Dari Sampah Jadi Cuan, Mahasiswa UMM Kembangkan Mesin Pengolah Plastik di Kampung Biru Arema

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Keprihatinan terhadap pengelolaan sampah plastik mendorong mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi mesin pencacah dan pelebur plastik. Teknologi tersebut diterapkan di Kampung Biru Arema (KBA), Kota Malang, untuk mengubah limbah botol plastik menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.

Inovasi tersebut dikembangkan Ahmad Zaipan Rifa’i, mahasiswa Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik UMM angkatan 2023. Selain sebagai mahasiswa, Zaipan juga merupakan Duta Wisata Kota Malang.

Ia menggagas inovasi tersebut setelah melihat perkembangan pariwisata Kota Malang yang dinilai masih banyak mengandalkan daya tarik visual. Menurutnya, kampung tematik memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman wisata lebih interaktif sekaligus edukatif.

“Kita ingin menciptakan wisata tambahan berupa edukasi, yang menjadi salah satu syarat pengembangan pariwisata. Ini menjadi langkah mengubah visual tourism menjadi education tourism melalui pemanfaatan mesin pencacah plastik, yaitu memutar ulang sampah menjadi karya,” ungkap Zaipan.

Ubah Sampah Plastik Jadi Produk Kreatif

Mesin yang dikembangkan memiliki dua fungsi utama, yakni mencacah dan melebur plastik. Botol plastik yang dikumpulkan terlebih dahulu dimasukkan ke mesin untuk dicacah menjadi serpihan berukuran kecil.

Serpihan tersebut kemudian dipanaskan dan dilebur menggunakan cetakan hingga menghasilkan lembaran atau bentuk tertentu. Material hasil olahan selanjutnya dapat dikreasikan warga menjadi berbagai produk kreatif, seperti tatakan gelas dan gantungan kunci khas Kampung Biru Arema.

“Saya juga ingin inovasi ini menjadi peluang ekonomi baru bagi warga Kampung Biru Arema agar dapat mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomis,” ujarnya.

Baca Juga:  Nilai 89 Lolos FK UB, Nilai 96 Gagal? Hasil SMUB Jalur Rapor 2026 Jadi Sorotan

Kehadiran mesin tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pengolahan limbah plastik sekaligus membuka ruang keterlibatan warga dalam memproduksi dan menjual suvenir kepada wisatawan.

Dikembangkan Bersama Dosen Teknik Industri UMM

Pengembangan mesin dilakukan melalui riset bersama dosen Teknik Industri UMM dengan melibatkan ketua program studi, mahasiswa, serta pihak ketiga dalam pengerjaan teknis.

Proses pembuatan mesin berlangsung sekitar satu bulan, mulai 15 Juni hingga 15 Juli 2026. Total biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan mesin tersebut sekitar Rp7,15 juta.

Teknologi tersebut dirancang dengan mekanisme yang relatif sederhana agar dapat digunakan dalam proses pengolahan sampah plastik sekaligus menjadi bagian dari aktivitas edukasi bagi masyarakat maupun wisatawan.

Kampung Biru Arema Jadi Lokasi Awal

Pemilihan Kampung Biru Arema sebagai lokasi penerapan menjadi langkah awal untuk menguji konsep pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan sampah dan wisata edukasi.

Zaipan melihat Kota Malang memiliki potensi besar untuk mengembangkan konsep tersebut. Kota Malang memiliki 23 kampung tematik, sementara Kecamatan Klojen menjadi salah satu kawasan dengan sejumlah destinasi tematik yang lokasinya relatif berdekatan.

Kondisi tersebut dinilai dapat dikembangkan melalui konsep wisata yang tidak hanya menawarkan daya tarik visual, tetapi juga aktivitas edukasi yang dapat diikuti pengunjung.

Respons masyarakat terhadap inovasi tersebut juga dinilai positif. Warga berharap mesin pengolah sampah plastik dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata sekaligus membuka peluang mata pencaharian baru.

Baca Juga:  Kemdiktisaintek Tegaskan Nol Toleransi Kekerasan Seksual di Kampus Usai Kasus FHUI

Bagian dari Gagasan Duta Wisata Jawa Timur

Gagasan pengolahan sampah plastik menjadi produk kreatif tersebut juga menjadi bagian dari program kerja Zaipan dalam ajang Pemilihan Duta Wisata Raka Raki Jawa Timur 2026.

Ke depan, ia berharap mesin tersebut dapat memberikan dampak nyata terhadap lingkungan dan perekonomian warga Kampung Biru Arema.

Zaipan juga berharap inovasi tersebut dapat menjadi contoh kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi sederhana yang memberikan nilai tambah bagi pengelolaan sampah sekaligus pengembangan pariwisata.

Konsep tersebut diharapkan tidak berhenti di Kampung Biru Arema, tetapi dapat dikembangkan dan diterapkan di kampung wisata lain yang memiliki persoalan serupa dalam pengelolaan sampah plastik.