BRIN Ungkap Kebakaran Gambut Bermula dari Masalah Tata Air

Peneliti BRIN menjelaskan sains di balik kebakaran lahan gambut dan teknologi pencegahannya dalam diskusi MELODI di Jakarta, Selasa (6/10/2026). (Foto: Dok. BRIN)

SUARAMALANG.COM, JAKARTA – Kebakaran lahan gambut tidak semata-mata bermula dari munculnya api. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut persoalan tata air menjadi faktor penting karena gambut yang terlalu kering lebih rentan terbakar dan sulit dipadamkan.

Peneliti Pusat Riset Ekologi BRIN, Dony Rachmanadi, menjelaskan bahwa pencegahan kebakaran lahan gambut harus dimulai dengan menjaga gambut tetap basah. Penjelasan itu disampaikan dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertema “Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi Pencegahannya” di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Gambut Kering Tingkatkan Risiko Kebakaran

Dony mengatakan gambut memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar. Kondisi muka air tanah menjadi salah satu indikator penting untuk menjaga kesehatan ekosistem tersebut.

Indonesia memiliki sekitar 24 juta hektare ekosistem gambut yang tersebar terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Dalam kondisi alami, gambut dapat menyimpan dan melepaskan air secara bertahap sehingga membantu mengurangi risiko banjir saat hujan sekaligus menjaga ketersediaan air ketika kemarau.

Namun, pengeringan gambut secara berlebihan dapat mengubah kondisi tersebut. Ketika muka air tanah turun, gambut menjadi kering dan risiko kebakaran meningkat. Kondisi itu juga dapat memicu subsiden serta meningkatkan emisi karbon.

“Gambut itu bekerja seperti spons raksasa karena mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Yang perlu diperhatikan adalah muka air tanah yang menentukan kesehatan ekosistem gambut,” jelas Dony.

Api Bisa Bertahan di Bawah Permukaan

Menurut Dony, kebakaran gambut memiliki dua karakter utama, yakni flaming atau api yang membakar permukaan dan smouldering atau pembakaran yang berlangsung di dalam lapisan gambut.

Baca Juga:  Empat Jenderal TNI Konsultasi ke Polda Metro Jaya soal Dugaan Pencemaran Nama Baik, Ferry Irwandi Buka Suara

Pembakaran smouldering berlangsung pada suhu lebih rendah, tetapi dapat bertahan dalam waktu lama. Api juga dapat menyebar di bawah permukaan sehingga sulit terdeteksi dan dipadamkan.

Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut dapat menghasilkan asap dalam waktu panjang. Pengalaman di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, pada 2026 menunjukkan bagaimana titik panas berukuran kecil dapat berkembang menjadi front api ketika kondisi lingkungan mendukung.

“Kuncinya adalah menjaga air tetap berada di dalam gambut. Ketika gambut tetap basah, fungsi ekologisnya dapat dipertahankan, risiko kebakaran dapat ditekan, karbon tetap tersimpan, dan masyarakat tetap memiliki ruang untuk mengembangkan sumber penghidupan secara berkelanjutan,” kata Dony.

BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi dan Pemadaman

Selain pendekatan hidrologi, BRIN mengembangkan teknologi untuk memantau dan menangani kebakaran hingga ke lapisan bawah permukaan.

Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Julinton Sianturi, mengatakan pemantauan memanfaatkan data satelit penginderaan jauh. Teknologi tersebut dapat mendeteksi hotspot, anomali termal, kondisi tutupan lahan, hingga area yang telah terbakar.

BRIN juga mengembangkan Singkong-APP, formulasi berbasis pati singkong, ammonium polyphosphate (APP), alkyl polyglucoside (APG), dan air untuk membantu pemadaman kebakaran gambut.

Baca Juga:  Jurnalis ANTARA Jadi Korban Pemukulan Polisi, Sorotan Represi Aparat di Aksi Demo DPR

Pada pengujian awal, Singkong-APP membutuhkan sekitar 65 liter formulasi, sedangkan perlakuan menggunakan air membutuhkan 120 liter. Setelah 60 menit pengamatan, tidak ditemukan api maupun asap pada perlakuan Singkong-APP. Sebaliknya, perlakuan menggunakan air masih menunjukkan enam titik api atau asap dan bara api masih ditemukan setelah 12 jam.

Julinton menjelaskan, formulasi tersebut tidak hanya bekerja melalui pendinginan. Sistem berbasis singkong-APP mendorong pembentukan lapisan char yang berfungsi sebagai penghalang termal untuk menghambat perpindahan panas dan menekan pembakaran lanjutan.

“Data satelit digunakan untuk mendeteksi hotspot, anomali termal, kondisi tutupan lahan, dan area terbakar, sehingga wilayah berisiko dapat dipantau secara luas sebelum dilakukan verifikasi di lapangan,” ujar Julinton.

Penjelasan BRIN tersebut menunjukkan bahwa pencegahan kebakaran lahan gambut tidak hanya bergantung pada pemadaman setelah api muncul. Menjaga kondisi hidrologi, mendeteksi potensi kebakaran lebih awal, dan mengembangkan teknologi pemadaman menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko karhutla.