Flushing Bendungan Sengguruh Dimulai, PJT I Targetkan 700 Ribu Meter Kubik  Sedimen Tergelontor

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Perum Jasa Tirta I (PJT I) mulai melakukan flushing atau penggelontoran sedimen di Bendungan Sengguruh, Kabupaten Malang, Senin (5/10/2026).

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung hingga 15 Oktober 2026 itu menargetkan sekitar 700 ribu meter kubik sedimen dapat dikeluarkan dari waduk.

Flushing menjadi salah satu upaya PJT I mengendalikan sedimentasi sekaligus menjaga kapasitas tampungan dan keandalan Bendungan Sengguruh sebagai bagian penting dari sistem pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Brantas.

Kepala Divisi Jasa Wilayah Sungai (WS) Brantas Perum Jasa Tirta I, Adibowo Kusumo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengendalian sedimen yang dilakukan secara terukur.

“Ini flushing Bendungan Sengguruh tahun 2026. Dalam rangka pengendalian sedimen di Brantas,” ujar Adibowo saat ditemui di lokasi, Senin (5/10/2026).

Menurut Adibowo, posisi Bendungan Sengguruh yang berada di bagian hulu sistem Sungai Brantas membuat waduk tersebut menjadi salah satu lokasi yang banyak menerima material sedimen dari wilayah tangkapan air di atasnya.

Sedimen tersebut terbawa aliran sungai dari berbagai kawasan, termasuk wilayah Kota Batu dan Kota Malang, dengan aktivitas perkotaan, pertanian, perkebunan hingga persoalan sampah turut memengaruhi kondisi daerah aliran sungai.

“Seperti kita lihat, lumpurnya mengumpul di sini. Ini tidak terlepas dari kondisi di hulu, termasuk aktivitas sosial, sampah, perkebunan dan pertanian,” jelasnya.

Tampungan Waduk Terus Tergerus Sedimen

Bendungan Sengguruh mulai beroperasi pada 1989 dengan kapasitas tampungan mencapai sekitar 21,5 juta meter kubik.

Namun, sedimentasi yang berlangsung secara terus-menerus membuat kapasitas tampungan efektifnya semakin berkurang.

Berdasarkan pengukuran pada 2025, volume tampungan efektif Waduk Sengguruh tercatat sekitar 0,473 juta meter kubik.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengendalian sedimentasi secara berkala untuk mempertahankan fungsi bendungan.

PJT I sebelumnya juga telah melakukan flushing pada 2023. Saat itu, penggelontoran sedimen dinilai berjalan baik dan turut memberikan kesempatan untuk melakukan pekerjaan pemeliharaan sejumlah infrastruktur bendungan.

“Selain fungsi utama untuk pengendalian sedimen secara terkendali, ada beberapa fungsi lain yang berhasil dilakukan, seperti perbaikan intake dan trash rack,” kata Adibowo.

Baca Juga:  Ratusan Perempuan di Malang Jadi Korban Slot Arisan Fiktif

Namun, tingginya curah hujan dan panjangnya musim hujan pada 2025 kembali membawa material sedimen dalam jumlah besar menuju Waduk Sengguruh.

“Pada 2025 musim hujannya cukup lebat dan panjang, curah hujannya juga cukup tinggi. Dampaknya, sedimen yang masuk ke sini cukup banyak,” ungkapnya.

Pintu Air Buka-Tutup Secara Terkendali

Dalam pelaksanaannya, flushing tidak dilakukan dengan melepas air secara sembarangan. PJT I mengatur elevasi serta bukaan pintu air untuk mengendalikan proses penggelontoran.

Adibowo menjelaskan debit air yang masuk dari hulu pada dasarnya bersifat alami. Sementara PJT I melakukan pengaturan terhadap elevasi dan bukaan pintu untuk mengendalikan proses flushing.

“Untuk debit air, sebenarnya itu natural dari hulu. Di sini kita melakukan rekayasa atau kontrol terhadap elevasinya. Jadi kita buka, kita tutup, kita buka, kita tutup,” terangnya.

Pengaturan tersebut dilakukan agar sekitar 700 ribu meter kubik sedimen dapat tergelontor secara terkendali selama kegiatan berlangsung.

Pengurangan sedimentasi diharapkan mampu mempertahankan ruang tampungan bendungan sehingga manfaat sumber daya air tetap dapat mendukung kebutuhan masyarakat di wilayah hilir, termasuk irigasi dan pembangkitan listrik tenaga air.

Bendungan Sengguruh sendiri mendukung operasional PLTA Sengguruh dengan kapasitas pembangkitan 2 x 14,5 megawatt.

Jadwal Flushing Menyesuaikan Kondisi

Adibowo menegaskan flushing tidak memiliki jadwal tetap yang harus dilakukan setiap beberapa tahun sekali. Pelaksanaannya bergantung pada hasil kajian, data teknis, tingkat sedimentasi serta kondisi lingkungan.

“Tidak ada pola yang pasti. Pelaksanaannya sesuai kebutuhan berdasarkan data teknis dan analisis lingkungan yang ada,” katanya.

Karena itu, pengendalian sedimentasi dilakukan secara berkelanjutan agar akumulasi material tidak semakin mengganggu fungsi Bendungan Sengguruh maupun sistem Sungai Brantas secara keseluruhan.

Warga Dilarang Mencari Ikan di Aliran Sungai

Selain persoalan teknis, aspek keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama selama pelaksanaan flushing.

PJT I mengimbau warga, khususnya masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah hilir Bendungan Sengguruh, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi aliran sungai.

Baca Juga:  Kodim 0818 Malang-Batu Komitmen Membantu Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Lewat Koperasi Merah Putih

Warga juga diminta tidak memanfaatkan momentum flushing untuk mencari ikan di sekitar badan sungai.

Adibowo mengatakan, penggelontoran dapat membuat ikan terdampak perubahan kondisi air sehingga berpotensi menarik masyarakat untuk turun ke sungai. Kondisi tersebut justru dapat membahayakan keselamatan apabila terjadi perubahan debit dan kecepatan aliran.

“Yang paling utama dan menjadi perhatian kami adalah aspek keselamatan. Dalam kondisi seperti ini ikan bisa mabuk, sehingga orang mudah mencari ikan. Tetapi kadang mereka lalai terhadap aspek keamanan dan keselamatan,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, PJT I telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari TNI, Polri, BPBD, PMI, Linmas hingga perangkat pemerintah di sekitar lokasi.

Sosialisasi juga telah dilakukan kepada masyarakat dan pihak terkait sebelum flushing dimulai. Pemberitahuan mengenai pelaksanaan kegiatan turut disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Malang.

Warga Diminta Waspada Atas Kekeruhan dan Perubahan Debit

Selama proses berlangsung, masyarakat di wilayah hilir diminta mewaspadai peningkatan kekeruhan air, perubahan debit serta kecepatan arus, dan menghindari aktivitas di badan sungai pada area yang berpotensi terdampak.

“Kita sudah melakukan langkah antisipatif secara masif. Selain bekerja sama dengan TNI, Polri, BPBD, PMI, Linmas dan seluruh perangkat pemerintah di sekitar lokasi, kita juga melakukan sosialisasi maupun dukungan selama pelaksanaan,” ujar Adibowo lagi

Dengan flushing tersebut, PJT I berharap sedimentasi di Bendungan Sengguruh dapat ditekan sehingga fungsi bendungan sebagai bagian dari sistem sumber daya air Sungai Brantas tetap terjaga, sekaligus mendukung keberlanjutan manfaat irigasi dan pembangkitan energi bagi masyarakat.

Pewarta : *Deni Robi