SUARAMALANG.COM, Malang – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian publik setelah api melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Hingga Senin, 10 Agustus 2026, api telah menjalar di sekitar 742,70 hektare kawasan TNBTS. Melansir Okezone, tim gabungan masih mengejar titik api dan menjaga kawasan wisata dari ancaman kebakaran.
Karhutla Bukan Cerita Baru
Kebakaran di TNBTS bukan satu-satunya karhutla yang mengundang perhatian masyarakat. Indonesia memiliki catatan panjang kebakaran hutan dan lahan dengan skala yang jauh lebih besar.
Melansir BNPB, kebakaran hutan berulang hampir setiap musim kemarau. Sumatra dan Kalimantan menjadi dua wilayah yang kerap menghadapi ancaman tersebut.
Karhutla bahkan pernah mengubah persoalan lokal menjadi bencana lintas negara. Asap dari kebakaran di Indonesia beberapa kali bergerak menuju Malaysia, Singapura, dan Brunei.
Karhutla 1997-1998 Jadi Catatan Kelam
Indonesia menghadapi salah satu karhutla terbesar pada 1997 hingga 1998. Melansir BNPB, api kala itu membakar lebih dari 9 juta hektare hutan dan lahan.
Fenomena El Nino memperpanjang musim kemarau dan memperburuk kondisi lahan. Lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan kemudian menghadapi ancaman api yang sangat besar.
Kebakaran tersebut juga menghasilkan asap dalam jumlah besar. Kondisi itu mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah.
2015 Kembali Mengguncang Indonesia
Indonesia kembali menghadapi karhutla besar pada 2015. Melansir BNPB, kebakaran kala itu menghanguskan sekitar 2,61 juta hektare hutan dan lahan di 32 provinsi.
Asap pekat kemudian mengganggu aktivitas masyarakat di berbagai daerah. Pemerintah juga menghadapi tekanan akibat dampak asap yang melintasi batas negara.
BNPB memperkirakan karhutla 2015 menimbulkan kerugian ekonomi sekitar Rp221 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak kebakaran terhadap perekonomian nasional.
2019 Mengulang Persoalan Lama
Empat tahun kemudian, Indonesia kembali menghadapi gelombang karhutla. Kebakaran melanda sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan sepanjang 2019.
Melansir ABC Indonesia, BNPB mencatat lebih dari 328 ribu hektare hutan dan lahan terbakar hingga September 2019. Asap kembali mengganggu masyarakat dan memicu perhatian negara-negara tetangga.
Rangkaian tersebut menunjukkan pola yang sama. Musim kering, kondisi lahan yang mudah terbakar, dan sumber api terus menjadi kombinasi berbahaya.
Kawasan Konservasi Ikut Menghadapi Api
Ancaman karhutla juga menyentuh kawasan konservasi. Taman nasional di berbagai daerah menghadapi kebakaran ketika musim kemarau membuat vegetasi semakin kering.
Pada awal 2026, kebakaran melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas di Lampung. Sejumlah laporan media menyebut api menjangkau ribuan hektare kawasan konservasi tersebut.
Kebakaran juga muncul di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani pada Agustus 2026. Melansir TVRINews, petugas menemukan sejumlah titik api di kawasan Maletan setelah menerima laporan masyarakat.
Karhutla 2026 Menjangkau Banyak Daerah
Karhutla 2026 juga tidak berhenti di TNBTS. Pemerintah menghadapi kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan kawasan Indonesia lainnya.
Melansir ANTARA, pemerintah mencatat luas karhutla nasional telah mencapai sekitar 107.000 hektare. Angka tersebut menunjukkan skala persoalan yang jauh lebih besar dibandingkan luas kebakaran TNBTS.
BNPB juga memasukkan karhutla sebagai salah satu bencana yang paling sering muncul sepanjang 2026. Kondisi tersebut kembali menempatkan kebakaran hutan sebagai persoalan nasional.
Mengapa TNBTS Menjadi Sorotan?
Kebakaran TNBTS memiliki karakter berbeda dibandingkan banyak karhutla lainnya. Kawasan tersebut menjadi habitat satwa sekaligus destinasi wisata yang terkenal hingga mancanegara.
Ketika api mendekati kawasan wisata, dampaknya langsung menyentuh masyarakat dan aktivitas ekonomi. Pemerintah kemudian menutup sejumlah akses demi menjaga keselamatan wisatawan.
Visual kebakaran juga memperbesar perhatian publik. Api di lereng gunung, kepulan asap, savana yang menghitam, dan pengerahan helikopter menjadi materi yang cepat menyebar.
Melansir Suara Surabaya, tim gabungan mengerahkan tiga helikopter untuk membantu pemadaman melalui operasi water bombing. Tim juga terus melakukan pemadaman darat untuk mengejar titik api.
Sejarah Menunjukkan Masalah yang Sama
Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan satu fakta penting. Indonesia menghadapi karhutla secara berulang dari satu musim kemarau ke musim berikutnya.
TNBTS memang menjadi pusat perhatian publik pada Agustus 2026. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kebakaran serupa pernah terjadi dengan skala yang jauh lebih besar.
Melansir BNPB, pengalaman karhutla 1997, 2015, dan berbagai kejadian berikutnya menegaskan pentingnya pencegahan. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar api ketika kebakaran sudah meluas.
Pencegahan harus berjalan sejak awal musim kering. Pemerintah juga perlu memperkuat pengawasan kawasan rawan, sistem peringatan dini, serta penindakan terhadap sumber api.
Pertanyaan akhirnya bukan sekadar berapa luas kawasan TNBTS yang terbakar. Publik juga perlu mengetahui apakah Indonesia mampu memutus siklus karhutla yang terus berulang.
Sebab, Bromo mungkin menjadi wajah karhutla yang paling terlihat pada Agustus 2026. Namun sejarah mencatat, api pernah membakar jutaan hektare hutan dan lahan Indonesia.















