SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Kelompok 18 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Bakti Desa Arcapada 2026 mendorong digitalisasi data kesehatan Ibu dan Anak di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang melalui Program Sistem Administrasi dan Pencatatan Digital (SAPA) Posyandu.
Dorongan itu berangkat dari persoalan administrasi yang masih menjadi salah satu tantangan para kader posyandu di tingkat desa. Di mana untuk pencatatan data kesehatan ibu dan anak saat ini masih mengandalkan buku besar serta dokumen kertas yang membuat proses pencarian data membutuhkan waktu cukup lama.
Koordinator Kelompok 18 FISIP UB Bakti Desa Arcapada 2026 Muhammad Hafidh Abdullah menyampaikan, bahwa Program SAPA Posyandu merupakan salah satu solusi konkret yang diberikan untuk menangani berbagai persoalan serta mempercepat dan mempermudah proses administrasi pencatatan data kesehatan ibu dan anak.
Hafidh mengatakan, gagasan tersebut lahir setelah Kelompok 18 FISIP UB Bakti Desa Arcapada 2026 melakukan observasi dan proses wawancara dengan para kader posyandu di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang yang berlangsung sejak tanggal 30 Juni hingga 30 Juli 2026. Dari proses tersebut, para mahasiswa menemukan bahwa pengelolaan rekam medis dan data tumbuh kembang balita masih dilakukan secara manual.
“Kondisi itu tidak hanya membuat pekerjaan administratif menjadi lebih panjang, tetapi juga menimbulkan persoalan ketika dokumen lama harus kembali dicari. Karena menurut penuturan salah satu kader posyandu yakni Bu Sunar, bahwa tulisan di buku besar sudah tidak terbaca karena dokumennya sudah lama dan kertasnya juga sudah ada yang robek,” ungkapnya kepada Suaramalang.com, Minggu (2/8/2026).
Sehingga, Kelompok 18 FISIP UB Bakti Desa Arcapada 2026 kemudian mengembangkan Program SAPA Posyandu sebagai aplikasi berbasis website yang dirancang dengan tampilan sederhana dan mudah digunakan.
Menurutnya, melalui aplikasi SAPA Posyandu tersebut, para kader posyandu dapat melakukan sejumlah pekerjaan administrasi secara digital. Mulai dari memasukkan data rekam medis bulanan, memantau status gizi anak hingga melakukan rekapitulasi data secara otomatis.
“Sistem tersebut juga dapat diakses melalui perangkat yang relatif mudah ditemukan di masyarakat, seperti smartphone maupun laptop. Dengan demikian, kader tidak harus bergantung pada tumpukan dokumen fisik ketika membutuhkan data peserta posyandu,” ujarnya.
Namun, para mahasiswa tidak berhenti pada tahap pembuatan aplikasi. Untuk memastikan sistem tersebut benar-benar dapat digunakan, Kelompok 18 FISIP UB Bakti Desa Arcapada 2026 juga memberikan sosialisasi dan simulasi kepada kader posyandu serta pengurus PKK di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Respons positif terlihat dari para kader posyandu yang mengikuti proses simulasi. Para kader mulai terbiasa mengoperasikan sejumlah fitur utama dalam aplikasi dan memahami alur pencatatan digital yang diperkenalkan mahasiswa.
Dalam pelatihan tersebut, kader langsung melakukan praktik memasukkan data secara real-time. Pendampingan kemudian dilanjutkan saat kegiatan posyandu berlangsung. Di mana para anggota Kelompok 18 FISIP UB Bakti Desa Arcapada 2026 memberikan pendampingan pada pelaksanaan Posyandu yang berlangsung sebanyak tujuh kali di tujuh pos berbeda di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Program SAPA Posyandu pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai penggunaan teknologi. Melainkan, program tersebut menjadi upaya mempertemukan kebutuhan kader posyandu dengan pemanfaatan teknologi sederhana untuk memperbaiki tata kelola administrasi kesehatan di tingkat desa.
Melalui kolaborasi antara para mahasiswa yang tergabung ke dalam Kelompok 18 FISIP UB Bakti Desa Arcapada 2026, kader posyandu, tenaga kesehatan, kader PKK dan Pemerintah Desa Kidal, digitalisasi administrasi Posyandu diharapkan dapat terus digunakan dan dikembangkan setelah program pengabdian mahasiswa berakhir. Ke depan, Program SAPA Posyandu ini akan menjadi salah satu langkah awal menuju pengelolaan data kesehatan ibu dan anak yang lebih tertata, cepat dan berbasis data.
“Digitalisasi ini diharapkan dapat memangkas waktu pelayanan, terutama ketika kader harus mencari riwayat data peserta. Data yang sebelumnya tersimpan dalam dokumen fisik kini dapat dikelola secara lebih terstruktur melalui sistem digital,” jelasnya.
Lebih lanjut, selain membantu pekerjaan kader posyandu, keberadaan data yang lebih tertata juga membuka peluang bagi Pemerintah Desa Kidal dan pihak terkait untuk menggunakan data kesehatan sebagai dasar dalam menentukan kebijakan.
Sementara itu, Bidan Desa Kidal Khusfi dan Tri secara kompak mengapresiasi inovasi Program SAPA Posyandu yang telah digagas oleh Kelompok 18 FISIP UB Bakti Desa Arcapada 2026. Di mana, penggunaan sistem digital dalam proses administrasi akan membantu mempercepat proses pencatatan sekaligus pencarian data peserta posyandu.
“Sebagai tenaga kesehatan di desa, pakai aplikasi ini jadi sangat membantu. Karena biasanya kan masih manual jadinya agak repot dalam pencatatannya. Sedangkan kalau pakai aplikasi ini, mencari data peserta posyandu tinggal cari namanya, isi data, terus langsung kesimpan, dan menyingkat waktu di meja satu yang biasanya lama dalam mencari kartu skrining kesehatan,” pungkasnya.















