim. Menurut dia, kondisi tersebut kerap diikuti kejadian pohon tumbang, terutama di wilayah perkotaan.
“Kalau mau ada perubahan musim, dari kemarau ke hujan itu akan diikuti oleh angin kencang sampai nanti pada waktu musim hujan. Maka kita juga tahu bahwa setiap ada angin kencang tadi selalu ada masalah terkait dengan salah satunya itu pohon tumbang,” kata Amien saat on air di Radio Suara Surabaya, Minggu (27/9/2026) sore.
Bukan Hanya Angin, Kondisi Akar dan Batang Perlu Diperiksa
Menurut Amien, kondisi pohon di perkotaan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Ia menjelaskan sebagian pohon perkotaan ditanam menggunakan metode stek sehingga kondisi perakarannya dapat berbeda dengan pohon yang tumbuh dari bibit.
Di sisi lain, ruang tumbuh pohon di perkotaan cenderung terbatas. Tanah yang mengalami pemadatan akibat aktivitas kendaraan dan pembangunan juga disebut dapat menghambat perkembangan akar ke bawah maupun ke samping.
“Jadi kalau kita lihat pohon di perkotaan itu kan bukan pohon yang tumbuh dari biji semacam gitu. Sebagian besar dia kan ditanam dalam bentuk stek begitu. Posisi tempat penanamannya kadang-kadang terbatas gitu tidak banyak. Terus kita tahu juga di perkotaan itu kan jalannya sudah dilewati mobil banyak, sudah dipadatkan, ada bekas sirtu dan lain sebagainya. Sehingga akar tadi enggak bisa berkembang baik,” jelasnya.
Amien juga mencontohkan kondisi air tanah yang dangkal di sejumlah kawasan Surabaya Timur dan Surabaya Utara. Menurut dia, kondisi tersebut dapat mempercepat pembusukan akar.
Risiko pohon tumbang semakin perlu diperhatikan apabila batang mengalami keropos. Kondisi itu, kata Amien, dapat berkaitan dengan serangan rayap, usia pohon, kondisi pohon yang mengering, maupun kerusakan lainnya.
“Keropos itu bisa karena dimakan rayap, bisa sudah tua, mengering dan lain sebagainya. Jadi seperti itu. Atau kalau kita lihat, kadang-kadang ada beberapa orang itu membakar pohon itu sendiri,” kata Amien.
94 Kasus Pohon Roboh Tercatat sejak Awal 2026
Amien menyebut jumlah pohon tumbang di Surabaya menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan catatan yang ia kumpulkan, kejadian pohon tumbang mengalami peningkatan sejak 2018.
“Jadi kalau dilihat dari statistiknya sih, dulu kalau dikumpulkan dari tahun 2018 sampai sekarang itu ada peningkatan yang sangat tajam dari jumlah pohon yang tumbang. Jadi ya tiap tahun itu hampir lebih dari 100 (pohon) yang tumbang,” bebernya.
Ia meminta Pemerintah Kota Surabaya segera memeriksa kondisi pohon sebelum memasuki musim hujan. Pemeriksaan, menurutnya, tidak cukup hanya memangkas dahan yang terlalu rimbun.
Kekuatan batang, kondisi akar, kemiringan pohon, bagian yang keropos, serta tanda-tanda penyakit juga perlu diperiksa. Pohon yang mengering, miring, memiliki benjolan akibat penyakit, atau menunjukkan retakan pada trotoar di sekitar pangkalnya dinilai perlu mendapat perhatian.
“Jadi di sekitarnya itu sudah retak-retak gitu. Bisa lihat di beberapa trotoar, kalau ada beberapa pohon pule sudah mulai retak sekelilingnya. Nah, berarti itu dia pernah tergoyangkan gitu. Jadi mesti juga harus dieksekusi macam dulu, diganti gitu,” sarannya.
Amien menyebut sejak awal 2026 telah terdapat 94 kasus pohon roboh. Beberapa kejadian di antaranya bahkan menyebabkan korban jiwa.
Karena itu, ia meminta masyarakat ikut mengawasi kondisi pohon di lingkungan masing-masing, baik di tepi jalan, taman, kawasan perkantoran, sekolah maupun sekitar rumah.
Jika menemukan pohon mengering, keropos, miring atau memiliki dahan yang terlalu rimbun, masyarakat diimbau segera melaporkannya kepada pemerintah setempat agar dapat diperiksa dan ditangani.
“Dan ingat, ini istilahnya bukan takdir. Kalau kita lihat pokoknya begini. Pada waktu angin lewat itu kan tidak semua pohon roboh. Yang roboh kan yang bermasalah tadi gitu loh. Nah, ini waktunya untuk meneliti. Harus waktunya memeriksa,” bebernya.
Menurut Amien, pemeriksaan sejak dini diperlukan untuk mengurangi potensi korban maupun kerusakan bangunan akibat pohon tumbang ketika angin kencang terjadi.
Informasi mengenai pohon dapat menjadi referensi tambahan bagi pembaca untuk memahami fungsi dan karakteristik pohon dalam lingkungan perkotaan.














