Berita  

Bukan yang Terparah di Dunia, Tapi Indonesia Tetap Masuk Episentrum Krisis Hutan Tropis

SUARAMALANG.COM – Indonesia belum bisa disebut sebagai negara dengan kerusakan hutan paling parah di dunia. Namun, catatan kehilangan hutannya tetap menempatkan Indonesia dalam kelompok negara paling krusial bagi masa depan hutan tropis planet ini.

Data Global Forest Watch mencatat Indonesia kehilangan 33 juta hektare tutupan pohon sepanjang 2001 hingga 2025. Angka itu setara 21 persen tutupan pohon Indonesia pada tahun 2000.

Dalam periode 2002 hingga 2025, Indonesia juga kehilangan sekitar 11 juta hektare hutan primer lembap. Hutan jenis ini memiliki peran penting dalam penyimpanan karbon dan perlindungan keanekaragaman hayati.

Angka tersebut menjelaskan posisi Indonesia dalam krisis global. Indonesia memang bukan satu-satunya negara dengan kehilangan hutan besar, tetapi kerusakannya berlangsung dalam skala yang sangat signifikan.

Brasil Masih Memikul Kehilangan Terbesar

Laporan Global Forest Watch menunjukkan Brasil masih menjadi salah satu negara dengan kehilangan hutan primer terbesar. Negara itu juga memiliki kawasan hutan tropis tersisa terbesar di dunia.

Pada 2025, dunia kehilangan sekitar 4,3 juta hektare hutan tropis primer. Angka tersebut turun 36 persen dibandingkan 2024 yang mencatat rekor kehilangan hutan sangat tinggi.

Penurunan itu banyak dipengaruhi perubahan kebijakan perlindungan hutan di Brasil. Namun, laju kehilangan hutan dunia masih jauh dari target penghentian dan pemulihan hutan pada 2030.

Elizabeth Goldman, salah satu direktur Global Forest Watch, menilai kebijakan yang tegas masih mampu menghasilkan perubahan. “It’s encouraging, when the problem feels massive, that there are real interventions that work out there and we can see it in the data,” katanya.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Desak Perang Israel-Hamas Palestina Dihentikan, Minta Menlu Lindungi WNI

Global Forest Watch mencatat negara-negara masih kehilangan hutan jauh di atas jalur target 2030. Negara-negara dengan hutan tropis besar, termasuk Indonesia, tetap menjadi penentu keberhasilan target tersebut.

Indonesia Justru Mengalami Lonjakan pada 2025

Di tengah penurunan kehilangan hutan tropis secara global, Indonesia menghadapi arah berbeda pada 2025. Auriga Nusantara mencatat kehilangan hutan Indonesia mencapai 433.751 hektare sepanjang tahun tersebut.

Angka itu melonjak 66 persen dibandingkan 261.575 hektare pada 2024. Reuters menyebut lonjakan tersebut menjadi tingkat kehilangan hutan tertinggi Indonesia dalam delapan tahun terakhir.

Ketua Auriga Nusantara Timer Manurung menyebut lonjakan itu sebagai peringatan serius. “The surge in deforestation in 2025 is truly distressing, taking Indonesia back to a time when it was at its highest,” katanya kepada Reuters.

Auriga mencatat Kalimantan, Sumatra dan Papua menghadapi tekanan terbesar. Pembukaan kawasan untuk pertanian, energi, perkebunan, pertambangan dan proyek pembangunan memperbesar risiko kehilangan hutan.

Data Auriga juga menunjukkan sekitar 41.162 hektare kehilangan hutan pada 2025 berkaitan dengan ekspansi industri pertambangan. Komoditas batu bara, emas dan nikel ikut memperluas tekanan terhadap kawasan berhutan.

Masalah terbesar kini bukan lagi sekadar pembalakan liar. Deforestasi juga muncul melalui pembukaan lahan yang memperoleh izin untuk perkebunan, pertambangan, proyek pangan dan pembangunan strategis.

Baca Juga:  CCTV Bundaran HI Tak Dapat Diakses Saat Demo BEM UI, Publik Kesulitan Pantau Situasi

“Planned deforestation remains the main problem in Indonesia,” kata Timer Manurung dalam laporan Reuters. Ia menilai pembukaan hutan yang mendapat izin menjadi tantangan utama perlindungan hutan Indonesia.

Indonesia juga menghadapi paradoks pembangunan yang semakin jelas. Pemerintah mendorong ketahanan pangan dan energi, tetapi ekspansi program tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap hutan alam.

Reuters mencatat sekitar 20,6 juta hektare lahan telah disiapkan untuk program pangan, energi dan air. Sebagian kawasan tersebut masih berupa hutan alam yang kini menghadapi risiko perubahan fungsi.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah Indonesia menjadi negara paling parah dalam kerusakan hutan dunia. Persoalan yang lebih mendesak adalah mengapa Indonesia kembali mencatat lonjakan ketika kehilangan hutan tropis global justru menurun.

Catatan 2025 menjadi alarm bahwa keberhasilan menekan deforestasi sebelumnya belum menjamin hutan Indonesia aman. Ketika pembangunan terus membutuhkan lahan baru, hutan kembali berada di garis depan sebagai korban kompromi pertumbuhan.

Iklan
Iklan