Gula Tersembunyi dalam Minuman Kekinian, Anak Muda Perlu Waspada

Minuman manis kekinian menjadi salah satu sumber asupan gula yang perlu diperhatikan dalam pola makan sehari-hari. (Foto ilustrasi)

SUARAMALANG.COM, MALANG – Minuman manis kekinian semakin mudah ditemukan, mulai dari kopi susu, teh dengan berbagai topping, minuman cokelat hingga minuman berbasis sirup dan pemanis lainnya. Rasanya yang manis dan tampilannya yang menarik membuat minuman semacam ini mudah masuk ke kebiasaan konsumsi sehari-hari, terutama di kalangan anak muda.

Masalahnya bukan sekadar satu gelas minuman manis, melainkan seberapa sering minuman tersebut dikonsumsi dan berapa banyak gula yang masuk dalam tubuh sepanjang hari. Gula juga tidak selalu terasa jelas karena dapat berasal dari berbagai bahan yang digunakan dalam satu produk.

Kementerian Kesehatan kini mendorong masyarakat agar lebih mudah mengenali kandungan gula melalui penerapan Nutri-Level pada pangan siap saji, terutama minuman berpemanis. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya mengendalikan konsumsi gula, garam dan lemak yang berlebihan.

Gula Tidak Hanya Datang dari Gula Pasir

Ketika mendengar istilah gula tersembunyi, yang dimaksud bukan berarti gula benar-benar disembunyikan dari konsumen. Istilah tersebut lebih tepat digunakan untuk menggambarkan gula yang berasal dari berbagai bahan dalam makanan atau minuman sehingga jumlah keseluruhannya mudah terlewat dari perhatian.

Dalam segelas minuman kekinian, misalnya, rasa manis dapat berasal dari gula yang ditambahkan, sirup, saus, krimer atau bahan lain yang mengandung gula. Topping tertentu juga dapat menambah asupan gula dan energi.

Karena itu, mengandalkan rasa sebagai satu-satunya cara menilai kadar gula bukan pilihan yang tepat. Konsumen perlu melihat informasi kandungan gizi ketika data tersebut tersedia.

Minuman Manis Bisa Menjadi Kebiasaan yang Sulit Disadari

Satu minuman manis sesekali tidak otomatis menyebabkan diabetes. Risiko kesehatan lebih berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan, termasuk konsumsi gula berlebih yang berlangsung terus-menerus.

WHO merekomendasikan agar konsumsi free sugars pada orang dewasa maupun anak dibatasi kurang dari 10 persen dari total energi harian. WHO juga menyebut pembatasan hingga kurang dari 5 persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Yang termasuk free sugars antara lain gula yang ditambahkan produsen, juru masak atau konsumen, serta gula alami yang terdapat dalam madu, sirup, jus buah dan konsentrat jus buah.

Kenapa Anak Muda Perlu Mulai Memperhatikan?

Pola konsumsi pada usia muda dapat terbawa menjadi kebiasaan dalam jangka panjang. Jika minuman berpemanis menjadi bagian dari rutinitas harian tanpa memperhatikan jumlahnya, asupan gula dapat meningkat tanpa disadari.

Konsumsi gula berlebih juga dapat menambah asupan energi dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. WHO mengaitkan konsumsi minuman berpemanis dengan risiko kenaikan berat badan yang tidak sehat.

Baca Juga:  Tingkatkan Herd Imunity, Polres Malang Sediakan 1500 Dosis Vaksin Setiap Hari

Dalam jangka panjang, pola hidup dan pola makan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Karena itu, mengurangi gula bukan berarti harus menghilangkan seluruh makanan manis, tetapi mengendalikan frekuensi dan jumlah konsumsinya.

Hubungan Gula Berlebih dengan Diabetes

Diabetes tipe 2 tidak disebabkan oleh satu makanan atau satu minuman saja. Penyakit ini berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk pola makan, berat badan, aktivitas fisik, faktor genetik, usia dan kondisi kesehatan lainnya.

Namun, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula dapat menjadi bagian dari pola makan yang berkontribusi terhadap kelebihan asupan energi dan peningkatan berat badan. Kondisi tersebut merupakan salah satu faktor risiko diabetes tipe 2.

Kementerian Kesehatan menerbitkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tatalaksana Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa pada 2026 sebagai bagian dari standardisasi pelayanan diabetes di Indonesia. Kebijakan tersebut menunjukkan diabetes tetap menjadi persoalan penting dalam pelayanan kesehatan nasional.

