Kelompok 43 FISIP UB Bakti Desa Optimalkan Manajemen Tambak Ikan Desa Sumberdem untuk Atasi Masalah Pembukuan

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Kelompok 43 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Bakti Desa Arcapada 2026 menjalankan program optimalisasi manajemen pengelolaan tambak ikan di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

Koordinator Kelompok 43 FBD Arcapada 2026 Ayyash Musyari Prawira menyampaikan, program optimalisasi manajemen pengelolaan tambak ikan di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari berlangsung sepanjang bulan Juli 2026. Kegiatan ini berfokus pada pembenahan pembukuan berupa tata kelola administrasi dan revitalisasi visual untuk Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) setempat.

“Kami berfokus pada inti masalahnya, yaitu pembuatan buku pencatatan manajemen
pengelolaan tambak yang sistematis serta revitalisasi banner infografis budidaya di
area tambak,” ungkap Ayyash, Sabtu (15/8/2026).

Ia menjelaskan, kehadiran program ini bermula dari aspirasi Kepala Desa Sumberdem Purwati bersama Kepala Dusun Sumbergelang Isnurhadi, serta salah satu pendiri Pokdakan yakni Sukadianto.

Di mana sejak dirintis pada tahun 2019, Pokdakan kerap menghadapi kendala manajerial serius. Minimnya sistem pencatatan keuangan dan pembukuan yang terstruktur berdampak pada kerugian finansial, bahkan hingga memaksa operasional tambak berpindah lahan beberapa kali.

Merespons permasalahan mendasar tersebut, Kelompok 43 FBD Arcapada 2026 hadir membawa solusi konkret. Sejak pekan kedua hingga pekan keempat masa Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa gencar menggelar daily sharing session bersama para pengurus inti Pokdakan. Di antaranya Ketua 1 Murdi, Ketua 2 Sukadianto, Bendahara 1 Meseri dan Isnurhadi selaku anggota. Tak hanya berdiskusi, para mahasiswa juga terjun langsung melakukan kerja bakti pembangunan fisik di area tambak guna mempererat kedekatan dengan warga.

Pada akhirnya, para mahasiswa dapat memberikan solusi konkret untuk mengatasi permasalahan pembukuan, melalui pembuatan buku pencatatan manajemen
pengelolaan tambak yang sistematis serta revitalisasi banner infografis budidaya di
area tambak.

Baca Juga:  Seragam Gratis Dipangkas, Pemkot Malang Kini Hanya Sasar Siswa Miskin

Di mana semuanya akan tercatat secara sistematis, termasuk di dalamnya terkait penghasilan hasil panen pada periode sebelumnya yang ditetapkan sebagai modal awal untuk periode berikutnya. Pencatatan juga mencakup berbagai biaya operasional, seperti sewa lahan dan pembelian pakan, hingga penghasilan yang diperoleh dari hasil panen pada periode berjalan. Dengan adanya pencatatan tersebut, pengelola tambak dapat memantau perputaran modal dan pemasukan serta pengeluaran usaha secara lebih terstruktur.

“Sebagai bentuk dukungan terhadap pengenalan dan promosi potensi Pokdakan,
kami turut membuat banner infografis yang memuat informasi mengenai komoditas budidaya yang dikembangkan, yaitu ikan mas, ikan nila merah dan selada air,” ujar Ayyash.

Banner tersebut dirancang untuk memberikan informasi secara singkat dan menarik mengenai masing-masing komoditas, mulai dari karakteristik hingga manfaatnya bagi masyarakat. Melalui media informasi ini, diharapkan potensi hasil budidaya Pokdakan dapat lebih mudah dikenal oleh masyarakat sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai manfaat komoditas yang dikembangkan.

“Saya selaku koordinator merasa bangga, senang, dan haru atas diterimanya kami di desa
ini dengan sangat hangat. Warga, perangkat desa, serta pengurus Pokdakan sangat terbuka untuk berdiskusi, sehingga memudahkan program kerja yang kami canangkan. Harapan besar kami, apa yang telah kami berikan dapat terus memberikan kebermanfaatan jangka panjang bagi Desa Sumberdem,” jelas Ayyash.

Langkah solutif ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh masyarakat yang melakukan budidaya ikan. Sebelum intervensi mahasiswa, pembukuan tambak hanya mengandalkan catatan manual tulis tangan yang tidak beraturan di kertas seadanya. “Kehadiran buku manajemen baru dinilai menjadi titik balik perbaikan tata kelola kelompok tani tersebut,” imbuh Ayyash.

Baca Juga:  Mengajar Hanya 1 Siswa, Kisah Guru di SD Malang Ini Bikin Haru

Sementara itu, Bendahara Pokdakan Meseri mengucapkan terima kasih dan merasa sangat bersyukur dengan adanya solusi konkret dari Kelompok 43 FBD Arcapada 2026 untuk mengatasi permasalahan pembukuan di Pokdakan.

“Saya sangat senang adik-adik turut membawa solusi dengan buku ini. Harapan saya, apa yang adik-adik berikan semoga bermanfaat untuk kelanjutan tambak kami di generasi-generasi kedepannya,” tutur Meseri.

Selain itu, Kepala Desa Sumberdem Purwati juga mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kerja keras para mahasiswa selama satu bulan penuh yang tergabung ke dalam Kelompok 43 FBD Arcapada 2026 dalam memberikan solusi kepada masyarakat di Desa Sumberdem.

“Terima kasih adik-adik, kami tidak meminta apa-apa tapi adik-adik memberikan yang
luar biasa,” kata Purwati.

Menurutnya, melalui sinergi antara akademisi dan masyarakat ini, Pokdakan di Desa Sumberdem kini memiliki fondasi manajemen yang lebih kokoh. Sistem pencatatan yang rapi diharapkan mampu menyudahi rentetan kerugian di masa lalu dan membawa budidaya ikan lokal menuju tata kelola yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Iklan
Iklan