Mendiktisaintek Minta Kampus Tak Kebanyakan Prodi, Fokus Perkuat Keilmuan

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto dalam Konferensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) ke-12 di Badung, Bali, Jumat (2/10/2026)(Foto: Dok. Kemdiktisaintek)

SUARAMALANG.COM – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto meminta perguruan tinggi lebih selektif dalam membuka program studi baru. Ia mendorong kampus menggabungkan program studi yang memiliki rumpun dan keterkaitan keilmuan agar pendidikan tinggi tidak terlalu terbebani sekat administratif.

Menurut Brian, pengembangan ilmu pengetahuan tidak harus selalu diwujudkan melalui pembukaan program studi baru. Perguruan tinggi justru perlu memberikan ruang eksplorasi keilmuan yang lebih luas dengan memanfaatkan struktur yang sudah tersedia.

“Mumpung para rektor berkumpul, tolong jangan kebanyakan prodi. Pegel ngurus akreditasi. Prodi-prodi itu digabung-gabungin saja, dimerger,” kata Brian saat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia XII Tahun 2026 di Nusa Dua, Bali, Jumat (2/10/2026).

34.711 Program Studi Tercatat pada 2025

Data yang dipaparkan Brian menunjukkan skala pendidikan tinggi Indonesia cukup besar. Pada 2025, tercatat 34.711 program studi atau meningkat 2,9 persen, dengan 11,5 juta mahasiswa, 328 ribu dosen dan 2,78 juta lulusan.

Dari jumlah tersebut, bidang pendidikan memiliki 7.045 program studi dengan sekitar 3,13 juta mahasiswa. Sementara proporsi mahasiswa pada bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM), yang mencakup teknik, kesehatan, pertanian serta matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA), masih berada di kisaran 28 persen.

Brian menilai penguatan bidang keilmuan strategis perlu berjalan seiring dengan besarnya potensi pendidikan tinggi Indonesia. Terlebih, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum membuat penguatan sains fundamental semakin penting.

Baca Juga:  UMM Grand Voyage, Mendorong  Penguatan Internal dan Tiga Pilar Excellent Solution Center

“Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya. Prodi itu hanya administrasi. Jangan mempersempit keilmuan dengan sekat administrasi,” tuturnya.

Penggabungan Prodi Dinilai Tak Kurangi Mahasiswa

Brian mengatakan penggabungan sejumlah program studi tidak otomatis mengurangi jumlah mahasiswa. Ia memberikan ilustrasi lima prodi yang masing-masing memiliki 100 mahasiswa dapat dilebur menjadi satu prodi dengan total 500 mahasiswa.

Ia juga menilai bidang keilmuan pada jenjang sarjana tidak perlu dipersempit terlalu dini. Cakupan keilmuan yang lebih luas dinilai dapat memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi dan beradaptasi dengan kebutuhan berbagai sektor industri.

Perubahan tersebut juga diarahkan untuk menggeser orientasi pendidikan tinggi dari sekadar menghasilkan output menuju outcome. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, jurnal, skripsi, tesis atau disertasi.

Perguruan tinggi juga didorong menunjukkan kontribusi pendidikan dan riset terhadap penyelesaian persoalan masyarakat dan daerah.

“Outcome kita jelas, apa lulusan kita, bagaimana dampak pada masyarakat, apa persoalan daerah yang bisa diselesaikan,” kata Brian.

Kampus Didorong Perkuat Riset dan Hubungan dengan Industri

Penguatan keilmuan juga mencakup peningkatan kualitas riset dan inovasi. Pimpinan perguruan tinggi didorong membangun hubungan lebih erat dengan industri agar kampus dapat memahami perkembangan teknologi sekaligus kebutuhan dunia kerja.

Kolaborasi tersebut diharapkan membuat pendidikan dan penelitian menghasilkan solusi yang relevan dengan persoalan yang berkembang di masyarakat maupun industri.

Baca Juga:  Universitas Brawijaya Masuk 601-800 THE Asia University Rankings 2026

Brian juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas dosen dan peningkatan jumlah profesor. Perguruan tinggi diharapkan memfasilitasi pengembangan karier akademik dosen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kapasitas riset nasional.

Selain itu, perguruan tinggi kependidikan mendapat perhatian karena berperan menyiapkan guru yang mampu mengembangkan metode pembelajaran inovatif. Brian menilai inovasi pembelajaran diperlukan untuk meningkatkan minat peserta didik terhadap sains dan bidang keilmuan yang selama ini kurang diminati.

“Kita ingin pendidikan kita berdampak, kita ingin riset inovasi kita juga kuat, dan tentunya adalah bagaimana pengabdian-pengabdian juga bisa memberikan dampak yang besar,” ucap Brian Yuliarto.

Dalam konteks pendidikan tinggi, arah kebijakan tersebut menempatkan penguatan keilmuan, kualitas lulusan dan dampak riset sebagai bagian penting dari pengembangan perguruan tinggi.

Istilah program studi sendiri merujuk pada kesatuan kegiatan pendidikan dan pembelajaran yang memiliki kurikulum serta metode pembelajaran tertentu dalam suatu bidang keilmuan.