SUARAMALANG.COM, Nasional – Harga beras di Indonesia tidak pernah benar-benar seragam. Konsumen di satu daerah bisa membeli beras lebih mahal, meski daerah lain memiliki stok dan produksi melimpah.
Perbedaan itu menunjukkan persoalan harga beras tidak hanya bergantung pada jumlah produksi nasional. Jarak sentra produksi, biaya distribusi, rantai perdagangan, hingga struktur pasar ikut menentukan harga di setiap daerah.
Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan rantai distribusi beras Indonesia melibatkan dua hingga tujuh pelaku perdagangan. Kondisi wilayah dan struktur pasar menentukan panjang pendeknya perjalanan beras menuju konsumen.
Pola nasional umumnya bergerak dari produsen ke pedagang grosir, lalu pedagang eceran, sebelum sampai kepada konsumen. Setiap mata rantai membawa biaya pengangkutan, penyimpanan, tenaga kerja, dan margin perdagangan.
Daerah Penghasil Beras Belum Tentu Menjual Beras Murah
Situasi tersebut menciptakan paradoks di sejumlah wilayah sentra padi. Produksi beras tinggi tidak otomatis membuat konsumen lokal membeli beras dengan harga paling murah.
Hasil kajian terbaru Institut Pertanian Bogor menunjukkan produksi beras Indonesia terkonsentrasi pada beberapa provinsi sentra. Kondisi itu mendorong perdagangan antarprovinsi untuk memenuhi kebutuhan daerah yang mengalami defisit pasokan.
Penelitian tersebut juga mencatat kondisi geografis, biaya transportasi, dan sistem logistik membuat penyesuaian harga berbeda pada setiap pasangan provinsi. Kajian itu menganalisis 75 pasangan provinsi menggunakan data harga beras pedagang besar periode 2019 hingga 2025.
Artinya, beras dari daerah surplus tidak otomatis menekan harga di seluruh Indonesia. Beras tetap harus bergerak melalui jaringan perdagangan yang memiliki biaya dan hambatan berbeda.
Jarak Produksi Berubah Menjadi Jarak Harga
Indonesia menghadapi tantangan geografis yang membuat distribusi pangan tidak berjalan dalam satu jalur sederhana. Beras dari Jawa, misalnya, membutuhkan biaya dan waktu berbeda ketika memasuki pasar di Kalimantan, Maluku, atau Papua.
Pemerintah sendiri menerapkan perbedaan harga beras SPHP berdasarkan wilayah distribusi. Pada 2026, harga beras SPHP zona Jawa, Bali, NTB, dan sebagian wilayah lain berada di Rp12.500 per kilogram.
Harga tersebut meningkat menjadi Rp13.100 per kilogram untuk zona distribusi tertentu di Sumatra, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur. Sementara Maluku dan Papua memiliki harga SPHP Rp13.500 per kilogram.
Perbedaan harga program pemerintah itu memperlihatkan satu fakta penting. Biaya menghadirkan beras ke setiap wilayah memang tidak sama, bahkan ketika pemerintah melakukan intervensi langsung.
Masalahnya, pemerintah selama ini sering berbicara mengenai produksi dan stok nasional. Konsumen, sebaliknya, membeli beras berdasarkan kondisi pasokan dan harga yang tersedia di pasar daerahnya.
Badan Pangan Nasional mencatat rerata harga nasional beras medium dan premium pada pertengahan Agustus 2026 masing-masing Rp13.615 dan Rp16.065 per kilogram. Namun angka nasional itu merupakan rata-rata dari tiga zona harga yang memiliki struktur biaya berbeda.
Di titik inilah disparitas harga beras perlu mendapat perhatian lebih serius. Ketahanan pangan nasional tidak cukup hanya memastikan beras tersedia, tetapi juga harus menjamin masyarakat di setiap daerah memperoleh harga yang setara dan terjangkau.
Pemerintah memang terus melakukan intervensi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP. Hingga 8 Agustus 2026, penyaluran beras SPHP telah mencapai 610,3 ribu ton atau 73,71 persen dari target 828 ribu ton.
Namun, besarnya penyaluran belum otomatis menghapus perbedaan harga antarwilayah. Selama biaya logistik, struktur distribusi, dan ketergantungan daerah defisit terhadap pasokan luar masih berbeda, harga beras akan terus memiliki wajah berbeda di setiap daerah.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar apakah Indonesia memiliki cukup beras. Persoalan yang lebih mendasar adalah mengapa beras yang tersedia secara nasional belum selalu mampu menjangkau seluruh daerah dengan harga yang sama-sama terjangkau.
















