Biaya Marketplace Makin Tinggi, Seller Mulai Menghitung Ulang Strategi Jualan

Aktivitas perdagangan melalui marketplace menghadapkan seller pada biaya transaksi dan persaingan mendapatkan perhatian konsumen. (foto: dok. istimewa)

SUARAMALANG.COM – Kenaikan biaya berjualan di marketplace mulai mengubah cara pelaku usaha menghitung keuntungan. Seller tidak lagi cukup melihat omzet, tetapi harus membandingkan biaya mendapatkan pembeli melalui marketplace dengan ongkos membangun kanal penjualan sendiri.

Tekanan tersebut muncul ketika take rate, yakni total porsi biaya yang dibebankan platform kepada penjual dari setiap transaksi, terus meningkat. Di sisi lain, marketplace masih menawarkan sesuatu yang sulit digantikan pelaku usaha kecil, yaitu akses langsung ke basis konsumen, sistem pembayaran, logistik, dan berbagai program promosi.

Masalahnya Bukan Sekadar Komisi

Riset Momentum Works dalam E-Commerce in Southeast Asia 2026 menyebut rata-rata take rate Shopee mencapai sekitar 13,5 persen pada kuartal IV 2025. Angka tersebut merupakan gabungan berbagai komponen biaya yang dikenakan kepada seller.

Komponen tersebut dapat mencakup komisi penjualan, biaya layanan untuk program tertentu, biaya transaksi, serta biaya iklan. Biaya operasional lain, termasuk administrasi dan pengembalian barang, juga dapat menambah beban penjual sesuai kebijakan platform.

Sejumlah seller yang dikutip dalam riset tersebut bahkan menyebut total beban take rate dapat melampaui 30 persen dari nilai transaksi dan dalam kondisi tertentu mendekati 50 persen setelah seluruh komponen diperhitungkan.

Kondisi itu membuat kenaikan omzet tidak otomatis berarti kenaikan keuntungan. Semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan transaksi, semakin kecil margin yang tersisa bagi seller.

Keluar dari Marketplace Tidak Semudah Membuat Toko Online

Tekanan biaya kemudian mendorong sebagian pemilik merek mengajak pelanggan berbelanja melalui laman resmi atau toko fisik. Strategi tersebut memungkinkan penjual mengurangi ketergantungan terhadap biaya transaksi marketplace.

Baca Juga:  Sri Mulyani Bongkar Total Struktur Sekretariat KSSK, Perkuat Fungsi Cegah Krisis Keuangan

Namun, pilihan tersebut membawa persoalan baru. Penjual harus mendatangkan sendiri pengunjung ke toko online, membangun kepercayaan konsumen, menyediakan sistem pembayaran, mengatur pengiriman, serta menanggung biaya pemasaran digital.

Pemerhati industri e-dagang Ignatius Untung mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan lebih berat bagi merek kecil dan UMKM. Mereka tidak memiliki sumber daya sebesar merek besar untuk membangun trafik melalui kanal penjualan sendiri.

“Biaya digital marketing pun lebih mahal, terutama di tahap awal,” ujar Ignatius.

Dengan demikian, seller menghadapi pilihan yang tidak sederhana. Marketplace menawarkan trafik dan infrastruktur yang sudah tersedia, tetapi biaya transaksinya meningkat. Sementara kanal mandiri memberi ruang lebih besar untuk mengendalikan transaksi, tetapi membutuhkan investasi untuk mendatangkan pembeli.

Harga Produk Bisa Ikut Terdorong Naik

Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan seller. Ketua Umum Asosiasi Industri Usaha Kecil dan Menengah Indonesia (AKUMANDIRI) Hermawati Setyorinny menilai konsumen juga dapat merasakan dampaknya ketika penjual menaikkan harga untuk menutup biaya operasional.

Artinya, biaya marketplace dapat menjadi bagian dari struktur harga yang dibayar konsumen. Pilihan penjual untuk tetap berada di platform dengan biaya lebih tinggi berpotensi membuat harga di marketplace berbeda dibandingkan kanal penjualan langsung.

Di sisi lain, konsumen masih tertarik pada marketplace karena adanya diskon, gratis ongkos kirim, serta program loyalitas. Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan mengatakan promosi tersebut merupakan bagian dari upaya platform menjaga keberlanjutan bisnis.

Baca Juga:  Promo BCA HUT ke-69: Domino’s, HokBen, Fore Coffee Diskon hingga 69%

Situasi ini membuat persaingan e-commerce memasuki fase yang berbeda. Seller tidak hanya bersaing menjual produk, tetapi juga harus menghitung berapa biaya untuk mendapatkan perhatian konsumen.

Bagi UMKM, persoalannya bukan semata-mata memilih marketplace atau meninggalkan platform. Yang semakin penting adalah menghitung margin bersih setiap kanal penjualan, membandingkan biaya mendapatkan pelanggan, dan menentukan bagian bisnis yang tetap menguntungkan setelah seluruh biaya diperhitungkan.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa marketplace tetap menjadi infrastruktur penting bagi perdagangan digital, tetapi ketergantungan penuh pada satu platform membawa konsekuensi biaya. Karena itu, membangun hubungan langsung dengan pelanggan dapat menjadi salah satu strategi diversifikasi kanal penjualan, tanpa berarti harus meninggalkan marketplace sepenuhnya.

Informasi mengenai perkembangan e-commerce dan biaya transaksi digital menjadi penting bagi pelaku UMKM untuk membaca perubahan model bisnis perdagangan online.