Warganet Kecam Mural “Malang Menyala Bersama” Menghapus “Malang The Glory Land” 

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Mural ikonik di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang, menuai kecaman netizen setelah dinding bergambar “Malang The Glory Land” yang telah menjadi identitas Malang sejak 2016 tersebut ditimpa tulisan “Malang Menyala Bersama” dalam rangkaian Festival Mbois 11.

Kondisi mural lama itu menjadi sorotan setelah sejumlah foto yang memperlihatkan perubahan tampilan dinding beredar di media sosial. Persoalan tersebut kemudian mendapat respons dari panitia Festival Mbois yang menyampaikan permohonan maaf dan berkomitmen mengembalikan tulisan “Malang The Glory Land”.

Mural “Malang The Glory Land” sendiri identik dengan warna biru dan tulisan besar yang selama bertahun-tahun menghiasi kawasan tersebut. Karya visual itu diketahui telah menjadi salah satu penanda kawasan Jalan Arif Rahman Hakim, tidak jauh dari Alun-Alun Kota Malang.

Unggahan akun Instagram @malangraya_info menyebut mural tersebut dibuat komunitas supporter pada 2016 sebagai bentuk kecintaan sekaligus identitas bagi warga Malang dan klub sepak bola Arema.

Perubahan mural tersebut kemudian memantik reaksi warganet. Sebagian netizen menyayangkan karya yang telah lama dikenal masyarakat justru ditimpa untuk kepentingan kegiatan baru.

Kritik yang muncul di media sosial tidak hanya menyoroti perubahan visual mural, tetapi juga mempertanyakan komunikasi serta penghargaan terhadap karya yang telah lebih dahulu menghiasi ruang publik Kota Malang.

Panitia Festival Mbois Sampaikan Permohonan Maaf

Polemik tersebut kemudian mendapat respons dari pihak panitia Festival Mbois. Dalam pernyataan yang beredar, panitia menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa kurang berkenan atas tindakan penimpaan tulisan tersebut.

Panitia menyadari bahwa tulisan “Malang The Glory Land” bukan sekadar tulisan biasa. Karya tersebut dinilai memiliki cerita, makna, semangat, serta kebanggaan tersendiri bagi sejumlah komunitas dan masyarakat Kota Malang.

“Izin mewakili kawan-kawan panitia, kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya terkait tulisan ‘MALANG THE GLORY LAND’ yang sebelumnya sudah ada,” demikian pernyataan panitia.

Baca Juga:  Polresta Malang Kota Luncurkan Microsite Mudik Lebaran 2026, Pemudik Bisa Akses Pos Pengamanan hingga SPBU Lewat s.id/Makota2026

Panitia juga menyatakan menghargai karya yang telah ada dan meminta maaf apabila dalam proses kegiatan sebelumnya terdapat tindakan yang kurang berkenan.

Sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan terhadap karya lama tersebut, panitia menyatakan akan mengecat dan membuat kembali tulisan “Malang The Glory Land” seperti sebelumnya.

“Kami berkomitmen untuk mengecat dan membuat kembali tulisan ‘MALANG THE GLORY LAND’ seperti sebelumnya,” tulis panitia dalam pernyataan tersebut.

Panitia bahkan membuka ruang bagi kawan-kawan yang sebelumnya berkaitan dengan karya tersebut untuk terlibat dalam proses pengecatan dan pembuatan kembali.

Menurut panitia, keterlibatan bersama diharapkan dapat menjadi kesempatan untuk bertemu, berkomunikasi, sekaligus menghidupkan kembali ruang tersebut dengan semangat kebersamaan.

Mempunyai Nilai Cerita dan Kenangan Tinggi

Dalam pernyataannya, panitia mengakui bahwa ruang publik memiliki cerita dan kenangan yang tumbuh bersama banyak pihak. Karena itu, keberadaan karya lama di ruang publik dinilai sudah sepatutnya dihargai.

“Sekali lagi, kami dari seluruh panitia dengan tulus memohon maaf kepada kawan-kawan dan seluruh pihak yang merasa kurang berkenan,” lanjut pernyataan tersebut.

Panitia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik, kepala dingin, dan semangat kekeluargaan.

“Insyaallah, tulisan ‘MALANG THE GLORY LAND’ akan kami cat dan buat kembali. Kami berharap semuanya dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik, kepala dingin, dan semangat kekeluargaan,” demikian isi pernyataan panitia.

Panitia juga mengajak masyarakat untuk menjaga Kota Malang sebagai ruang kebanggaan, ruang berkarya, sekaligus ruang kebersamaan.

Festival Mbois 11 Usung Tema Malang Menyala

Festival Mbois 11 sendiri mengusung tema “Malang Menyala”. Salah satu rangkaian kegiatannya menghadirkan aktivasi mural sebagai bagian dari upaya menghidupkan ruang kreatif dan seni visual di Kota Malang.

Dalam pelaksanaannya, aktivasi ruang publik tersebut kemudian bersinggungan dengan keberadaan karya lama yang telah memiliki cerita tersendiri bagi sebagian masyarakat dan komunitas Malang.

Baca Juga:  Bazar Murah TNI di Lapangan Rampal Malang Hadirkan 180 Stan Sembako Jelang Lebaran

Persoalan ini sekaligus memunculkan diskusi mengenai keberadaan karya seni di ruang publik. Bagi sebagian masyarakat, mural tidak hanya menjadi gambar pada dinding, tetapi juga dapat merepresentasikan sejarah, identitas komunitas, dan memori sebuah kawasan.

Kecaman netizen terhadap penimpaan mural tersebut menjadi perhatian tersendiri di tengah semangat Festival Mbois yang membawa misi pengembangan ekosistem kreatif Kota Malang.

Respons panitia untuk mengembalikan “Malang The Glory Land” menjadi langkah lanjutan setelah munculnya kritik di ruang publik dan media sosial.

Selain menyampaikan permohonan maaf, panitia juga mengajak pihak-pihak terkait untuk terlibat dalam proses pengembalian tulisan tersebut sehingga persoalan tidak berhenti pada permintaan maaf, tetapi dapat diselesaikan secara bersama-sama.

Panitia Festival Mbois dalam pernyataannya juga meminta doa restu masyarakat untuk penyelenggaraan kegiatan Festival Mbois 11 dan rencana menyalakan Stadion Gajayana sebagai bagian dari rangkaian “Malang Menyala”.

Kini, publik menunggu realisasi pengembalian mural “Malang The Glory Land” sekaligus bagaimana proses komunikasi antara panitia, komunitas, dan pihak-pihak yang memiliki keterikatan dengan karya tersebut.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kreativitas di ruang publik tidak hanya berkaitan dengan karya baru, tetapi juga perlu memperhatikan karya, sejarah, identitas, dan memori yang telah lebih dahulu tumbuh di ruang tersebut.

Pewarta:*Deni Robi

Iklan
Iklan