Garam Tinggi Kalium Berpotensi Menekan Risiko Stroke, tetapi Tidak Semua Orang Aman Mengonsumsinya

Garam pengganti yang sebagian kandungan natrium kloridanya diganti kalium klorida berpotensi membantu mengendalikan tekanan darah. Namun, penggunaannya perlu memperhatikan kondisi kesehatan, terutama fungsi ginjal. (Foto: Ilustrasi)

SUARAMALANG.COM – Mengurangi konsumsi garam selama ini menjadi salah satu anjuran penting untuk menjaga tekanan darah dan kesehatan jantung. Namun, penelitian terbaru menawarkan pendekatan lain yang mulai mendapat perhatian, yakni mengganti sebagian kandungan garam biasa dengan kalium.

Garam pengganti yang diperkaya kalium disebut berpotensi membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke. Temuan ini membuka peluang perubahan sederhana dalam pola konsumsi sehari-hari, terutama di tengah tingginya beban penyakit yang berkaitan dengan tekanan darah.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Health pada 4 November 2026 memperkirakan bahwa penggantian garam biasa dengan garam yang diperkaya kalium berpotensi mencegah sekitar 2,96 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular dan ginjal setiap tahun secara global.

Penelitian tersebut menggunakan pemodelan terhadap 193 negara. Artinya, angka yang dihasilkan merupakan perkiraan berdasarkan sejumlah skenario, bukan jumlah kematian yang telah terbukti dapat dicegah melalui uji klinis langsung di seluruh negara.

Mengapa Garam Biasa Perlu Diperhatikan?

Garam dapur umumnya mengandung natrium klorida. Natrium memang dibutuhkan tubuh, tetapi konsumsi berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah. Jika berlangsung dalam jangka panjang, hipertensi dapat meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, dan gangguan kesehatan lainnya.

Sementara itu, kalium merupakan mineral yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan serta membantu mengatur tekanan darah. Asupan kalium yang cukup dapat membantu mengimbangi sebagian efek natrium terhadap tekanan darah.

Baca Juga:  Rahasia Lionel Messi Tetap Bugar di Usia 39 Tahun, Pantang Gula dan Rutin Minum Yerba Mate

Garam yang diperkaya kalium biasanya dibuat dengan mengganti sebagian natrium klorida menggunakan kalium klorida. Dengan komposisi tersebut, jumlah natrium dalam garam dapat dikurangi sekaligus menambah kandungan kalium.

Dalam penelitian yang sama, skenario penggantian garam yang digunakan untuk memasak di rumah tangga saja diperkirakan dapat mencegah sekitar 1,85 juta kematian setiap tahun. Angka ini menunjukkan potensi perubahan pada kebiasaan memasak sehari-hari, meskipun hasil nyata dapat berbeda bergantung pada pola konsumsi dan kondisi kesehatan masyarakat.

Tidak Semua Orang Boleh Menggunakan Garam Tinggi Kalium

Meski memiliki potensi manfaat, garam pengganti bukan pilihan yang otomatis aman bagi semua orang. Konsumsi kalium berlebihan dapat menyebabkan hiperkalemia, yaitu kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu tinggi.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kerja jantung. Risiko lebih besar dapat dialami penderita penyakit ginjal kronis, terutama mereka yang kemampuan tubuhnya membuang kelebihan kalium sudah terganggu.

Orang yang menggunakan obat-obatan tertentu yang dapat meningkatkan kadar kalium darah juga perlu berhati-hati. Karena itu, penderita gangguan ginjal maupun orang yang rutin mengonsumsi obat untuk tekanan darah atau penyakit jantung sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum beralih menggunakan garam tinggi kalium.

Baca Juga:  Inginkan Masa Depan Kota Malang Lebih Baik, Relawan Gerak Rindu Pemimpin yang Bersih dan Jujur

Selain mempertimbangkan jenis garam, pengendalian tekanan darah tetap perlu dilakukan melalui pola hidup sehat. Membatasi makanan tinggi natrium, memperbanyak konsumsi sayur dan buah sesuai kondisi kesehatan, menjaga berat badan, rutin beraktivitas fisik, serta memeriksa tekanan darah secara berkala tetap menjadi langkah penting.

Temuan penelitian ini memberikan gambaran bahwa perubahan komposisi garam dapat menjadi salah satu strategi pencegahan penyakit kardiovaskular. Namun, masyarakat tidak sebaiknya langsung mengganti seluruh garam dapur tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing.

Pesan utamanya bukan sekadar memilih garam yang berbeda, melainkan lebih bijak mengatur asupan natrium dan kalium. Sebab, upaya menjaga tekanan darah membutuhkan kebiasaan makan yang seimbang dan penanganan yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.