YOLO vs Frugal Living: Kenapa Anak Muda Mulai Berpikir Dua Kali Sebelum Belanja?

SUARAMALANG.COM – Dulu, prinsip YOLO atau You Only Live Once terasa sederhana: hidup hanya sekali, jadi tidak ada salahnya menikmati hasil kerja hari ini. Nongkrong, traveling, mencoba restoran baru, membeli barang yang diinginkan, hingga mengikuti tren terbaru menjadi bagian dari cara menikmati hidup.

Namun, belakangan muncul pertanyaan baru sebelum transaksi terjadi: “Ini memang ingin dibeli, atau cuma sedang ingin merasa tidak ketinggalan?”

Di titik inilah frugal living semakin menarik perhatian. Gaya hidup hemat bukan berarti berhenti menikmati hidup atau mengubah diri menjadi terlalu perhitungan, melainkan mulai melihat uang sebagai sumber daya yang perlu digunakan secara sadar.

Benturan YOLO dan frugal living akhirnya bukan sekadar soal memilih antara boros atau pelit. Di kalangan anak muda, persoalannya lebih kompleks: bagaimana tetap menikmati masa sekarang tanpa membuat masa depan ikut membayar tagihannya?

Frugal Living Bukan Berarti Harus Berhenti Menikmati Hidup

Secara sederhana, frugal living dapat dipahami sebagai gaya hidup yang membuat seseorang lebih sadar terhadap cara menggunakan uang. Fokusnya bukan semata-mata mengeluarkan uang sesedikit mungkin, tetapi mempertimbangkan kebutuhan, manfaat, prioritas, dan kemampuan finansial sebelum membeli sesuatu.

Pandangan ini semakin mendapat tempat di kalangan anak muda Indonesia. Antropolog Universitas Indonesia Semiarto Aji Purwanto menyebut gaya hidup hemat kini semakin diterima sebagai pilihan sadar. Menurutnya, generasi muda mulai mempertimbangkan kesesuaian antara uang yang dikeluarkan dan manfaat yang diperoleh.

Dengan kata lain, membeli kopi Rp40 ribu tidak otomatis bertentangan dengan frugal living. Begitu juga pergi berlibur atau membeli pakaian yang disukai.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang membeli sesuatu tanpa mempertimbangkan kemampuan finansialnya hanya karena dorongan sesaat.

Di sinilah frugal living berbeda dari sekadar “pelit”.

Orang yang menjalani hidup hemat masih bisa mengeluarkan uang untuk hal yang dianggap penting. Bedanya, pengeluaran tersebut biasanya lebih terencana dan memiliki alasan yang jelas.

Ketika YOLO Mulai Bertemu dengan Realitas Finansial

YOLO sebenarnya tidak selalu identik dengan perilaku konsumtif. Prinsip “hidup hanya sekali” juga bisa berarti berani mencoba pengalaman baru, bertemu teman, bepergian, atau menikmati hasil kerja.

Masalah muncul ketika prinsip tersebut diterjemahkan menjadi pembenaran untuk selalu membeli sesuatu.

Media sosial membuat persoalan ini semakin rumit. Foto liburan, restoran baru, konser, outfit, gadget, hingga tren makanan dapat muncul setiap hari di layar. Sesuatu yang awalnya tidak ada dalam daftar kebutuhan tiba-tiba terasa seperti pengalaman yang harus dimiliki.

Tekanan untuk ikut serta inilah yang kemudian bertemu dengan FOMO atau fear of missing out.

Sebuah penelitian mengenai Gen Z di Indonesia menemukan bahwa lingkungan konsumsi digital dan tantangan finansial menjadi konteks penting dalam hubungan antara frugal living, kesejahteraan finansial, dan keputusan pembelian. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa frugal living berkaitan dengan peningkatan financial well-being, sementara kesejahteraan finansial kemudian berhubungan dengan keputusan pembelian yang lebih bertanggung jawab.

Artinya, perubahan perilaku belanja tidak hanya berbicara mengenai harga barang.

Ada persoalan yang lebih besar: bagaimana seseorang merasa aman dan memiliki kendali atas uangnya sendiri.

Kenapa Anak Muda Mulai Berpikir Dua Kali Sebelum Belanja?

Ada beberapa alasan yang membuat keputusan belanja menjadi lebih penuh pertimbangan.

Pertama, biaya hidup semakin terasa sebagai bagian dari keputusan sehari-hari. Uang yang sebelumnya cukup untuk beberapa kebutuhan kini harus dibagi untuk lebih banyak tujuan.

