FOMO Bikin Boros? Ini Tanda Kamu Mulai Terjebak Tren Media Sosial

SUARAMALANG.COM – Pernah membuka media sosial hanya untuk melihat satu video, lalu beberapa menit kemudian sudah memasukkan barang ke keranjang? Bisa jadi bukan karena barang itu benar-benar dibutuhkan, melainkan karena muncul perasaan takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO).

Masalahnya, FOMO tidak berhenti pada keinginan untuk tahu apa yang sedang ramai. Dalam ekosistem media sosial dan social commerce, rasa takut tertinggal dapat bertemu dengan diskon, flash sale, rekomendasi influencer, konten viral, hingga tombol beli yang tersedia dalam satu layar.

Akibatnya, keputusan membeli yang awalnya terasa kecil bisa berubah menjadi pengeluaran rutin yang diam-diam menguras dompet.

Apa Itu FOMO dan Kenapa Bisa Mempengaruhi Keputusan Belanja?

FOMO atau fear of missing out merupakan perasaan khawatir tertinggal dari pengalaman, informasi, aktivitas, atau peluang yang sedang dinikmati orang lain. Istilah ini semakin lekat dengan media sosial karena pengguna dapat melihat begitu banyak aktivitas orang lain secara terus-menerus.

Dalam konteks konsumsi, FOMO bisa muncul ketika seseorang melihat banyak orang menggunakan produk tertentu, mencoba makanan yang sedang viral, menghadiri konser, memakai outfit tertentu, atau mengikuti tren yang sedang ramai.

Awalnya hanya melihat.

Kemudian muncul rasa penasaran.

Setelah itu muncul pikiran, “Jangan-jangan aku ketinggalan.”

Dari sinilah keputusan pembelian bisa berubah.

Seseorang mungkin sebenarnya tidak membutuhkan sepatu baru. Namun, setelah melihat produk tersebut berulang kali di TikTok atau Instagram, ditambah komentar pengguna yang menyebut stok hampir habis, keinginan membeli terasa semakin kuat.

Bukan berarti setiap pembelian akibat FOMO pasti terjadi pada semua orang. Namun, sejumlah penelitian di Indonesia menemukan hubungan antara FOMO dan perilaku pembelian impulsif, khususnya pada pengguna muda dalam ekosistem social commerce.

Ketika Media Sosial Tidak Lagi Sekadar Tempat Melihat Tren

Media sosial sekarang bukan hanya ruang untuk berbagi foto, video, atau aktivitas sehari-hari.

Platform digital juga menjadi tempat menemukan produk, membaca ulasan, mengikuti rekomendasi kreator, menonton live shopping, hingga menyelesaikan transaksi.

Perubahan tersebut membuat batas antara hiburan dan aktivitas belanja semakin tipis.

Seseorang dapat menonton video tentang skincare, melihat kreator mencoba sebuah produk, membaca komentar pengguna lain, kemudian langsung membelinya tanpa meninggalkan aplikasi.

Penelitian yang diterbitkan pada 2026 terhadap 405 konsumen Gen Z pengguna TikTok Shop di Jakarta menemukan bahwa FOMO dan digital content marketing sama-sama meningkatkan impulse buying. Dalam penelitian tersebut, strategi konten pemasaran menunjukkan pengaruh yang lebih kuat dibanding FOMO.

Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa keputusan belanja tidak berdiri sendiri.

Ada konten yang menarik perhatian.

Ada mekanisme sosial yang membuat produk terlihat populer.

Ada promosi yang menciptakan rasa mendesak.

Kemudian ada FOMO yang membuat seseorang merasa perlu ikut serta.

Dari Konten Viral ke Keranjang Belanja

Bayangkan sebuah produk muncul sekali di halaman For You.

Mungkin kamu melewatinya.

Namun, beberapa jam kemudian produk yang sama muncul melalui video kreator lain. Malamnya, muncul konten review. Besoknya, teman mengunggah produk tersebut. Setelah itu, algoritma kembali memperlihatkan barang serupa.

Produk yang awalnya tidak dikenal perlahan terasa familiar.

