SUARAMALANG, Kabupaten Malang – Inovasi pertanian dari Kabupaten Malang berpeluang menjadi salah satu pengungkit peningkatan produktivitas padi di Jawa Timur. Varietas padi hasil temuan petani di Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, kini telah mengantongi Surat Keputusan (SK) Pelepasan Varietas dari Kementerian Pertanian RI.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Saniputra menyampaikan, kepemilikan SK Pelepasan Varietas Padi Sukma dari Kementerian Pertanian RI ini menjadi dasar penting bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang dan kelompok tani untuk melangkah ke tahap pengembangan benih sumber sebelum varietas tersebut diperbanyak dan disebarluaskan kepada petani.
“Alhamdulillah, Padi Sukma sudah keluar SK Pelepasan Varietas dari Kementerian Pertanian dan saat ini kami sedang menyiapkan benih sumber. Benih sumber ini nantinya akan kita gandakan dan siapkan untuk disebarkan,” ujar Avicenna kepads Suaramalang.com, Rabu (16/9/2026).
Avicenna mengatakan, SK Pelepasan Varietas Padi Sukma dari Kementerian Pertanian RI tersebut disebut telah diterbitkan pada awal Agustus 2026. Pemkab Malang menargetkan proses pengembangan benih dapat berjalan sesuai rencana sehingga varietas padi ini berpotensi diperkenalkan secara lebih luas pada akhir musim tanam 2027.
“Insya Allah akhir musim tanam tahun 2027 sudah bisa kita launching. Untuk musim tanam itu sekitar Oktober 2027 mendatang,” tutur Avicenna.
Potensi varietas Padi Sukma asal Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang ini terlihat dari capaian produktivitas yang telah diperoleh dalam pengujian. Produksi tertinggi disebut mampu mencapai 14 ton per hektare.
Angka tersebut berada di atas rata-rata produktivitas padi Kabupaten Malang yang selama ini berada di kisaran 7 ton per hektare. Sementara itu, produktivitas padi di tingkat nasional dan Provinsi Jawa Timur disebut mencapai sekitar 5,2 ton per hektare.
“Padi ini ditemukan di Kabupaten Malang dan produksinya luar biasa. Tertinggi sudah mencapai 14 ton. Rata-rata Kabupaten Malang selama ini sekitar 7 ton, sedangkan nasional dan Jawa Timur 5,2 ton,” beber Avicenna.
Capaian tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan varietas lokal. Namun, produktivitas tinggi dalam tahap pengujian tetap perlu dibuktikan melalui penanaman berulang di berbagai kondisi lahan agar manfaatnya dapat dirasakan secara konsisten oleh petani.
Pemerintah berharap varietas tersebut mampu menghasilkan produktivitas rata-rata 10 ton per hektare apabila dikembangkan secara optimal. “Harapan saya, nanti kalau varietas ini bisa menghasilkan 10 ton saja, dibandingkan dengan 7 ton yang sekarang, peningkatan produksi kita bisa mencapai 30 persen. Itu luar biasa,” kata Avicenna.
Lebih lanjut, pengembangan varietas Padi Sukma ini dilakukan dengan melibatkan kelompok tani di Desa Kasembon, Kecamatan Bululawang, yang menjadi lokasi asal temuan varietas tersebut. Pada tahap penyiapan benih sumber, proses pengembangan juga melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sementara itu, keterlibatan perguruan tinggi masih terbuka untuk mendukung pengembangan lebih lanjut.
Selain persoalan produktivitas, aspek kestabilan kualitas benih menjadi perhatian dalam proses penelitian. Varietas padi tersebut memiliki umur tanam sekitar 115 hari. Pengujian lanjutan diperlukan untuk memastikan kualitas varietas tetap terjaga setelah ditanam berulang kali dalam beberapa musim tanam.
“Ini masih kita teliti karena belum sampai ke tahap itu. Namun, menurut pengalaman teman-teman, varietas ini masih cukup stabil dan bagus. Penurunannya tidak terlalu banyak,” jelas Avicenna.
Sementara itu, dengan diterbitkannya SK Pelepasan Varietas dari Kementerian Pertanian RI, pengembangan Padi Sukma memasuki fase baru. Tantangan berikutnya bukan sekadar memperbanyak benih, melainkan memastikan varietas tersebut mampu memberikan produktivitas yang stabil, berkualitas dan menguntungkan petani ketika dikembangkan secara lebih luas.
“Keberhasilan pada tahap tersebut akan menjadi penentu sejauh mana inovasi pertanian lokal ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan produksi pangan dan penguatan sektor pertanian Kabupaten Malang,” pungkas Avicenna.