Kedua, dunia kerja juga berubah. Ekonomi gig, pekerjaan lepas, kontrak, dan pola kerja fleksibel membuat sebagian anak muda menghadapi pendapatan yang tidak selalu memiliki tingkat kepastian sama seperti pekerjaan konvensional.

Baca Juga:  Pujian Pangeran William untuk Perawat Kate Middleton Tuai Kontroversi

Guru Besar FISIP Universitas Indonesia Semiarto Aji Purwanto menilai perubahan dunia kerja ikut mendorong generasi muda lebih rasional dalam menentukan pengeluaran. Menurutnya, mereka mulai melihat hubungan antara apa yang dikeluarkan dengan apa yang diperoleh.

Ketiga, ada perubahan cara memandang keberhasilan.

Jika sebelumnya keberhasilan gaya hidup sering dikaitkan dengan barang yang dimiliki atau pengalaman yang bisa dipamerkan, sebagian anak muda kini mulai melihat kemampuan mengatur uang sebagai bentuk pencapaian tersendiri.

Punya dana darurat.

Bisa membayar kebutuhan bulanan tanpa berutang.

Memiliki tabungan.

Mampu membeli sesuatu yang memang diinginkan tanpa mengorbankan kebutuhan lain.

Semua itu mulai dianggap sebagai bentuk “menikmati hidup” yang berbeda.

Dari “Beli Dulu, Pikir Belakangan” Menjadi Conscious Spending

Perubahan ini juga melahirkan konsep yang berdekatan dengan frugal living, yaitu conscious spending atau konsumsi secara sadar.

Prinsipnya sederhana: bukan berhenti membeli, tetapi memahami alasan di balik pembelian.

Misalnya, seseorang memiliki uang Rp1 juta untuk hiburan dalam sebulan. Ia dapat memilih menggunakan sebagian untuk makan bersama teman, menonton konser, atau melakukan perjalanan singkat.

Namun, setelah anggaran tersebut habis, ia tidak memaksakan diri mengikuti aktivitas berikutnya dengan paylater atau utang konsumtif.

Di sinilah batas antara YOLO dan frugal living mulai terlihat lebih fleksibel.

Seseorang masih bisa berkata, “Saya ingin menikmati hidup.”

Tetapi kalimat berikutnya berubah menjadi, “Saya juga tahu berapa yang sanggup saya keluarkan.”

Konsep tersebut membuat hidup hemat tidak harus terasa seperti hukuman.

Frugal Living Bisa Berarti Memilih, Bukan Sekadar Mengurangi

Kesalahpahaman paling umum tentang frugal living adalah anggapan bahwa gaya hidup ini mengharuskan seseorang mengurangi semua kesenangan.

Padahal, inti yang lebih penting justru ada pada prioritas.

Misalnya, seseorang bisa memilih memasak sendiri pada hari kerja karena ingin memiliki anggaran lebih besar untuk traveling pada akhir bulan.

Ada pula yang memilih membeli pakaian lebih sedikit tetapi dengan kualitas lebih baik karena tidak ingin terus mengikuti tren.

Yang lain mungkin mengurangi langganan layanan digital yang jarang digunakan, lalu mengalokasikan uangnya untuk olahraga atau kursus yang memang dibutuhkan.

Pola tersebut menunjukkan bahwa frugal living tidak selalu berarti “jangan beli”.

Lebih tepat jika dipahami sebagai:

“Beli sesuatu yang memang memiliki nilai bagi hidupmu.”

Definisi nilai tentu berbeda bagi setiap orang.

Bagi mahasiswa, membeli laptop mungkin merupakan kebutuhan penting. Bagi pekerja kreatif, berlangganan perangkat lunak tertentu bisa menjadi investasi produktivitas. Bagi seseorang yang sangat menikmati perjalanan, anggaran liburan mungkin justru menjadi prioritas.

Karena itu, gaya hidup hemat tidak memiliki satu formula yang berlaku untuk semua orang.

Batas Sehat antara Hemat dan Terlalu Menahan Diri

Meski terdengar positif, frugal living juga perlu dijalankan secara realistis.

Terlalu fokus pada penghematan dapat membuat seseorang merasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang, termasuk untuk kebutuhan yang sebenarnya wajar.

Misalnya, menolak semua ajakan bertemu teman karena takut mengeluarkan uang. Atau selalu memilih pilihan termurah meskipun kualitasnya jauh lebih rendah dan akhirnya membutuhkan biaya lebih besar untuk menggantinya.

