Tekno  

AS Batasi Drone dan Robot China, Asia Tenggara Jadi Pasar Baru

Ilustrasi drone. (Foto:istimewa)

SUARAMALANG.COM – Pembatasan Amerika Serikat terhadap drone dan robot canggih buatan asing berpotensi mengubah peta persaingan industri teknologi global. Produsen robot asal China yang selama ini mengandalkan skala produksi dan harga murah mulai membidik pasar lain, termasuk Asia Tenggara.

Washington memperketat akses terhadap sejumlah sistem robotik canggih buatan luar negeri dan mengenakan tarif terhadap drone impor serta komponennya. Kebijakan tersebut muncul dengan alasan keamanan nasional.

Di sisi lain, produsen China semakin kuat di pasar robot humanoid. Data Counterpoint Research menunjukkan lima produsen terbesar berdasarkan pengiriman robot humanoid global pada semester pertama 2026 seluruhnya berasal dari China.

Produsen China Kuasai Pasar Robot Humanoid

Pengiriman robot humanoid global mencapai 22.000 unit pada semester pertama 2026. Sebagian besar unit tersebut berasal dari perusahaan China.

Lima produsen dengan pengiriman terbesar adalah AgiBot, Unitree, Galbot, UBTECH, dan Leju Robotics. Kelimanya menguasai sekitar 86 persen pengiriman robot humanoid global pada periode tersebut.

Dominasi itu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi. China juga memiliki keunggulan pada skala manufaktur, kedalaman rantai pasok, dan biaya produksi.

Ankur Saxena, direktur investasi TDK Ventures, mengatakan Amerika Serikat memiliki keunggulan pada AI mutakhir, perangkat lunak, dan inovasi semikonduktor. China, menurut dia, lebih unggul dalam kemampuan manufaktur berskala besar serta biaya produksi.

Keunggulan biaya memungkinkan perusahaan China memproduksi robot dalam jumlah besar. Semakin banyak robot yang digunakan, semakin banyak pula data dari penggunaan nyata yang dapat diperoleh untuk meningkatkan teknologi.

AS Perketat Akses Drone dan Robot Asing

Kebijakan Washington menambah tekanan terhadap produsen teknologi China yang ingin masuk ke pasar Amerika Serikat. Pada Juli dan Agustus 2026, pemerintah AS memperluas pembatasan terhadap sistem robotik canggih buatan asing.

Washington juga mengenakan tarif tinggi terhadap drone impor dan komponen terkait. Tarif drone dijadwalkan mulai berlaku pada September 2026, sedangkan tarif tambahan untuk komponen akan menyusul pada 2027.

Baca Juga:  Nadiem Melarikan Diri, Binance Tetap Komitmen Jaga Keamanan Platform

Pembatasan tersebut memperluas kebijakan Komisi Komunikasi Federal atau FCC yang sebelumnya mencakup perangkat telekomunikasi dan pengawasan dari perusahaan seperti Huawei, ZTE, dan Hikvision.

Langkah AS membuat akses pasar menjadi salah satu persoalan strategis bagi perusahaan robotik China. Jika pasar Amerika semakin sulit ditembus, perusahaan memiliki alasan lebih kuat untuk mencari pasar alternatif.

Asia Tenggara Jadi Pasar Potensial

Produsen robot China disebut mulai membidik Eropa, Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Kawasan dengan kebutuhan tenaga kerja tinggi dan pasar yang sensitif terhadap harga dinilai memiliki potensi besar.

Soumen Mandal, analis utama Counterpoint Research, menilai pola ekspansi robot humanoid China berpotensi menyerupai strategi produsen kendaraan listrik. Perusahaan membangun skala produksi di dalam negeri sebelum memperluas penjualan ke pasar luar negeri.

Setelah pasar terbentuk, perusahaan dapat mempertimbangkan produksi lokal. Strategi tersebut memungkinkan produsen mendekatkan rantai pasok dengan pasar sekaligus menekan biaya logistik.

Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah yang menarik karena memiliki basis manufaktur besar, kebutuhan tenaga kerja yang tinggi, serta perkembangan industri otomotif dan elektronik. Kondisi tersebut dapat menciptakan ruang bagi penerapan robot di sektor industri.

Persaingan Drone Mulai Terbagi Dua

Perubahan peta pasar tidak hanya terjadi pada robot humanoid. Industri drone juga mulai menghadapi pemisahan berdasarkan kebutuhan dan standar keamanan.

Bentzion Levinson, pendiri sekaligus CEO Heven AeroTech, mengatakan pasar drone mulai terbagi menjadi dua kelompok. Amerika Serikat dan negara sekutunya lebih menekankan produk yang memenuhi standar keamanan pemerintah, sedangkan China mengandalkan produksi murah dalam volume besar.

Menurut Levinson, produsen Barat sulit menandingi China dalam segmen drone konsumen berharga murah. Keunggulan manufaktur dan rantai pasok membuat perusahaan China lebih kompetitif di segmen tersebut.

Namun, produsen AS dan sekutunya memiliki peluang lebih besar dalam sistem otonom jarak jauh untuk pertahanan dan infrastruktur penting. Pada segmen tersebut, faktor keamanan dan keandalan dapat lebih menentukan daripada harga.

Baca Juga:  Kemewahan Titanium Mewarnai Xiaomi 14 Ultra: Simak Spek Dewa dan Harganya yang Menggoda!

Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan Punya Peluang

Pembatasan perdagangan juga dapat membuka ruang bagi negara lain untuk memperkuat posisi dalam industri robotik. Jepang memiliki basis kuat dalam robot industri dan manufaktur presisi.

Korea Selatan memiliki keunggulan pada elektronik, baterai, dan otomotif. Sementara Taiwan menjadi salah satu pemain penting dalam industri semikonduktor.

Namun, negara-negara tersebut tidak serta-merta dapat menggantikan posisi China. Banyak komponen yang digunakan dalam industri robotik global masih memiliki keterkaitan dengan rantai pasok China.

Karena itu, perubahan pasar kemungkinan tidak menghasilkan pemisahan total antara industri robotik China dan Amerika Serikat. Persaingan justru dapat berkembang menjadi beberapa pusat produksi dengan keunggulan yang berbeda.

Pasar Robotik Dunia Berpotensi Makin Regional

Pembatasan teknologi dan meningkatnya pertimbangan keamanan membuat industri robotik berpotensi semakin regional. Perusahaan harus mempertimbangkan bukan hanya kemampuan produk, tetapi juga asal teknologi, rantai pasok, regulasi, dan keamanan data.

China kemungkinan tetap mengandalkan skala dan harga untuk memperluas pasar di berbagai negara. Amerika Serikat dan sekutunya dapat lebih fokus pada sektor yang membutuhkan tingkat keamanan tinggi.

Di tengah persaingan tersebut, Asia Tenggara berpotensi menjadi salah satu kawasan penting bagi ekspansi robot dan drone China. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada kemampuan produsen membangun pasar, memenuhi regulasi lokal, dan mengembangkan rantai pasok di kawasan.

Iklan
Iklan