Lesbumi NU Kota Malang Siapkan Kajian Serat Sindujoyo Gresik untuk Ramadan 2027

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (PC Lesbumi NU Kota Malang) menyiapkan kajian Serat Sindujoyo dari Gresik sebagai bagian dari rangkaian Ngaji Posonan menjelang Jigang Ramadhan 2027.

Rencana tersebut disampaikan Gus Fathul H Panatapraja, Jumat (25/9/2026). Kajian itu diarahkan untuk mengenali kembali warisan literasi pesantren sekaligus khazanah budaya lokal melalui naskah Serat Sindujoyo yang ditulis menggunakan aksara Pegon.

Jigang Ramadhan dan Tradisi Ngaji Posonan

Gus Fathul menjelaskan, Lesbumi NU Kota Malang memiliki agenda rutin setiap Ramadan bernama Jigang Ramadhan, akronim dari Ngaji Tigang Dinten ing Wulan Ramadhan. Kegiatan tersebut biasanya didahului Ngaji Posonan sebagai pengantar menuju rangkaian kajian utama.

“Kami setiap bulan puasa mengadakan rutinan kegiatan Jigang Ramadhan (Ngaji Tigang Dinten ing Wulan Ramadhan). Biasanya, hari-hari sebelum Jigang Ramadhan kami ada Ngaji Posonan untuk pengantar menuju Jigang Ramadhan,” ujar Gus Fathul.

Menurut dia, tema kajian setiap tahun mengambil tokoh atau khazanah keislaman Nusantara. Lesbumi NU Kota Malang mengangkat Sunan Kalijaga pada 2023, Sunan Bonang pada 2024, Syekh Siti Jenar pada 2025, dan Sunan Kudus pada 2026.

Baca Juga:  OJK Peringatkan Soal Kripto, Prioritaskan Platform Terdaftar, Waspadai Risiko Tinggi

Untuk Ramadan 2027, Sunan Giri direncanakan menjadi tema Jigang Ramadhan. Sementara itu, Serat Sindujoyo dipilih sebagai materi Ngaji Posonan yang mengantarkan rangkaian kegiatan tersebut.

Mengkaji Serat Sindujoyo dalam Aksara Pegon

Serat Sindujoyo merupakan salah satu karya sastra yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Gresik. Naskah tersebut telah tersedia dalam versi transliterasi bahasa Indonesia. Namun, Lesbumi NU Kota Malang ingin mengkaji naskah dalam bentuk aslinya yang menggunakan aksara Pegon.

Gus Fathul menyebut pilihan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya dan literasi pesantren. Bagi Lesbumi, membaca naskah dalam aksara Pegon tidak hanya menyangkut isi teks, tetapi juga membuka ruang untuk memahami tradisi literasi yang berkembang di lingkungan pesantren dan masyarakat Muslim Nusantara.

“Kami ingin kajian beraksara Pegon, sekaligus sebagai bagian dari upaya Lesbumi NU Kota Malang mengenali kembali warisan literasi pesantren dan kebudayaan lokal,” imbuhnya.

Saat ini, Lesbumi NU Kota Malang masih berkoordinasi untuk memperoleh salinan digital Serat Sindujoyo beraksara Pegon. Salinan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan kajian sebelum pelaksanaan Ngaji Posonan menjelang Ramadan 2027.

Baca Juga:  DPRD Soroti 167 Jabatan Kosong di Pemkot Malang, Minta Sistem Merit Dikedepankan

Lesbumi Koordinasi dengan Pelestari Mocopat Haul Sindujoyo

Upaya memperoleh naskah dilakukan dengan menjalin komunikasi bersama salah satu sesepuh pelestari Mocopat Haul Sindujoyo. Lesbumi NU Kota Malang berencana bersilaturahmi untuk mendapatkan akses terhadap salinan naskah yang dibutuhkan.

“Kami sedang berkomunikasi dengan salah satu sesepuh pelestari Mocopat Haul Sindujoyo. Insya Allah akan segera sowan,” pungkas Gus Fathul.

Kajian tersebut nantinya menjadi bagian dari agenda Lesbumi NU Kota Malang dalam mempertemukan tradisi keislaman, literasi pesantren, dan kebudayaan lokal melalui pembacaan naskah Nusantara.

Untuk memahami konteks aksara yang digunakan dalam sejumlah tradisi literasi Islam di Nusantara, aksara Pegon dapat menjadi salah satu rujukan pengantar.