Di sinilah popularitas dapat menciptakan persepsi bahwa sebuah barang sedang “wajib dimiliki”.

Padahal, frekuensi sebuah produk muncul di layar tidak otomatis berarti produk tersebut memang dibutuhkan.

Algoritma media sosial bekerja berdasarkan berbagai sinyal interaksi dan preferensi pengguna. Ketika seseorang sering berhenti pada konten tertentu, menonton sampai selesai, menyukai, menyimpan, atau mengomentarinya, konten dengan karakter serupa dapat semakin sering muncul.

Akhirnya, pengguna bisa berada dalam semacam lingkaran:

lihat → tertarik → berinteraksi → semakin sering melihat → merasa produk semakin penting → membeli.

Social Commerce Membuat Jarak antara Ingin dan Membeli Semakin Pendek

Dalam pola belanja konvensional, seseorang mungkin harus keluar rumah, datang ke toko, memilih barang, kemudian membayar.

Dalam social commerce, proses tersebut bisa berlangsung hanya dalam beberapa sentuhan layar.

Konten sekaligus menjadi etalase.

Komentar menjadi semacam rekomendasi sosial.

Influencer menjadi sumber referensi.

Live shopping menjadi ruang demonstrasi.

Diskon menciptakan urgensi.

Dan tombol pembelian berada tepat di depan pengguna.

Penelitian 2026 terhadap pengguna Gen Z TikTok Shop di Indonesia juga menemukan bahwa pengalaman social commerce berpengaruh positif terhadap impulse buying, FOMO, dan kepercayaan pengguna. Penelitian tersebut melibatkan 210 responden Gen Z yang pernah berbelanja melalui TikTok Shop dalam enam bulan terakhir.

Baca Juga:  Dari Pengacara Kondang ke Juragan Ramen, Hotman Paris Jualan Mie Seharga Rp5 Ribu!

Artinya, persoalan bukan sekadar “anak muda tidak bisa menahan diri”.

Lingkungan digital memang dirancang untuk membuat proses menemukan hingga membeli produk menjadi sangat cepat.

Diskon dan Flash Sale Bisa Membuat FOMO Semakin Kuat

Kalimat seperti:

“Tinggal 10 menit lagi.”

“Stok hampir habis.”

“Harga kembali normal setelah live.”

“Ribuan orang sedang membeli.”

Kalimat semacam ini menciptakan rasa urgensi.

Seseorang kemudian tidak lagi hanya mempertimbangkan apakah barang tersebut dibutuhkan. Ia juga mulai mempertimbangkan kemungkinan kehilangan kesempatan mendapatkan harga atau produk tersebut.

Penelitian terhadap Gen Z pengguna TikTok dan Instagram di Indonesia menemukan bahwa FOMO, influencer media sosial, dan diskon berpengaruh positif terhadap pembelian impulsif. Dalam penelitian tersebut, FOMO menjadi faktor yang memiliki pengaruh paling signifikan terhadap impulse buying dalam model yang diuji.

Penelitian lain pada konsumen Gen Z di industri fast fashion Indonesia juga menemukan bahwa pesan kelangkaan (scarcity message), FOMO, dan teknologi persuasif sosial berpengaruh positif terhadap pembelian impulsif.

Namun, temuan penelitian tersebut perlu dibaca dalam konteksnya. Studi-studi tersebut menggunakan sampel dan metode tertentu sehingga hasilnya tidak otomatis menggambarkan perilaku seluruh anak muda Indonesia.

Yang jelas, pola tersebut menunjukkan bahwa rasa takut kehilangan kesempatan dapat menjadi salah satu faktor dalam keputusan pembelian.

7 Tanda Kamu Mulai Terjebak FOMO Saat Belanja

FOMO tidak selalu mudah dikenali karena sering muncul sebagai keputusan belanja yang terlihat biasa.

Coba perhatikan beberapa tanda berikut.

1. Membeli karena Semua Orang Punya

Kamu sebenarnya tidak tertarik pada sebuah produk sampai melihat banyak orang menggunakannya.

Setelah produk tersebut muncul berulang kali, tiba-tiba muncul keinginan untuk memilikinya.

Jika alasan utamanya adalah “semua orang punya”, mungkin keputusan tersebut lebih dekat dengan tekanan sosial daripada kebutuhan pribadi.

2. Takut Ketinggalan Tren

Tren baru terus bermunculan.

Hari ini produk tertentu viral. Minggu depan berganti produk lain.

Jika setiap tren membuatmu merasa harus ikut membeli agar tidak terlihat tertinggal, pengeluaran dapat meningkat tanpa terasa.

3. Membeli karena Flash Sale, Bukan karena Butuh

Diskon memang menarik.

Namun, harga murah tidak otomatis membuat sebuah barang menjadi kebutuhan.

Jika sebelum melihat diskon kamu tidak pernah berencana membeli produk tersebut, lalu langsung membelinya karena waktu promo terbatas, ada kemungkinan keputusan tersebut bersifat impulsif.

4. Keranjang Belanja Dipenuhi Barang “Siapa Tahu Nanti Berguna”

Kalimat “nanti mungkin berguna” sering menjadi alasan untuk mempertahankan barang di keranjang.

Masalahnya, semakin banyak barang yang masuk kategori tersebut, semakin sulit membedakan kebutuhan dengan keinginan.

5. Menyesal Setelah Barang Datang

Perasaan setelah pembelian juga bisa menjadi indikator.

Jika rasa senang hanya bertahan sampai paket dibuka, kemudian muncul pertanyaan, “Kenapa aku beli ini?”, keputusan tersebut layak dievaluasi.

Penelitian 2026 mengenai pengguna TikTok Shop di Indonesia menemukan hubungan antara FOMO, impulse buying, dan post-purchase dissonance atau keraguan/ketidaknyamanan setelah pembelian.

6. Sering Membandingkan Gaya Hidup

Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat jauh lebih dekat.

Kamu melihat teman traveling.

Orang lain membeli gadget baru.

Kreator favorit mencoba restoran mahal.

Pengguna lain memperlihatkan kamar yang baru direnovasi.

Tanpa sadar, standar kehidupan pribadi bisa ikut dibentuk oleh apa yang muncul di layar.

7. Membeli Agar Bisa Ikut Percakapan

Ini salah satu bentuk FOMO yang lebih halus.

Misalnya, semua teman membicarakan produk tertentu atau tempat makan yang sedang viral. Kamu kemudian merasa perlu mencoba agar tidak menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu.

Pada titik ini, yang dibeli bukan hanya barang atau pengalaman.

Ada kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok.

Tidak Semua Tren Harus Diikuti

Ada satu cara sederhana untuk menguji apakah keputusan belanja benar-benar berasal dari kebutuhan.

Tunda pembelian.

Bukan berarti harus langsung menolak.

Berikan jeda beberapa jam atau satu hari, tergantung jenis barangnya.

Setelah itu tanyakan:

  • Apakah saya masih menginginkannya?
  • Apakah saya memang membutuhkan barang ini?
  • Apakah saya sudah memiliki barang dengan fungsi yang sama?
  • Apakah saya akan membelinya jika barang ini tidak sedang viral?
  • Apakah saya membeli karena produk tersebut cocok dengan kebutuhan saya atau karena semua orang membicarakannya?
  • Apakah pembelian ini masuk anggaran?
Baca Juga:  Jokowi Setujui Usulan Umat Kristen, Nama Hari Libur Isa Almasih Jadi Yesus Kristus

Jika keinginan tetap ada setelah jeda dan pengeluaran tersebut sesuai kemampuan, keputusan membeli menjadi lebih terencana.

Cara Memutus Siklus FOMO di Media Sosial

Menghindari FOMO tidak berarti harus menghapus seluruh media sosial.

Langkah pertama justru bisa dimulai dari cara menggunakan platform tersebut.

Bersihkan Feed

Jika sebagian besar konten yang muncul terus mendorongmu membeli sesuatu, evaluasi akun yang diikuti.

Gunakan fitur unfollow, mute, atau not interested jika diperlukan.

Jangan Langsung Membeli dari Konten Viral

Konten viral dirancang untuk mendapatkan perhatian.

Berikan jarak antara melihat konten dan melakukan transaksi.

Buat Daftar Belanja

Daftar sederhana dapat membantu membedakan barang yang memang dicari dengan barang yang tiba-tiba muncul karena tren.

Tentukan Anggaran Hiburan

Tidak semua pengeluaran non-kebutuhan harus dihilangkan.

Tetapkan jumlah yang memang boleh digunakan untuk hiburan, nongkrong, hobi, atau mengikuti tren tertentu.

Dengan begitu, menikmati hidup tetap memiliki ruang tanpa membuat setiap tren mengganggu kondisi finansial.

Perhatikan Pola Setelah Membeli

Jangan hanya melihat saldo rekening.

Perhatikan juga bagaimana perasaan setelah membeli.

Jika pola “tertarik → membeli → senang sebentar → menyesal” terus berulang, mungkin masalahnya bukan pada satu barang, tetapi pada pola keputusan belanja.

FOMO Bukan Berarti Kamu Lemah Mengontrol Diri

Penting untuk tidak menyederhanakan persoalan ini menjadi “anak muda boros karena tidak bisa menahan diri”.

Ekosistem digital sekarang menggabungkan hiburan, interaksi sosial, rekomendasi, promosi, dan transaksi dalam satu ruang.

Karena itu, keputusan konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor.

Penelitian terhadap 208 pengguna media sosial di Indonesia menemukan bahwa platform dan konten media sosial berpengaruh signifikan terhadap FOMO, yang kemudian berkaitan dengan keinginan melakukan pembelian tidak terencana. Studi tersebut juga menemukan reaksi psikologis yang lebih kuat pada kelompok usia lebih muda dalam sampel penelitian.

Namun, penelitian seperti ini bukan berarti setiap pengguna media sosial pasti mengalami pola yang sama.

Justru yang lebih penting adalah mengenali mekanismenya.

Ketika seseorang tahu bahwa rasa takut tertinggal dapat memengaruhi keputusan, ia memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak sebelum membeli.

Dari FOMO ke JOMO: Tidak Harus Selalu Ikut

Ada istilah lain yang menarik sebagai kebalikan dari FOMO, yaitu JOMO atau joy of missing out.

Gagasannya sederhana: seseorang merasa baik-baik saja ketika tidak mengikuti semua aktivitas atau tren yang sedang berlangsung.

Tidak membeli barang yang sedang viral bukan berarti ketinggalan.

Tidak datang ke semua acara bukan berarti tidak punya kehidupan sosial.

Tidak mengikuti setiap tren fashion bukan berarti tidak mengikuti perkembangan zaman.

Dalam konteks konsumsi, kemampuan mengatakan “tidak” justru dapat menjadi bentuk kontrol.

Apalagi ketika keputusan tersebut dibuat bukan karena takut kehilangan kesempatan, tetapi karena mengetahui apa yang memang penting bagi diri sendiri.

Jadi, Kapan Harus Mulai Waspada?

FOMO mulai layak diperhatikan ketika keputusan mengikuti tren secara konsisten menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Misalnya, anggaran bulanan terganggu, tabungan berkurang karena pembelian spontan, barang yang dibeli jarang digunakan, atau muncul penyesalan setelah transaksi.

Masalahnya bukan pada satu kali membeli barang viral.

Semua orang sesekali melakukan pembelian impulsif.

Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang.

Media sosial akan terus menghasilkan tren baru. Produk baru akan terus muncul. Diskon akan datang lagi. Kreator akan merekomendasikan sesuatu yang berbeda minggu depan.

Karena itu, mengikuti semuanya hampir mustahil.

Pertanyaan yang lebih berguna bukan:

“Apa yang sedang viral?”

Melainkan:

“Apakah saya memang membutuhkan ini?”

Jika jawabannya tidak, melewatkan satu tren bukan berarti kehilangan sesuatu yang penting.

Justru mungkin itu tanda bahwa keputusan belanja mulai kembali berada di tangan sendiri.