Hidup hemat seharusnya membantu seseorang mendapatkan kendali atas uang, bukan membuat uang mengendalikan seluruh keputusan hidup.

Karena itu, penting membedakan antara pengeluaran yang tidak perlu dan pengeluaran yang memang memberikan nilai.

Makan bersama teman bisa menjadi pengeluaran sosial.

Berlibur bisa menjadi pengalaman.

Membeli buku bisa menjadi investasi pengetahuan.

Membayar gym bisa menjadi bagian dari rutinitas kesehatan.

Tidak semua pengeluaran yang bukan kebutuhan pokok otomatis merupakan pemborosan.

Baca Juga:  Memendam Emosi Terus-Menerus Bisa Berdampak pada Tubuh, Ini Penjelasannya

Cara Menjalani Frugal Living Tanpa Merasa Sedang Menghukum Diri

Bagi anak muda yang ingin mulai menjalani frugal living, perubahan tidak harus dimulai dengan memangkas seluruh pengeluaran.

Cara yang lebih realistis adalah melihat pola pengeluaran selama beberapa minggu.

Perhatikan tiga hal:

Apa yang paling sering dibeli?

Apa yang sebenarnya jarang digunakan?

Pengeluaran mana yang setelah dilakukan justru membuat menyesal?

Dari sana, mulai pisahkan kebutuhan, keinginan, dan pengeluaran yang muncul karena dorongan sosial.

Langkah berikutnya adalah membuat “uang untuk bersenang-senang”. Jumlahnya disesuaikan dengan pendapatan dan kebutuhan masing-masing.

Dengan cara ini, seseorang tidak perlu merasa bahwa setiap pembelian adalah sebuah kegagalan finansial.

Ada ruang untuk menikmati hidup, tetapi ruang tersebut memiliki batas.

Anak Muda Tidak Harus Memilih YOLO atau Frugal Living

Pada akhirnya, YOLO dan frugal living sebenarnya tidak harus ditempatkan sebagai dua gaya hidup yang saling berlawanan.

Keduanya bisa berada dalam kehidupan orang yang sama.

Seseorang bisa menabung selama beberapa bulan untuk kemudian menggunakan sebagian uangnya untuk traveling. Bisa membawa bekal ke kantor hampir setiap hari tetapi tetap makan di restoran favorit pada akhir pekan. Bisa membeli barang yang mahal ketika memang dibutuhkan, tetapi menolak pembelian impulsif.

Perbedaannya terletak pada kesadaran.

YOLO tanpa perencanaan dapat berubah menjadi keputusan yang menyulitkan diri sendiri. Sebaliknya, frugal living tanpa ruang untuk menikmati hidup bisa terasa terlalu kaku.

Jalan tengahnya adalah mengetahui apa yang penting.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan OJK, LPS, dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Pada kelompok usia 18–25 tahun, indeks literasi keuangan tercatat 73,32 persen dan inklusi keuangan 95,69 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kelompok muda sudah menjadi bagian penting dalam ekosistem keuangan formal. Tantangannya kemudian bukan sekadar memiliki akses terhadap produk keuangan, tetapi mampu menggunakannya dengan keputusan yang sesuai kemampuan dan tujuan masing-masing.

Ketika “Menikmati Hidup” Tidak Lagi Harus Mahal

Perubahan paling menarik dari tren frugal living mungkin bukan soal berapa banyak uang yang berhasil dihemat.

Lebih dari itu, ada perubahan definisi mengenai apa yang dianggap sebagai kehidupan yang menyenangkan.

Menikmati hidup tidak harus selalu berarti membeli sesuatu.

Bisa berjalan pagi, memasak bersama teman, membaca buku, menikmati ruang publik, melakukan hobi, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau mengambil waktu istirahat dari pekerjaan.

Bagi sebagian anak muda, justru kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut tanpa terus merasa harus mengeluarkan uang menjadi bentuk kebebasan baru.

Pada titik ini, frugal living bukan tentang kembali ke kehidupan serba kekurangan. Ia lebih dekat dengan pertanyaan sederhana sebelum membuka aplikasi belanja:

“Saya benar-benar menginginkan ini, atau saya hanya sedang terbawa suasana?”

Jika jawabannya memang ingin dan kemampuan finansial memungkinkan, tidak ada alasan untuk merasa bersalah.

Namun, jika jawabannya hanya karena takut tertinggal tren, mungkin ada baiknya menunggu sebentar.

Karena hidup memang hanya sekali. Tetapi tagihan, kebutuhan masa depan, dan kondisi keuangan juga tetap ada besok.