Oleh: Angger Dimas Bayu Sadewo, S.Kom
Guru Teknik Informatika SMAN 1 Malang dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Mudik seharusnya sederhana: pulang, bertemu keluarga, dan merayakan lebaran. Namun hari ini, perjalanan itu tidak lagi sepenuhnya milik manusia. Ia “dibaca”, diarahkan, bahkan diprediksi oleh sistem digital yang bekerja di balik layar. Kita merasa memilih waktu berangkat dan rute perjalanan, padahal sering kali keputusan tersebut sudah lebih dulu “disarankan” oleh algoritma.
Fenomena ini terjadi dalam skala yang sangat besar. Survei Kementerian Perhubungan (2024) menunjukkan bahwa potensi pergerakan masyarakat saat lebaran dapat mencapai lebih dari 60% populasi Indonesia. Di saat yang sama, Bank Indonesia (2024) mencatat bahwa transaksi digital—khususnya QRIS—mengalami pertumbuhan lebih dari 100% secara tahunan selama periode Ramadan dan Idul Fitri. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas mudik bukan hanya mobilitas manusia, tetapi juga pergerakan data dalam skala masif.
Di titik ini, mudik tidak lagi sekadar tradisi. Ia telah menjadi peristiwa teknologi.
Ketika Perjalanan Diubah Menjadi Data
Coba bayangkan satu perjalanan mudik. Kita membuka aplikasi untuk mencari tiket, melakukan pembayaran digital, lalu menyalakan navigasi. Sepanjang perjalanan, lokasi kita terus terlacak, kecepatan kendaraan terekam, dan pilihan rute dianalisis secara real-time.
Dalam skala individu, semua ini tampak biasa. Namun ketika dilakukan oleh jutaan orang secara bersamaan, terbentuklah apa yang dalam teknik informatika disebut sebagai big data. Data ini memiliki tiga karakter utama: volume (jumlah yang sangat besar), velocity (bergerak sangat cepat), dan variety (beragam jenisnya).
Dalam konteks mudik, ketiga karakter tersebut terlihat jelas. Data GPS dari jutaan perangkat membentuk peta kepadatan lalu lintas dalam skala nasional. Informasi ini diperbarui setiap detik, mencerminkan dinamika pergerakan kendaraan secara real-time. Selain itu, data tersebut dikombinasikan dengan berbagai sumber lain—mulai dari transaksi digital, kondisi cuaca, hingga perilaku pengguna aplikasi.
Yang menarik, data ini tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga langsung diolah. Teknologi seperti machine learning membaca pola perjalanan: kapan puncak arus mudik terjadi, jalur mana yang paling padat, hingga kecenderungan pengguna dalam memilih rute tertentu. Hasil analisis ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk rekomendasi sederhana, seperti “jalur ini lebih cepat”. Padahal, di baliknya terdapat proses komputasi yang kompleks dan berlapis.
Fenomena ini sejalan dengan pemikiran Manuel Castells tentang masyarakat jaringan (network society), di mana aktivitas manusia semakin terhubung dalam sistem informasi yang saling memengaruhi. Selain itu, konsep datafication menjelaskan bagaimana aktivitas sehari-hari—termasuk mudik—diubah menjadi data yang dapat dianalisis, diprediksi, dan bahkan dimanfaatkan secara ekonomi. Dengan kata lain, mudik hari ini bukan hanya perjalanan manusia, tetapi juga perjalanan yang dimediasi oleh data.
Algoritma yang Membantu—Sekaligus Mengarahkan
Teknologi memberikan banyak kemudahan. Kita dapat menghindari kemacetan, memilih waktu keberangkatan yang lebih optimal, dan memperkirakan waktu tiba dengan lebih akurat. Semua ini dimungkinkan oleh kemampuan sistem dalam melakukan prediksi berbasis data.
Namun di sinilah letak paradoksnya. Ketika jutaan orang menggunakan aplikasi yang sama dan menerima rekomendasi yang serupa, mereka cenderung bergerak ke arah yang sama. Jalur yang awalnya lancar dapat dengan cepat berubah menjadi padat karena semua orang diarahkan ke sana. Dalam dunia informatika, fenomena ini dikenal sebagai feedback loop: sistem tidak hanya membaca kondisi, tetapi juga turut membentuk kondisi baru.
Artinya, algoritma tidak lagi sekadar alat bantu—ia mulai menjadi pengarah perilaku kolektif. Ketergantungan terhadap sistem digital pun semakin meningkat. Banyak orang merasa tidak yakin bepergian tanpa navigasi, menunggu rekomendasi aplikasi sebelum berangkat, bahkan menyerahkan keputusan sederhana sepenuhnya kepada sistem. Di satu sisi, ini menunjukkan keberhasilan teknologi dalam membantu manusia. Namun di sisi lain, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang otonomi pengguna.
Selain itu, terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan. Lonjakan penggunaan selama mudik meningkatkan beban infrastruktur digital secara drastis. Gangguan kecil dalam sistem dapat berdampak luas. Lebih jauh lagi, setiap perjalanan menyimpan data sensitif—mulai dari lokasi, waktu, hingga pola mobilitas individu. Dalam konteks ini, isu keamanan dan kepemilikan data menjadi sangat penting.
Pertanyaan mendasarnya adalah: siapa yang sebenarnya mengontrol data tersebut? Apakah pengguna memiliki kendali penuh, atau justru menjadi bagian dari sistem yang tidak sepenuhnya transparan?
Dalam perspektif yang lebih luas, fenomena ini berkaitan dengan konsep algorithmic governance, di mana keputusan-keputusan sosial secara tidak langsung dipengaruhi oleh sistem algoritmik. Tanpa disadari, kita tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga sedang diarahkan olehnya.
Mudik mungkin masih terasa sama: perjalanan panjang, jalanan padat, dan rindu yang terbayar saat tiba di kampung halaman. Namun di balik itu, ada perubahan besar yang sering tidak disadari. Kita tidak lagi sekadar melakukan perjalanan, tetapi juga menjadi bagian dari arus data yang terus bergerak.
Dari sudut pandang teknologi, mudik adalah potret nyata bagaimana sistem digital bekerja dalam kehidupan sehari-hari—diam-diam, tetapi menentukan. Ia membantu, mempermudah, sekaligus mengarahkan.
Lebaran, pada akhirnya, bukan hanya tentang pulang. Di era digital, setiap langkah kita juga sedang direkam, dianalisis, dan diprediksi.
Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar “kapan berangkat mudik?”, tetapi: apakah kita masih benar-benar memilih jalan kita sendiri, atau hanya mengikuti arah yang telah ditentukan oleh algoritma?
*) Penulis : Angger Dimas Bayu Sadewo, S.Kom, Guru Teknik Informatika SMAN 1 Malang dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis























