MA Al-Ma’arif Singosari Perkuat Komitmen Madrasah Ramah Anak Berbasis Pendidikan Agama

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang, Madrasah Aliyah (MA) Al-Ma’arif Singosari yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Al-Ma’arif Singosari terus memperkuat penerapan konsep Madrasah Ramah Anak melalui pendekatan pendidikan yang humanis sekaligus berbasis penguatan pendidikan agama.

Kepala MA Al-Ma’arif Singosari Khoirul Anam, S.Pd., M.M., mengatakan, penguatan Madrasah Ramah Anak tidak berhenti pada seremonial deklarasi. Pasalnya, pada Jumat (3/7/2026) dan Sabtu (4/7/0/2026) lalu, pihak MA Al-Ma’arif Singosari telah menggelar bimbingan teknis dan bedah standaridasi serta deklarasi Madrasah Ramah Anak sebagai bekal bagi guru dalam memberikan pendampingan kepada peserta didik.

“Kita sudah melaksanakan kegiatan workshop Madrasah Ramah Anak. Kita juga sudah mendeklarasikan bersama-sama bapak/ibu guru terkait dengan sekolah atau madrasah ramah anak,” ujar Khoirul, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, konsep tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu mendampingi peserta didik secara lebih humanis. Pendekatan itu juga sejalan dengan visi dan misi MA Al-Ma’arif Singosari dalam memberdayakan potensi atau fitrah manusia melalui proses pendidikan.

Implementasinya dimulai dari hal sederhana yang ditemui peserta didik sejak memasuki lingkungan madrasah. Guru dan tenaga pendidik berupaya membangun interaksi yang positif dengan menyambut siswa melalui senyum, sapa dan salam.

“Mulai di awal di gerbang bagaimana kita menyambut anak-anak dengan bersalaman, kita menyambut dengan senyum,” kata Khoirul.

Pendampingan juga diberikan kepada peserta didik yang membutuhkan perhatian khusus. Madrasah tidak hanya melihat persoalan dari sisi akademik, tetapi berupaya mencari penyebab yang melatarbelakangi kesulitan peserta didik dalam belajar.

Baca Juga:  UM Buka 8 Prodi S2-S3 Baru 2026/2027, Ada Double Degree hingga Profesi Psikolog

Khoirul menjelaskan, ketika seorang peserta didik mengalami persoalan dalam proses pembelajaran, pihak madrasah akan melakukan penelusuran lebih jauh. Sebab, persoalan akademik terkadang berkaitan dengan kondisi atau permasalahan lain yang sedang dihadapi peserta didik.

“Ketika anak-anak ada masalah terkait belajar, ternyata setelah ditelusuri ada masalah lain yang melatarbelakangi itu,” tutur Khoirul.

Di sisi lain, penguatan karakter peserta didik juga berjalan beriringan dengan pemberian pendampingan pendidikan agama. Mengingat sebagian peserta didik MA Al-Ma’arif Singosari berasal dari pondok pesantren, sementara sebagian lainnya merupakan siswa yang tinggal bersama keluarga. Dengan kondisi tersebut, pihaknya menyiapkan pola pendampingan pembelajaran Al-Qur’an yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Setidaknya terdapat tiga tahapan pembinaan pembelajaran Al-Qur’an. Yakni tingkat pertama bagi peserta didik yang masih belajar membaca Al-Qur’an. Kemudian tingkat kedua yaknit ahsin bagi peserta didik yang sudah mampu mengaji tetapi masih membutuhkan perbaikan bacaan. Selanjutnya ketiga tingkat tahfidz, yakni bagi peserta didik yang diarahkan meningkatkan hafalan Al-Qur’an.

“Pertama, tingkat dasar yang memang anak-anak ini bisa dikatakan masih belajar. Masih belum bisa untuk mengaji. Kedua, bisa mengaji tetapi masih butuh tahsin. Ketiga, tahfidz,” ucap Khoirul.

Untuk peserta didik tingkat dasar, pembelajaran diarahkan terlebih dahulu pada penguasaan materi bacaan Al-Qur’an, dengan target awal Juz 30. Sementara peserta didik pada tingkat tahsin dan tahfidz mendapatkan pembinaan dengan cakupan Juz 1 hingga Juz 30.

Baca Juga:  Universitas Brawijaya Gelar Kuliah Tamu Internasional Bahas Masa Depan Ketahanan Air

“Kita yang pertama ini menarget untuk di Juz 30. Tetapi kalau tingkat tahsin dan tahfidz, itu mulai Juz 1 sampai Juz 30,” jelas Khoirul.

Sementara untuk pembelajaran kitab-kitab lainnya, MA Al-Ma’arif Singosari menjalin kerja sama dengan pondok pesantren. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya madrasah menyesuaikan pembinaan keagamaan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.

Menurut Khoirul, penguatan pendidikan agama dan konsep ramah anak pada dasarnya saling melengkapi. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter, memberikan rasa aman, serta mendampingi perkembangan siswa sesuai potensinya.

Dengan pendekatan tersebut, MA Al-Ma’arif Singosari berupaya membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya ramah bagi anak, tetapi juga mampu menjadi ruang tumbuh bagi siswa dalam mengembangkan prestasi, karakter, dan nilai-nilai keagamaan.

Iklan
Iklan