Berita  

Deforestasi Turun di Atas Kertas, Hutan Indonesia Tetap Terdesak Pangan, Energi dan Pembangunan

SUARAMALANG.COM – Indonesia masih mencatat kehilangan hutan dalam skala besar, meski pemerintah terus menonjolkan keberhasilan pengendalian deforestasi.

Data Kementerian Kehutanan mencatat deforestasi netto Indonesia mencapai 175.437 hektare sepanjang 2024. Angka itu berasal dari deforestasi bruto 216.200 hektare setelah dikurangi reforestasi 40.800 hektare.

Ironisnya, tekanan terhadap hutan tidak benar-benar berhenti ketika angka deforestasi mulai melandai. Ancaman kini datang melalui proyek pangan, energi, pertambangan, pembangunan infrastruktur, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Hutan Masih Luas, Kehilangan Tetap Berjalan

Kementerian Kehutanan mencatat Indonesia memiliki 95,5 juta hektare lahan berhutan pada 2024. Luasan itu setara 51,1 persen dari total daratan Indonesia.

Sebanyak 87,8 juta hektare atau 91,9 persen lahan berhutan tersebut berada di dalam kawasan hutan. Namun, angka luas tersebut belum otomatis menunjukkan seluruh kawasan memiliki kondisi ekologis yang tetap terjaga.

Global Forest Watch mencatat Indonesia kehilangan sekitar 33 juta hektare tutupan pohon sepanjang 2001 hingga 2025. Dalam periode itu, Indonesia juga kehilangan sekitar 11 juta hektare hutan primer lembap.

Data tersebut menunjukkan persoalan hutan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kehilangan kawasan. Degradasi juga terus menggerus kualitas hutan yang secara administratif masih tercatat sebagai kawasan berhutan.

Baca Juga:  Limbah Dapur MBG Disorot: Dari Ancaman Tersembunyi hingga Peluang Ekonomi

Tren Kehilangan Hutan Kembali Mengkhawatirkan

Tekanan terhadap hutan bahkan kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data Global Forest Watch mencatat Indonesia kehilangan sekitar 300.000 hektare hutan alam sepanjang 2025.

Catatan tersebut memperlihatkan kehilangan hutan alam meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspansi pertanian dan proyek pemanfaatan lahan masih menjadi salah satu tekanan utama terhadap kawasan berhutan.

Reuters juga melaporkan proyek swasembada pangan dan energi ikut meningkatkan perhatian terhadap masa depan hutan Indonesia. Ambisi pembangunan dinilai berpotensi berbenturan dengan target perlindungan kawasan berhutan.

“Dari semua tren pelaporan investasi tahunan, angkanya naik. Sejak 2017 tren Indonesia menurun, tetapi sejak 2022 kembali meningkat,” kata Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara Deddy Sukmara.

Ia menyebut peningkatan kehilangan hutan pada 2025 mencapai 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Sekitar 400.000 hektare hutan alam di Indonesia hilang pada 2025,” ujar Deddy.

Kebakaran Menambah Daftar Luka Hutan Indonesia

Masalah lain datang dari kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang setiap musim kering. Kementerian Kehutanan mencatat 376.805 hektare kawasan terdampak kebakaran sepanjang 2024.

Situasi kembali memburuk pada 2026 ketika musim kering dan penguatan El Nino meningkatkan risiko kebakaran. Data pemerintah menunjukkan kebakaran menghanguskan hampir 95.000 hektare lahan sepanjang Juli 2026 saja.

Baca Juga:  Kombes Pol Budi Hermanto Dimutasi ke Polda Jatim, Setelah Mengukir Banyak Prestasi Yang Mengiringi Karirnya. Gubernur LIRA : Bang Buher Layak Mendapat Bintang.

“Luas area terdampak sudah melampaui level 2019 dan 2023,” kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam rapat dengan parlemen.

Ia menilai kondisi El Nino saat ini memiliki kemiripan dengan periode 2015. Namun, pemerintah masih berupaya mencegah luas kebakaran kembali menyamai bencana besar sebelas tahun lalu.

Catatan itu memperlihatkan persoalan hutan Indonesia kini semakin kompleks. Ancaman tidak lagi hanya datang dari pembalakan liar atau pembukaan lahan tradisional.

Hutan kini menghadapi tekanan atas nama ketahanan pangan, energi, investasi dan pembangunan. Tantangan pemerintah bukan sekadar menurunkan angka deforestasi, melainkan memastikan pembangunan tidak terus mengorbankan hutan sebagai harga pertumbuhan.

Iklan
Iklan