Berita  

Sound Horeg: Antara Budaya Populer dan Tren Hiburan yang Belum Tentu Bertahan

SUARAMALANG.COM – Dentuman bass dari tumpukan speaker raksasa kini tidak sekadar mengiringi hajatan atau karnaval. Sound horeg berkembang menjadi fenomena sosial yang memunculkan perdebatan tentang hiburan, ruang publik, dan budaya.

Di Malang Raya dan sejumlah wilayah Jawa Timur, sound horeg mampu mengumpulkan banyak orang. Musik keras, lampu, kendaraan, dan kerumunan warga kemudian membentuk wajah baru pesta rakyat.

Namun, popularitas sound horeg juga memunculkan pertanyaan yang belum menemukan jawaban tunggal. Apakah fenomena itu telah menjadi bagian dari budaya atau hanya tren hiburan yang sedang mencapai puncak popularitas?

Ruang Ekspresi dan Pertemuan Masyarakat

Bagi sebagian masyarakat, sound horeg kini melampaui fungsi sebagai perangkat audio. Kehadirannya menciptakan ruang pertemuan, hiburan, serta ekspresi bagi warga dari berbagai latar belakang.

Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., melihat sound horeg sebagai bagian dari perkembangan budaya populer. Menurutnya, masyarakat terus mencari cara baru untuk merayakan kegembiraan dan mengekspresikan diri.

Baca Juga:  Kondisi Terkini 3 Korban Luka Bakar Akibat Ledakan di SPPG Mojokerto

“Sound Horeg menjadi ruang rindu sebagian anak bangsa untuk bertemu di ruang terbuka, melepas kepenatan ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengekspresikan diri secara bebas,” ujar Wahyudi.

Fenomena itu juga menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi acara. Pemilik sound system, pekerja acara, pedagang, hingga penyedia jasa lain ikut memperoleh peluang dari keramaian tersebut.

Popularitas Tidak Selalu Sama dengan Budaya

Namun, ramainya sebuah fenomena belum otomatis menjadikannya budaya. Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, Didid Haryadi, melihat sound horeg lebih dekat dengan fenomena hiburan temporer.

“Kalau kita bicara budaya, itu bukan hanya soal populer atau tidak. Budaya itu adalah panduan hidup, a way of life yang dipelajari, dimiliki bersama, dan dipraktikkan terus-menerus,” ujar Didid.

Pandangan tersebut membuka ruang pertanyaan tentang masa depan sound horeg. Fenomena ini memang telah membentuk komunitas dan identitas, tetapi waktu akan menentukan daya tahannya.

Ketika Hiburan Memasuki Ruang Bersama

Polemik juga muncul ketika dentuman sound horeg menjangkau warga yang tidak mengikuti kegiatan. Hak masyarakat untuk berekspresi kemudian bertemu dengan hak warga lain untuk menikmati ketenangan.

Baca Juga:  Sidang Kode Etik Ditunda Mendadak, PBH Peradi Malang Soroti Transparansi dan Profesionalitas

Karena itu, perdebatan sound horeg tidak cukup berhenti pada pilihan melarang atau membiarkan. Pemerintah perlu mengatur batas volume, waktu, lokasi, dan tanggung jawab penyelenggara secara jelas.

Pada akhirnya, sound horeg bukan hanya soal speaker dan musik keras. Fenomena ini membuka pertanyaan tentang budaya, hiburan rakyat, ekonomi, serta batas kebebasan dalam menggunakan ruang publik.

Iklan
Iklan