SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Sebanyak 20 mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) mengembangkan prototipe kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) untuk menjawab kebutuhan Sekolah Rakyat jenjang SD dan SMP. Proyek tersebut menjadi bagian dari Workshop 1 Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) Komdigi x Universitas Brawijaya 2026 pada 5–6 Oktober 2026.
Kegiatan di Auditorium Algoritma, Gedung G Lantai 2 FILKOM UB itu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan AI sekaligus belajar menyelesaikan persoalan nyata. Program AITF berlangsung selama satu semester melalui kolaborasi Universitas Brawijaya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Kementerian Sosial (Kemensos).
Dekan FILKOM UB Tri Astoto Kurniawan mengatakan pengalaman mengerjakan kasus nyata menjadi nilai tambah bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya mengandalkan kompetensi akademik, tetapi juga belajar menerapkan pengetahuan untuk kebutuhan pengguna.
“Pengalaman praktis yang diperoleh salah satunya dari program AITF memberikan added value kepada para pengguna lulusan,” ujar Tri.
AI Dikembangkan untuk Pantau Aktivitas Siswa
Pada AITF 2026, Kemensos memberikan use case terkait Sekolah Rakyat. Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya yang menyasar jenjang SMA, tahun ini mahasiswa mengembangkan solusi untuk peserta didik SD dan SMP.
Salah satu kebutuhan yang dikaji adalah pemantauan aktivitas siswa di lingkungan asrama. Sistem AI diharapkan mampu mengenali aktivitas tertentu dan mengirimkan notifikasi kepada wali asrama ketika terdapat kondisi yang perlu diperhatikan.
“Kalau CCTV biasa, petugas harus memandangi layar terus. Itu tidak dimungkinkan oleh para wali asrama. Dengan AI, diharapkan dapat memberikan notifikasi apabila terdapat aktivitas yang perlu diperhatikan,” jelas Tri.
Solusi yang dikembangkan tetap mempertimbangkan karakteristik peserta didik usia SD dan SMP. AI juga berpotensi digunakan untuk mendukung pembelajaran, seperti chatbot bagi siswa serta perangkat yang membantu guru membuat materi, soal, dan kuis.
Prototipe Akan Diuji di Bogor, Bekasi, dan Depok
Ketua Panitia Workshop 1 AITF Rizal Setya Perdana menjelaskan, program tersebut dirancang untuk membentuk talenta yang menguasai AI sekaligus memiliki pengalaman mengerjakan kasus nyata.
AITF berlangsung melalui tiga workshop. Tahap pertama berfokus pada pemahaman masalah, eksplorasi kebutuhan, dan rancangan solusi. Pengembangan kemudian dilanjutkan berdasarkan masukan mitra hingga tahap demonstrasi.
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Komdigi Gunawan Hutagalung menilai pendekatan berbasis use case penting karena kebutuhan AI semakin spesifik. “AI ini sangat customized. Sekarang kita melakukan customization untuk Sekolah Rakyat,” ujarnya.
Untuk kebutuhan Sekolah Rakyat, prototipe mahasiswa FILKOM UB masih berada pada tahap pengembangan. Kemensos selanjutnya berencana melakukan uji coba di Bogor, Bekasi, dan Depok dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur pendukung AI.
Jika hasil uji coba dapat dikembangkan dengan baik, prototipe tersebut berpeluang diteruskan menuju tahap implementasi. Bagi FILKOM UB, proses ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman melalui konsep teaching factory, sekaligus mempertemukan mahasiswa dengan kebutuhan nyata pemerintah dan masyarakat.














