FISIP UB Perkuat Literasi Kesehatan Mental, Soroti Stigma Berbasis Gender di Kalangan Mahasiswa

SUARAMALANG.COM, Kota Malang— Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) mendorong peningkatan literasi kesehatan mental sekaligus penghapusan stigma berbasis gender di kalangan mahasiswa melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kota Malang.

Kegiatan bertajuk “Penguatan Literasi Kesehatan Mental dan Stigma Berbasis Gender pada Mahasiswa di Sekitar Universitas Brawijaya, Kota Malang” itu digelar di Cafe Bunker Gedong Ijen, Jumat (15/8/2026), dan diikuti 30 peserta dari mahasiswa UB, mahasiswa perguruan tinggi lain, serta masyarakat umum.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pendanaan Internal FISIP UB yang menghadirkan psikiater RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, dr. Yuniar Sunarko, SpKJ(K), M.MRS, serta dosen Hubungan Internasional FISIP UB sekaligus pakar studi gender, Henny Rosalinda, Ph.D.

Ketua Pelaksana kegiatan, Henny Rosalinda, mengatakan literasi kesehatan mental perlu diperkuat di kalangan generasi muda. Menurutnya, persoalan kesehatan mental tidak dapat dipisahkan dari berbagai faktor sosial, termasuk konstruksi dan norma gender yang berkembang di masyarakat.

Dalam sesi pertama, dr. Yuniar Sunarko mengajak peserta meningkatkan kesadaran terhadap kondisi diri sendiri atau self-awareness sebagai langkah awal menjaga kesehatan mental.

Mahasiswa, menurutnya, berada dalam masa transisi yang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tuntutan akademik, penyesuaian lingkungan, target prestasi, persoalan relasi sosial, hingga kekhawatiran terhadap masa depan.

Faktor Tertentu Bukan Kelemahan

Ia menegaskan stres, kesedihan, kecemasan, maupun kelelahan emosional bukan merupakan tanda kelemahan.

Namun, seseorang perlu mencari bantuan profesional apabila keluhan berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari maupun fungsi akademik dan sosial.

Baca Juga:  UB dan Imigrasi Malang Perpanjang Kerja Sama, Perkuat Layanan Internasional dan Riset

“Ketika kondisi tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, seseorang tidak perlu ragu untuk mencari pertolongan kepada tenaga profesional,” ujarnya.

Dr. Yuniar juga menekankan pentingnya dukungan lingkungan terhadap individu yang sedang menghadapi persoalan kesehatan mental. Keluarga, teman, hingga lingkungan kampus dinilai memiliki peran dalam menciptakan ruang yang aman dan suportif.

Peserta juga diajak untuk tidak mudah menghakimi orang lain serta berani mengarahkan teman yang membutuhkan pertolongan kepada layanan profesional.

Dalam sesi berikutnya, Henny Rosalinda mengangkat materi bertajuk “Boleh Rapuh, Berhak Ditolong”. Ia menyoroti bagaimana norma dan konstruksi gender dapat memengaruhi cara seseorang mengekspresikan emosi dan mencari pertolongan.

Norma Gender Pengaruhi Kesehatan Mental

Menurut Henny, kesehatan mental tidak terbentuk dalam ruang hampa. Kondisi sosial, ekonomi, keluarga, lingkungan pendidikan, hingga norma gender dapat memengaruhi tekanan yang dialami seseorang.

Ia menjelaskan, masyarakat masih memiliki sejumlah konstruksi gender yang berpotensi memperkuat stigma terhadap persoalan kesehatan mental.

Laki-laki, misalnya, kerap mendapat tuntutan untuk selalu kuat, tidak menangis, dan menyelesaikan persoalan sendiri. Di sisi lain, perempuan sering diberi label negatif ketika mengekspresikan emosi, seperti dianggap terlalu sensitif atau dramatis.

Menurutnya, konstruksi tersebut dapat menjadi hambatan bagi seseorang untuk terbuka dan mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan kesehatan mental.

Peserta juga diperkenalkan pada tiga bentuk stigma terhadap kesehatan mental, yakni stigma publik, stigma terhadap diri sendiri, dan stigma struktural.

Penanganan Stress Akademik Berbeda

Baca Juga:  UM Pilih Fokus Riset dan Edukasi dalam Program Pemenuhan Gizi Nasional

Karena itu, perubahan cara pandang masyarakat dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan aman bagi individu yang membutuhkan bantuan.

Sepanjang kegiatan, peserta mengajukan sejumlah pertanyaan, mulai dari cara membedakan stres akademik yang masih dapat dikelola dengan kondisi yang membutuhkan penanganan profesional, hingga cara menghadapi tekanan selama menjalani perkuliahan.

Kesehatan Mental Dipengaruhi Lingkungan

Pada sesi penutup, dr. Yuniar kembali mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan dukungan lingkungan.

Ia menegaskan, mencari bantuan kepada psikolog maupun psikiater bukan merupakan bentuk kelemahan, melainkan langkah untuk menjaga kualitas hidup.

Henny pun mengajak peserta mulai membangun komunikasi yang tidak menghakimi dan menjadi lingkungan yang aman bagi orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan.

Pesan utama kegiatan tersebut, menurutnya, adalah membangun kesadaran bahwa setiap orang dapat mengalami masa sulit dan memiliki hak untuk mendapatkan pertolongan.

“Boleh rapuh, boleh berbicara, dan setiap orang berhak ditolong.”

Pewarta: *Halim Ali

Iklan
Iklan