Opini  

Mengubah Lahan Marginal Menjadi Area Produktif, Alumni UB Memelopori Pengabdian Masyarakat Berbasis Pertanian Terpadu di Malang

Oleh: Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P.
Alumni Magister Agronomi dari Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya

Sekitar 1.000 meter persegi lahan marginal di kompleks perumahan Royal Janti Residence (RJR), Kecamatan Sukun, Kota Malang, telah berhasil diubah menjadi pekarangan produktif dan area budidaya pertanian terpadu. Inisiatif pengabdian masyarakat yang didanai secara sukarelawan oleh warga ini dipelopori oleh Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P., seorang alumni Magister Agronomi dari Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya, bersama tokoh masyarakat setempat. Inisiatif ini bertujuan untuk mengoptimalkan fasilitas umum yang kurang dimanfaatkan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan pengelolaan sampah organik di lingkungan hunian perkotaan.

Lahan yang digunakan untuk program ini terletak di area fasilitas umum Royal Janti Residence RT 15/RW 04, Kelurahan Sukun, yang mencakup dua lokasi utama. Observasi awal yang dilakukan sebelum program dimulai menunjukkan bahwa sebagian besar area tersebut tidak terawat dan sering dijadikan tempat pembuangan sampah konstruksi serta limbah rumah tangga secara sembarangan.

Selain masalah pemanfaatan lahan, karakteristik fisik tanah juga menghadirkan tantangan teknis yang signifikan bagi tim pelopor. Area fasilitas umum tersebut memiliki kemiringan curam sekitar 15 hingga 20 derajat, dengan jenis tanah lempung berpasir yang memiliki tingkat keasaman tinggi, sehingga memerlukan perlakuan khusus agar layak menjadi media tanam pertanian.

Gerakan pelestarian lingkungan ini diinisiasi secara mandiri mulai bulan Agustus 2023 oleh Ahmad Alif Riyan Mahdy bersama Bapak Subhan dan Bapak Twodi, yang juga merupakan warga Royal Janti Residence. Mereka secara konsisten mencurahkan tenaga dan dana sukarelawan untuk mengubah lahan kosong tersebut menjadi lanskap yang bersih, tertata rapi, dan produktif.

Untuk menjaga keberlanjutan program dan mengatasi keterbatasan sumber daya, tim pelopor melibatkan PKK RJR, Karang Taruna, dan Komunitas Ecoliving. Kolaborasi lintas sektor ini melibatkan 16 ibu rumah tangga dan 30 anggota pemuda yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan lapang. Pendekatan utama yang diterapkan dalam program pengabdian masyarakat ini adalah konsep pertanian terpadu, yang menyinergikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Di sektor tanaman pangan dan hortikultura, tata letak tanaman disusun secara sistematis di area lahan marginal berterasering dengan memanfaatkan kombinasi penanaman langsung di tanah serta penggunaan kembali galon air plastik bekas ukuran 5 liter sebagai wadah tanam.

Baca Juga:  Ketua PBNU : Main Hakim Sendiri Bukan Syariat dan Bukan Hukum

Melalui skema donasi sukarela, terkumpul lebih dari 59 tanaman yang mencakup 25 varietas berbeda. Zona penanaman diatur secara sistematis, zona pertama dikhususkan untuk tanaman aromatik dan tanaman pangan, seperti serai wangi, basil, mint, pandan, cabai, dan jagung manis. Zona kedua ditanami tanaman produktif dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), seperti daun kari, kelor, belimbing wuluh, dan daun salam. Sementara itu, zona terakhir dialokasikan untuk tanaman rimpang (jahe, kunyit, kencur) serta tanaman dalam pot (sawi, terong, dan bunga telang).

Di sektor peternakan dan perikanan rancangan kegiatan mencakup peternakan unggas (pemeliharaan ayam) dan budidaya ikan air tawar (budidaya ikan lele) menggunakan kolam terpal yang memanfaatkan sumber air dari aliran sungai di dekat lokasi.

Upaya konservasi tanah dan air dilakukan melalui pembuatan terasering mengikuti kontur lahan, penanaman tanaman penutup tanah, serta perbaikan struktur tanah menggunakan dolomit, bahan pembenah tanah organik, biochar, dan pupuk kandang. Selain itu, warga yang dibagi menjadi 8 kelompok kerja di bawah koordinasi Bapak Subhan membuat sedikitnya 8 lubang resapan biopori untuk memaksimalkan peresapan air hujan.

Aspek penting lainnya dari proyek ini adalah edukasi masyarakat mengenai pengelolaan limbah dapur demi mewujudkan lingkungan bebas sampah (zero-waste), yang dipimpin oleh Zulfikar, Risa, Sifa, dan Syamil dari Komunitas Ecoliving. Limbah organik rumah tangga dikumpulkan dari titik-titik pengumpulan yang telah ditentukan di setiap blok hunian. Warga dilatih untuk mengolah sisa makanan dapur menjadi pupuk organik mandiri menggunakan galon air plastik bekas ukuran 5 liter yang dimodifikasi sebagai alat pengomposan sederhana, sehingga secara signifikan mengurangi volume limbah rumah tangga.

Baca Juga:  Perempuan, Tenda Pengungsian, Dan Akses Air Yang Jarang Tersentuh

Ketua Program, Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P., menjelaskan bahwa pelibatan anggota PKK dan pemuda setempat merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan kesadaran kolektif di tengah kesibukan warga perkotaan. Kendala waktu diatasi melalui pembagian tugas yang fleksibel, pembentukan kelompok kerja kecil, serta sistem pembagian tugas berskala mikro berbasis rumah tangga.

“Kami menerapkan sistem pembagian tugas yang fleksibel dan partisipasi berbasis rumah tangga, sehinnga setiap warga tetap dapat memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya,” ujar Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P., selaku inisiator dan ketua program.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Ketua PKK Royal Janti Residence, Ibu Emisriani (Ibu Emi), yang menyoroti manfaat langsung dari pengelolaan lahan produktif untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga sehari-hari.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya mengoptimalkan lahan kosong dan menghijaukan kawasan hunian kami, tetapi juga menghasilkan pasokan pangan sehat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para ibu rumah tangga di lingkungan kami,” ungkap Ibu Emisriani, Ketua PKK Royal Janti Residence.

Inisiatif pengabdian masyarakat yang didanai secara mandiri di Royal Janti Residence ini diharapkan dapat menjadi proyek percontohan bagi kawasan hunian perkotaan lainnya di seluruh Kota Malang. Kolaborasi berkelanjutan ini menunjukkan bahwa tantangan berupa keterbatasan lahan marginal dan dinamika gaya hidup perkotaan dapat diatasi secara efektif melalui inovasi pertanian terpadu serta pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

*) Penulis : Ahmad Alif Riyan Mahdy, S.P., M.P. Alumni Magister Agronomi dari Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Iklan
Iklan