SUARAMALANG.COM, JAKARTA — Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat pemerintah di sejumlah wilayah prioritas.
Kementerian Kehutanan kini memberi perhatian lebih besar kepada Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Kedua provinsi tersebut mencatat hotspot high confidence paling tinggi dalam pemantauan terbaru.
Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat kondisi berbeda. Wilayah tersebut nihil hotspot high confidence dalam pemantauan terakhir.
Hotspot Karhutla Tertinggi Berada di Kalbar
Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 395 hotspot high confidence secara nasional.
Data tersebut berasal dari pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Pemantauan berlangsung hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 21.04 WIB.
Jumlah tersebut turun tipis dua titik dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya.
Namun, distribusi hotspot menunjukkan konsentrasi berbeda pada enam provinsi prioritas.
Kalimantan Barat mencatat 134 hotspot high confidence. Angka itu menjadi yang tertinggi di antara enam provinsi tersebut.
Kalimantan Tengah menyusul dengan 81 hotspot. Selanjutnya, Sumatera Selatan mencatat 35 hotspot.
Riau memiliki 15 hotspot, sedangkan Jambi mencatat empat titik. Kalimantan Selatan tidak mencatat hotspot high confidence.
Patroli dan Pemadaman Diperkuat
Kondisi tersebut menjadi dasar pemerintah untuk menentukan prioritas operasi karhutla.
Tim gabungan memperkuat patroli dan groundcheck pada wilayah dengan konsentrasi hotspot tinggi.
Manggala Agni juga melakukan pemadaman darat, penyekatan api, mopping up, dan pendinginan.
Operasi itu melibatkan TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, serta dunia usaha.
Pemerintah juga menyiagakan dukungan operasi udara pada enam provinsi prioritas.
Total 53 armada udara mendukung pengendalian karhutla di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalsel, Kalteng, dan Kalbar.
Sebanyak 19 armada menjalankan patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Sementara itu, 34 armada menjalankan operasi water bombing.
Pemerintah menyesuaikan pengerahan armada dengan perkembangan hotspot dan hasil verifikasi lapangan.
Kualitas Udara dan Asap Tetap Dipantau
Pemerintah tidak hanya memantau jumlah hotspot. Tim juga memantau kualitas udara dan sebaran asap.
Pemantauan PM2.5 menunjukkan kondisi udara yang bervariasi di sejumlah wilayah Indonesia.
Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah Kalimantan masuk kategori tidak sehat.
Beberapa area bahkan mencapai kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Kondisi serupa juga muncul pada sejumlah wilayah di Sumatera.
BMKG turut mencatat pengaruh asap terhadap jarak pandang di beberapa wilayah prioritas.
Pada 9 September 2026 siang, jarak pandang di Pontianak mencapai sekitar dua kilometer.
BMKG juga mencatat kondisi berasap di Palangka Raya dengan jarak pandang sekitar 4,5 kilometer.
Di Palembang, jarak pandang mencapai sekitar lima kilometer. Pekanbaru sekitar empat kilometer dan Jambi sekitar tiga kilometer.
Sementara itu, Banjarmasin memiliki jarak pandang sekitar sembilan kilometer dengan kondisi cerah berawan.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot bukan berarti satu kejadian kebakaran.
Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan berdasarkan deteksi satelit.
Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa hotspot. Karena itu, petugas tetap melakukan groundcheck.
Kondisi karhutla juga dapat berubah mengikuti cuaca dan kondisi bahan bakar di lapangan.
Khusus lahan gambut, petugas terus melakukan pembasahan dan pendinginan. Bara dapat bertahan di bawah permukaan setelah api terlihat padam.
Pemerintah meminta masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan asap, titik api, atau indikasi karhutla kepada pihak terkait.