Gula Berlebih Juga Perlu Dilihat dari Risiko Jangka Panjang

Perhatian terhadap gula tidak hanya berkaitan dengan diabetes. Konsumsi free sugars yang tinggi juga berhubungan dengan peningkatan risiko berat badan tidak sehat dan kerusakan gigi.

Kementerian Kesehatan juga menyebut konsumsi gula, garam dan lemak berlebihan berkaitan dengan berbagai penyakit tidak menular. Dalam konteks kesehatan ginjal, masyarakat perlu memahami bahwa penyakit ginjal memiliki banyak penyebab dan tidak tepat menyimpulkan bahwa gula dalam satu minuman secara langsung menyebabkan gagal ginjal.

Justru yang perlu diperhatikan adalah pola hidup secara keseluruhan. Menjaga berat badan, mengontrol tekanan darah dan gula darah, aktif bergerak, serta menerapkan pola makan seimbang merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan tubuh dan ginjal.

Jangan Hanya Melihat Tulisan “Rendah Gula”

Ketika membeli makanan atau minuman kemasan, jangan berhenti pada klaim yang terpampang di bagian depan kemasan. Biasakan melihat tabel Informasi Nilai Gizi dan memperhatikan ukuran sajian.

Perhatikan juga berapa jumlah sajian dalam satu kemasan. Angka gula yang tercantum pada tabel dapat berlaku untuk satu sajian, sedangkan satu botol atau kemasan mungkin mengandung lebih dari satu sajian.

Selain jumlah gula, konsumen dapat membandingkan beberapa produk sejenis. Pilih produk dengan kandungan gula yang lebih rendah dan perhatikan keseluruhan pola makan, bukan hanya satu angka pada kemasan.

Nutri-Level Membantu Konsumen Memilih Minuman

Kementerian Kesehatan pada 2026 memperkenalkan Nutri-Level untuk membantu masyarakat mengenali kandungan gula, garam dan lemak pada pangan siap saji. Sistem tersebut menggunakan kategori A hingga D berdasarkan kandungan zat gizi tertentu.

Baca Juga:  Belum Bersertifikat, SPPG Desa Sukosari Malang Sosialisasi Cegah Keracunan MBG

Untuk gula pada minuman siap saji, kategori A memiliki kandungan gula paling rendah, sedangkan kategori D menunjukkan kandungan gula paling tinggi. Berdasarkan ketentuan Kemenkes, kategori A memiliki kandungan gula maksimal 1 gram per 100 mililiter dan tidak menggunakan pemanis tambahan, sedangkan kategori D memiliki kandungan gula lebih dari 10 gram per 100 mililiter.

Nutri-Level dapat dicantumkan pada papan menu, menu digital, aplikasi pemesanan, kemasan, media promosi dan media penjualan daring sesuai ketentuan. Kehadiran informasi ini diharapkan membantu konsumen membuat pilihan berdasarkan kandungan gizi, bukan hanya harga atau tampilan produk.

Cara Sederhana Mengurangi Asupan Gula

Mengurangi gula tidak harus dilakukan secara ekstrem. Langkah paling sederhana adalah mengurangi frekuensi membeli minuman manis dan memilih air putih sebagai minuman utama.

Ketika membeli kopi atau teh, konsumen dapat memilih tingkat kemanisan yang lebih rendah jika tersedia. Kebiasaan membaca Informasi Nilai Gizi juga penting agar konsumen mengetahui jumlah gula yang dikonsumsi.

Yang tidak kalah penting adalah menghitung pola konsumsi sepanjang hari. Minuman manis yang terlihat kecil jika dikonsumsi beberapa kali sehari tetap dapat membuat jumlah gula harian meningkat.

Mulai Waspada Sebelum Menjadi Kebiasaan

Minuman kekinian bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari sepenuhnya. Persoalannya adalah ketika minuman tinggi gula menjadi konsumsi rutin tanpa memperhitungkan kebutuhan dan asupan gula dari makanan lain.

Anak muda dapat mulai mengubah kebiasaan dengan memilih minuman tanpa gula tambahan atau dengan kadar gula lebih rendah, memperbanyak air putih, serta membiasakan diri membaca informasi kandungan gizi.

Informasi mengenai pola makan sehat dan pencegahan diabetes juga dapat menjadi rujukan untuk memahami hubungan antara kebiasaan sehari-hari dan risiko penyakit tidak menular.

Untuk mengetahui panduan resmi mengenai pola makan sehat dan pembatasan konsumsi gula, pembaca dapat merujuk pada panduan pola makan sehat dari WHO.

“`