Susur Sungai Bango Malang, 150 Personel Petakan Pencemaran, Sampah hingga Tanggul Longsor

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Sungai Bango di wilayah Malang tengah menghadapi sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut kini dipetakan melalui penyusuran sungai yang melibatkan sekitar 150 personel lintas instansi.

Tim gabungan turun langsung pada Rabu (9/9/2026). Mereka menyusuri aliran Sungai Bango beserta anak sungainya untuk melihat kondisi lapangan secara lebih menyeluruh.

Pendekatan ini menjadi penting karena persoalan sungai tidak hanya berkaitan dengan debit atau aliran air. Lingkungan di sekitar sungai juga ikut menentukan fungsi dan keberlanjutan ekosistemnya.

Bukan Sekadar Mengecek Aliran Sungai

Petugas mencari berbagai kondisi yang berpotensi mengganggu fungsi sungai. Mereka antara lain memetakan titik pencemaran dan lokasi penumpukan sampah.

Tim juga memperhatikan kondisi tanggul yang mengalami longsor. Selain itu, keberadaan bangunan liar serta kondisi sempadan masuk dalam daftar yang mereka identifikasi.

Temuan tersebut memiliki karakter berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Karena itu, Perum Jasa Tirta I mengajak berbagai instansi untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan SDA Brantas I Perum Jasa Tirta I, Arief Satria M, menjelaskan tujuan penyusuran tersebut.

“Jadi hari ini kita melaksanakan kegiatan susur Sungai Bango. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi fisik yang ada di Sungai Bango beserta anak-anak sungainya,” kata Arief.

Menurut Arief, pengamatan langsung memberikan gambaran mengenai kondisi fisik sungai. Data tersebut selanjutnya dapat membantu menentukan persoalan yang membutuhkan penanganan.

“Hal-hal yang diidentifikasi meliputi titik pencemaran, titik penumpukan sampah, kondisi tanggul longsor, kondisi sempadan, bangunan liar, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Baca Juga:  Kebakaran Ruang Praktikum Polinema Diduga Dipicu Korsleting Baterai, Kerugian Capai Rp50 Juta

150 Personel Dibagi Sesuai Kewenangan

Personel lintas instansi bersiap mengikuti kegiatan Susur Sungai Bango 2026.
Personel lintas instansi bersiap mengikuti Susur Sungai Bango 2026 untuk memetakan kondisi sungai dan berbagai persoalan di sepanjang alirannya. (Sumber : jasatirta1.co.id)

Jumlah personel yang terlibat mencapai sekitar 150 orang. Mereka berasal dari berbagai unsur yang memiliki tugas berkaitan dengan pengelolaan sungai dan lingkungan.

Perum Jasa Tirta I melibatkan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, TNI, Polri, serta instansi terkait lainnya. Pelibatan tersebut menyesuaikan wilayah dan kewenangan setiap lembaga.

Arief menilai pola tersebut penting karena satu persoalan tidak selalu menjadi tanggung jawab lembaga yang sama. Sampah, misalnya, membutuhkan keterlibatan instansi yang menangani lingkungan.

Sementara itu, persoalan tanggul atau infrastruktur membutuhkan perhatian dinas teknis. Kondisi sempadan dan bangunan liar juga dapat membutuhkan koordinasi lebih lanjut sesuai aturan dan kewenangan.

“Kegiatan ini melibatkan banyak instansi dengan total sekitar 150 orang personel. Pelibatannya secara gabungan, misalnya untuk area Malang melibatkan DLH Malang, Dinas PU Malang, dan instansi lain sesuai dengan wilayah dan kewenangannya masing-masing,” jelasnya.

Pembagian tersebut membuat hasil penyusuran memiliki fungsi lebih dari sekadar dokumentasi. Setiap temuan dapat diteruskan kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk menanganinya.

Sungai Bango Baru Pertama Kali Disusuri

Kondisi aliran Sungai Bango dengan vegetasi dan material di sekitar bantaran sungai.
Kondisi salah satu aliran Sungai Bango yang menjadi bagian dari pemantauan dalam kegiatan susur sungai. (Sumber : jasatirta1.co.id)

Kegiatan kali ini juga memiliki catatan khusus bagi Perum Jasa Tirta I. Susur Sungai Bango menjadi kegiatan pertama yang secara khusus dilakukan pada sungai tersebut.

Meski demikian, Perum Jasa Tirta I secara umum rutin melakukan kegiatan susur sungai. Pemantauan biasanya berlangsung setiap dua hingga tiga tahun sekali.

Baca Juga:  UMM Open Karate Championship 2026 Targetkan 1.200 Atlet, Siapkan Golden Ticket Kuliah

“Untuk kegiatan susur sungai, kami rutin melaksanakannya setiap dua hingga tiga tahun sekali. Namun, khusus untuk Sungai Bango, ini baru pertama kali dilaksanakan,” tutur Arief.

Dengan pemetaan perdana tersebut, Perum Jasa Tirta I memiliki gambaran lebih lengkap mengenai kondisi Sungai Bango. Data lapangan juga dapat menjadi pembanding untuk pemantauan pada periode berikutnya.

Hal itu menjadi relevan karena kondisi sungai dapat berubah akibat aktivitas manusia maupun faktor lingkungan. Perubahan penggunaan ruang, sampah, pencemaran, serta kerusakan tanggul dapat memengaruhi fungsi sungai.

Persoalannya Ada pada Tindak Lanjut

Pemetaan lapangan menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya berada pada tindak lanjut setelah seluruh temuan terkumpul.

Arief memastikan hasil penyusuran akan disampaikan kepada instansi yang memiliki kewenangan. Dengan begitu, setiap persoalan dapat diarahkan kepada pihak yang tepat.

“Hasil dari susur sungai ini akan kami serahkan kepada masing-masing instansi berwenang untuk segera ditindaklanjuti,” pungkasnya.

Langkah tersebut menjadi penting agar temuan mengenai pencemaran, sampah, tanggul, sempadan, dan bangunan liar tidak berhenti sebagai daftar persoalan.

Sungai Bango kini setidaknya memiliki peta kondisi terbaru dari hasil pengamatan langsung. Selanjutnya, efektivitas kegiatan tersebut akan terlihat dari seberapa jauh data itu mendorong tindakan nyata.