Olahraga Pagi Dikaitkan dengan Risiko Jantung dan Diabetes yang Lebih Rendah

Seseorang berolahraga pada pagi hari di ruang terbuka.. Foto: Ilustrasi/AI

SUARAMALANG.COM – Waktu berolahraga ternyata mungkin ikut berkaitan dengan kesehatan jantung dan metabolisme tubuh. Studi yang dipresentasikan dalam American College of Cardiology’s Annual Scientific Session atau ACC.26 menemukan bahwa orang yang rutin berolahraga pada pagi hari memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami sejumlah kondisi kardiometabolik dibandingkan mereka yang berolahraga lebih siang.

Peneliti menganalisis data 14.489 orang yang mengikuti program All of Us di Amerika Serikat. Mereka menggunakan data detak jantung dari perangkat Fitbit selama satu tahun untuk melihat kapan peserta paling sering mengalami peningkatan denyut jantung yang berlangsung setidaknya 15 menit.

Hasilnya menunjukkan bahwa olahraga pagi berkaitan dengan kemungkinan 31 persen lebih rendah mengalami penyakit arteri koroner, 18 persen lebih rendah mengalami tekanan darah tinggi, 30 persen lebih rendah mengalami diabetes tipe 2, dan 35 persen lebih rendah mengalami obesitas. Peneliti juga menemukan hubungan dengan kemungkinan hiperlipidemia yang 21 persen lebih rendah.

Olahraga Pukul 7 hingga 8 Pagi Menunjukkan Hubungan Terkuat

Dalam penelitian tersebut, waktu olahraga juga menjadi bagian penting yang dianalisis. Aktivitas fisik antara pukul 07.00 dan 08.00 dikaitkan dengan kemungkinan terendah mengalami penyakit arteri koroner dibandingkan waktu olahraga lainnya.

Temuan ini menarik karena para peneliti tidak hanya menghitung berapa banyak aktivitas fisik yang dilakukan peserta. Mereka juga melihat kapan aktivitas tersebut berlangsung berdasarkan data detak jantung yang dikumpulkan secara berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, penelitian mencoba melihat olahraga dari respons tubuh, bukan hanya dari jenis aktivitas. Lonjakan detak jantung selama setidaknya 15 menit digunakan sebagai indikator adanya periode aktivitas fisik.

Olahraga Pagi Bukan Berarti Olahraga Siang Tidak Bermanfaat

Temuan penelitian ini tidak berarti olahraga pada siang atau sore hari menjadi tidak bermanfaat. Prem Patel, penulis utama penelitian dari University of Massachusetts Chan Medical School, menegaskan bahwa aktivitas fisik tetap lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali.

Baca Juga:  Cegah Campak di Kota Malang, Dinkes Gencarkan Imunisasi dan Edukasi Warga

Karena itu, orang yang sulit berolahraga pada pagi hari tidak perlu menganggap waktu tersebut sebagai satu-satunya pilihan untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Konsistensi melakukan aktivitas fisik tetap menjadi bagian penting dari pola hidup aktif.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas tinggi. Orang dewasa juga dianjurkan melakukan latihan penguatan otot yang melibatkan kelompok otot utama setidaknya dua hari dalam seminggu.

Mengapa Waktu Olahraga Bisa Berkaitan dengan Kesehatan?

Peneliti belum dapat memastikan mekanisme yang menjelaskan hubungan antara olahraga pagi dan kesehatan kardiometabolik. Faktor biologis seperti hormon, pola tidur, serta faktor genetik mungkin ikut berperan.

Faktor perilaku juga dapat memengaruhi hasil tersebut. Orang yang terbiasa berolahraga sejak pagi mungkin sekaligus memiliki kebiasaan lain yang mendukung kesehatan, seperti menjaga pola makan, tidur cukup, atau lebih konsisten menjalankan rutinitas harian.

Dengan kata lain, waktu olahraga bisa saja hanya menjadi salah satu bagian dari pola hidup yang lebih luas. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah mengubah waktu olahraga menjadi pagi benar-benar dapat menurunkan risiko penyakit kardiometabolik.

Studi Menggunakan Data Perangkat yang Dipakai Sehari-hari

Salah satu hal yang membedakan penelitian ini dari sejumlah studi sebelumnya adalah penggunaan data perangkat yang dapat dikenakan. Para peneliti dapat melihat aktivitas fisik peserta dalam interval 15 menit sepanjang hari berdasarkan perubahan detak jantung.

Pendekatan tersebut memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai kebiasaan bergerak dalam kehidupan sehari-hari. Data perangkat seperti Fitbit juga memungkinkan peneliti menganalisis pola aktivitas dalam periode yang lebih panjang dibandingkan pengukuran olahraga yang hanya dilakukan dalam waktu singkat.

Baca Juga:  Tingkatkan Herd Imunity, Polres Malang Sediakan 1500 Dosis Vaksin Setiap Hari

Namun, penelitian ini tetap memiliki batasan penting. Data tersebut menunjukkan hubungan antara waktu olahraga dan kondisi kesehatan, bukan bukti bahwa olahraga pagi secara langsung menyebabkan risiko penyakit menjadi lebih rendah.

Haruskah Mulai Olahraga Lebih Pagi?

Jika jadwal memungkinkan, olahraga pagi dapat menjadi salah satu pilihan untuk membangun rutinitas aktivitas fisik. Hasil studi ACC.26 memberikan petunjuk bahwa waktu aktivitas mungkin memiliki hubungan dengan kesehatan kardiometabolik, tetapi belum cukup untuk menjadikannya aturan kesehatan yang berlaku bagi semua orang.

Yang lebih penting adalah menemukan waktu olahraga yang realistis dan dapat dilakukan secara konsisten. Berjalan kaki, berlari, bersepeda, berenang, latihan kekuatan, atau aktivitas fisik lain tetap dapat memberikan manfaat ketika dilakukan secara rutin.

Informasi mengenai manfaat aktivitas fisik juga tersedia dalam panduan aktivitas fisik WHO. Sementara itu, hasil penelitian tentang waktu olahraga dalam artikel ini berasal dari laporan American College of Cardiology.

Pada akhirnya, pagi hari mungkin menjadi salah satu waktu yang menarik untuk berolahraga, tetapi bukan satu-satunya. Bagi kebanyakan orang, membangun kebiasaan aktif yang bisa dipertahankan tetap menjadi langkah yang lebih penting daripada memaksakan jadwal olahraga tertentu.